Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[No title]



Aids, begitu juga dengan perbuatan dosa lainnya memiliki alas an atau sebab si pelau untuk melakukannya. Layaknya melakukan perbuatan dosa lainnya, sebab hingga terkena aids pun tidak beda jauh. Diantaranya :
1. Kurang pengetahuan
Tidak tahu bahwa dengan melakukan suatu perbuatan maka akan dapat mendatangkan suatu akibat. Minimnya ilmu pengetahuan menjadi sebabnya. Karena tidak tahu, maka melakukan dan akhirnya mengakibatkan terkena (penyakit).
2. Minimnya kepahaman tentang agama.
Adanya larangan agama tentang perbuatan dosa, ketika dipahami oleh individu dengan kepahaman agama yang mendalam, mendorong seseorang untuk menjauhi apa yang dilarang tersebut. Entah sampai atau belum pikirannya dalam mencerna. Entah masuk logika atau tidak. Yang pasti, ketika meyakini bahwa landasan hidup berkata demikian, pastilah ada sesuatu yang baik dibelakang perintah atau larangan tersebut. Perkara masuk akal tidak, tidak terlalu penting. Karena perintah adalah untuk dipatuhi.
3. Kecelakaan.
Ada beberapa kasus, yang ini adalah diluar kehendak/kuasa manusia. Ia hidup sehat, agama pun dijalankan. Namun, karena pihak (tangan) lain, bias jadi kelalaian yang menyebabkan seseorang terkena aids. Salah satu sarana/cara menyebabkan seseorang terkena aids adalah pemakaian (misalkan) jarum suntik yang sebelumnya dipakai oleh penderita aids. Nah, kejadian seperti ini bias saja terjadi misalkan disebabkan kelalaian dokter atau petugas yang menyuntik.
4. Pergaulan
Pergaulan kebablasan yang sring kali hanya karena teman dan ingin dianggap hebat hingga melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Dalam hal ini, lingkungan (manusia) sangat berpengaruh. Terlebih, penderita kebanyakan adalah anak muda; batasan umur manusia yang produktif dan disaat itu sedang dalam masa pencarian jati diri.
Dari 3 sebab-sebab yang dapat mengarah pada terkena aids, maka ketiganya harus diperhatikan untuk kemudian dikondisikan sedemikian rupa sehingga tidak akan terkena aids, kecuali kecelakaan, yang itu diluar batas kemampuan kita.
Factor agama-lah yang harus mendapatkan porsi lebih. Ini berkaitan dengan kesadaran diri. Dimana, factor intern akan lebih permanen sifatnya dalam memotivsi, dan tidak akan menguap semangatnya.

Post a Comment for " "

Berlangganan via Email