Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[No title]

Ada pertanyaan dari seorang kawan, dia bingung kenapa dia diamanahi atau ditempatkan di bidang tertentu. Padahal ia merasa ia lebih baik dibidang lain.
Jawab :

Pertimbangan seseorang diberi amanah atau jabatan tertentu adalah karena dua sebab, yaitumampu dan mau. Kadang keduanya, kadang salah satunya.
Pertama, karena seseorang dirasa mampu dengan amanah tertentu, orang percaya dengannya maka ia diamanahi dengan jabatan tertentu. Orang percaya dengan kapasitasnya. Ada kalanya diri menilai, merasa tidak mampu. Tapi, dengan pengalaman empiris di lapangan, orang lain justru menilai dia mampu. Maka sebaiknya, kita harus percaya dengan kepercayaan yang diberikan oleh oranglain. Jadi, terimalah amanah itu.
Kedua, orang itu mau. Kalau seseorang dianggap mampu akan tetapi dia tidak mau, maka tidak ada gunanya kemampuan yang dinilai oranglain. Jadi, kemauan adalah kuncinya.
Sebab, kemampuan dapat dibentuk atau terjadi seiring dengan waktu. Keberjalanan tanggungjawab atas amanah, akan memunculkan potensi. Dari yang tidak bisa,menjadi bisa, dari yang tidak mampu menjadi mampu. Dan sudah banyak contohnya. Orang yang mulanya merasa tidak mampu, seiring berjalannya waktu dia mau berusaha, maka akhirnya dia mampu. Atau, orang yang pada mulanya diragukan tentang kemampuannya. Ternyata pada akhirnya, kemampuannya muncul dan berkembang dengan baik.
Atau mungkin, karena tidak ada orang lain yang dipandang mampu selain engkau. Justru, berbahagialah menjadi yang istimewa; tidak banyak yang berani dan mau menerima amanah itu.
Atau, tidak ada yang akan diamanahi selain engkau. Misalkan karena keterbatasan SDM. Barangkali, ada skenario Allah. Yang justru dengan amanah yang pada mulaya engkau ragukan, justru dengan amanah itu potensimu muncul. Kemampuanmu terkuak. Sekali lagi, banyak contohnya. Dari yang tidak bisa apa-apa, menjadi menguasai. Bahkan ahli.
Sebab, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216 :
“... boleh jadi engkau tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Post a Comment for " "

Berlangganan via Email