Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[No title]

FIRASAT
Seorang muslim haruslah memiliki sebuah firasat yang kuat ketimbang firasat seorang manusia rata-rata. Artinya, firasat seorang muslim haruslah lebih peka, terhadap hal-hal disekitarnya untuk kemudian menerjemahkan irasar itu menjadi kepedulian antisipasi yang lebih ketimbang hanya sekedar firasat (yang dimiliki oleh manusia biasa). Kemampuan day abaca dan analisa. Memiliki sense yang tajam dengan sekelilingnya. Dengan apa yang akan terjadi (prediction). Namun, kepekaan ini aka nada dan terasah jika diwarnai dengan dengan sibghah Allah.



“Shibghah Allah Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (2:138)
Lebih dari sekedar firasat (sebuah kepastian), ini adalah tentang mata bathin (bashirah) seorang mukmin, bahkan seperti yang diingatkan oleh Al Qur’am Surat At Taubah tentang kerisauan Rasulullah dengan kondisi kita:
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (009:128)
Jauh-jauh hari, sekitar 14 abad yang lalu, seorang ummi. Bahkan mampu menembus waktu, memiliki prediksi suatu kondisi yang akan terjadi, yang akan dialami oleh umatnya; kita.
Lalu, sabda-sabda Rasulullah yang rasanya sulit dpercaya apalagi direalisasikan.
“Konstantinopel akan ditaklukkan, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang ikut membebaskannya dan sebaik-baik komandan adalah komandan yang membebaskan Konstantinopel”.
Dan mimpi Rasulullah ini baru terealisasi 8 abad kemudian, tetapi sebelum itu sudah ada usaha-usaha menuju pembebasan Konstantinopel. Tetapi, mimpi Rasulullah ini, diwujudkan oleh seorang  anak muda yangberusia 23 tahun; Muhammad Al Fatih.

Lihat, seberapa jauh firasat Rasululllah mampu menembus waktu jauh di depannya. Tua usia bukan menjadi halangan seseorang untuk memiliki kepekaan firasat ini. Abdul Muthalib pun memiliki anugerah ini. Pada saat Nabi Muhammad kecil, ia sering dibawa kakeknya ikut dalam rapat-rapat pemimpin Quraisy. Adalah aib jika membawa anak kecil dalam rapat-rapat kaum Quraisy. Tapi ketka ditegur oleh kaumnya, Abdul Muthalib berkata: “Biarkanlah ia ikut bersamaku. Aku yakin cucuku suatu waktu akan menjadi pemimpin yang besar”. Abdul Muthalib mampu melihat tanda-tanda dan ini adalah sense of capacity; kepekaan  melihat kapasitas (bakat).
Di zaman modern ini pun, masih ada orang-orang terpilih memiliki firasat yang luar biasa. Yang memberikan kekuatan untuk mampu memprediksi kemungkinan yang akan terjadi terhadap apa yang akan terjadi. Sekali lagi, prediksi. Imam Hasan Al Banna tentang  Sayyid Qutub. Sebelum Sayyid Qutub menjadi kader IM, , Sayyid Qutub menulis makalah sebuah surat kabar mingguan di mana dia menyerukan kepada para wanita muslimah untuk membuka auratnya, karena menutup aurat dianggap olehnya sebagai penghambat kemajuan wanita. Tulisan ini dibaca oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud (tokoh IM-waktu itu)  dan beliau membuat tanggapan. Tapi sebelum tanggapan ini dimuat di media massa, Ustadz Abdul Halim mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Imam Al Banna. Kata Imam Al Banna: “Saya menyetujui 100 % tulisan kamu, tapi saya memiliki perasaan lain tentang orang ini, berilah beberapa pertimbangan:
Pertama: Dia masih muda, dan apa yang ditulisnya bukanlah dari otaknya sendiri, tapi dari lingkungannya.
Kedua: Anak muda biasanya menyenangi sensasi dan mencari musuh, apa yang dilakukan Sayyid Qutub oleh Imam Al Banna dinilai sebagai upaya mencari eksistensi diri.
Ketiga: karena dia masih muda, kita masih memiliki harapan, siapa tahu dia akan menjadi pemikul beban da’wah.
Pertimbangan yang lain, kata Imam Al Banna, dia (Sayyid) menulis di surat kabar yang tidak terlalu terkenal di Mesir ini. Kalaupun dikenal, makalah atau kolom, umumnya tidak terlalu menarik perhatian orang banyak untuk membacanya, apalagi kalau ditulis oleh seorang pemula yang belum memiliki nama. Kalau kita menanggapinya, orang-orang yang semula tidak tahu menjadi ingin mengetahuinya, dan orang-orang yang mungkin pernah membaca secara selintas akan mengulang kembali membacanya untuk mengenali muatan tulisan tersebut. Tujuan anak muda ini menulis adalah untuk mendapatkan serangan atau tantangan dari khayalak yang dengan serangan itu akan menaikkan dan mengangkat namanya. Imam Al Banna berkata lagi: “Kalau kita bantah tulisan itu, kita berarti menutup kesempatan diri pemuda itu untuk bertobat karena orang cenderung untuk membela diri jika kesalahannya diluruskan, apalagi bila pelurusan itu dilakukan di depan umum, ia akan membela dirinya mati-matian, meskipun dalam hati kecilnya ia menyadari kesalahan atau kekeliruannya. Dengan demikian, kalau tanggapan itu kita lakukan, berarti kita telah menutup kesempatan bertaubat bagi dirinya”.
Akhirnya Imam Al Banna mengatakan: “Wahai Mahmud, inilah pandanganku tentang orang ini, akan tetapi, kalau engkau tetap ingin mengirimkannya, silahkan saja”.Ustadz Mahmud setuju untuk meninjau kembali rencana pengiriman tulisan itu, sehingga akhirnya tulisan itu tidak jadi dikirim. Dan pada akhirnya, terbuktilah kebenaran perasaan Imam Al Banna, sebab pada akhir perjalanan hidupnya, Sayyid Qutub menjadi penopang dan pemikul beban da’wah dan iapun bergabung dengan jama’ah ini.
Hal itu merupakan bagian dari firasat seorang mukmin yang dimiliki oleh Imam Al Banna.
Sekarang, akankah kita bisa memiliki firasat-firasat luar biasa seperti orang-orang tersebut di atas? Mungkin bisa, munkin juga sulit. Karena untuk memiliki firasat seperti itu, bahan dasar dan ‘asahan’ atau celupan bahan itu yang menentukan, tetapi apa yang tidak bisa jika Dia menghendaki.
Maka, mari memohon kepada Allah agar diberikan keterangan jiwa dan kecemerlangan firasat.
wisma iqra, 26022010 07:26 WIB


Post a Comment for " "

Berlangganan via Email