Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[No title]


Seandainya Edward Cullen gak ganteng,


Tulisan mbak Maya Lestari GF
Seandainya Edward Cullen gak seganteng, sedingin en semisterius itu, pastinya Twilight Saga gak bikin cewek-cewek gila. Tapi, oh, no…dari penggambaran Stephenie Meyer aja dia udah tampak mempesona, apalagi begitu diwujudkan dalam sosok Robert Pattinson–yang jujur aja sebenarnya gak lebih ganteng dari cowok-cowok beken Hollywood lainnya, tapi berkat riasan yang sempurna dia tampak seperti pangeran dari negeri antah berantah. Jadi, berkat formula: Robert Pattinson+riasan wajah plus akting yang dingin kaku+kemisteriusan sosok Edward Cullen+kekayaan yang enggak habis dimakan tujuh belas keturunan+ketangguhan yang jantan nian+kejeniusan, maka jadilah Twilight Saga sebagai dongeng-luar-biasa-tentang-cinta-dan-perlindungan-akan-kerapuhan-yang-para-cewek-inginkan-terjadi-terhadap-dirinya. Hwueeeeh…emang dongeng niaaaaan!! Mendapatkan lelaki begitu ganteng, kaya dan kuat yang bisa menderita dan terluka begitu dalam hanya karena cinta? oh, menakjubkan sekali untuk didengar. Wish you were real, Edward! you would be loved, though you’re a vampire!!
Twilight memang novel cinta yang menakjubkan, meskipun formula dasarnya sama aja dengan kisah-kisah cinta yang lain: sepasang manusia jatuh cinta, menemukan pertentangan, perjuangan untuk bersatu, akhir yang membahagiakan/menyedihkan. Kelebihannya, Stephenie Meyer memberi tambahan rasa pada ‘kuenya’, yakni vampire. Maka kisah cinta+vampire menjadi kekuatan pemikat yang dahsyat, sedahsyat bom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.
Kisah cinta Bella Swan–seorang gadis biasa, dengan Edward Cullen si vampire memang menarik diikuti–sekaligus bikin penasaran gimana endingnya. Berbagai kesalahpahaman yang awalnya terjadi antara Bella dan Edward–anehnya berbuah pengertian dan akhirnya cinta. Romantis rasanya membayangkan Bella Swan menatap kekasihnya yang bersinar-sinar bagai berlian di bawah matahari dengan penuh cinta. Juga luluh rasanya hati membayangkan betapa kuatnya cinta Edward Cullen pada bella, karena ia telah menunggu gadis itu hadir dalam hidupnya selama puluhan tahun. Sebagai makhluk yang ditakdirkan abadi, ia memang harus bersabar menunggu datangnya belahan jiwa. ooooh, romantis nian, bikin termehek-mehek. Ternyata makhluk–sehaus darah apapun dia, membutuhkan belahan jiwa untuk melengkapi hidupnya yang gersang. Dan…oh…itulah sebabnya mengapa Edward Cullen rela menahan diri untuk tidak meminum darah Bella Swan, karena takut gadis itu akan mati, dan belahan jiwanya lenyap.
Twilight Saga, sampai Twilight, sempurna menurutku. Dia sudah klimaks, sudah luar biasa, sudah ….sudah…ah, pokoknya begitulah. Ibarat gunung, Twilight berhasil menyampaikan pendakinya pada puncak. Pembacanya sudah puas, sebab dari puncak itu ia bisa melihat hamparan alam luar biasa indahnya.
Lalu tiba-tiba hadir New Moon, lanjtan Twilight. Cinta demikian kuat antara Bella dan Edward Cullen yang terpatri di benak ‘para pendaki gunung Twilight’ mendadak buyar karena hadirnya manusia srigala bernama Jacob. What? kok bisa gitu? lalu cerita tambah garing di Eclipse dan Breaking Dawn. Bagaimana bisa Stepehenie Meyer membiarkan Bella berasyik masyuk dengan Jacob, bahkan–sory, membiarkan Jacob mengecup lembut bibir Bella dan Bella menerimanya dengan penuh kepasrahan. Sintingnya di Breaking Dawn seolah ada perestuan terhadap poliandri saat Edward memberi izin pada Jacob untuk membuahi Bella. Benar-benar imaji buruk untuk cinta sejati. Ternyata ada juga lelaki yang bersedia berbagi ranjang. Alasan utama Edward adalah: daripada Bella menderita karena mengandung anak seorang vampire, biar si cantik yang rapuh mengandung anak srigala saja. Sebab, Edward sudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa seriusnya penderitaan Bella saat mengandung vampire. Pastilah, kalau yang dikandungnya anak srigala, Bella takkan semenderita itu. Ini cinta atau ketololan? ah, seberapa hebatpun alasan Stephenie Meyer untuk menciptakan kisah itu, yang jelas  bangunan cinta sejati di benak para pendaki Twilight hancur sudah. Keindahan cinta, bayangan keterpesonaan Bella Swan akan keindahan Edward Cullen (ternyata lelaki juga bisa tampak begitu indah–enggak sekadar jantan), menjadi rapuh puh puh. Tak bisa diterima bagaimana di episode pertama, si Bella yang kelihatannya mampu menghancurkan karang dengan giginya–demi cinta pada Edward, bisa berpaling ke manusia serigala (astaga, Bella Swan ini emang gak normal. Setelah jatuh cinta ama vampire, sekarang ama manusia serigala), lalu membagi separo hatinya untuk Jacob–meski di akhir cerita dia memilih Edward. Itu bukan cinta sejati namanya. Sebab cinta sejati gak kenal mendua. Cinta sejati adalah cinta yang utuh, meski yang dicintai udah pergi jauuuuuuuuuuuuh gak kembali. Cinta sejati itu seperti cintanya Majnun pada Laila. Meski Majnun dipisahkan dari Laila, tapi cintanya tak terbagi. Ia terus menyalakan api cintanya pada Laila, sehingga dunia pun terbakar bersamanya. Itulah yang namanya cinta. Dan itulah yang membuat dunia tiba-tiba jadi merana begitu membicarakan betapa besar cinta Majnun pada Laila.
Akan halnya Twilight….ah ….dia menarik selama –kukira–tidak baca tiga episode lanjutannya. Biar saja keabadian cinta Edward dan Bella bermain saja dalam ruang imajinasi kita. Itu akan membuatnya tak lekang oleh waktu. Mengutip Shakespeare: cinta sejati adalah cinta yang tak pernah bertemu. Karena itulah dia mematikan Romeo n Juliet, dan membuatnya abadi dalam imajinasi kita.
Jadi, abadikan saja kisah cinta Bella dan Edward dalam benak kita dengan mengingat apa yang diucapkan Edward pada Bella di Twilight.
“Tak cukupkah aku untukmu?”
“Ya. Kau cukup untukku.”

Post a Comment for " "

Berlangganan via Email