Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Migrain



Terik panas sepakat dengan lapar mendukung migrain. Sakit kepala yang sudah lama bersemayam di kepala ku tak juga bosan untuk pergi. Dan siang ini, kembali bertamu migraine. Selepas maen futsal sekitar jam Sembilan pagi tadi yang menguras tenaga karena 4 kali ganti lawan. System permaenan futsal tadi karena banyak yang antri akan main juga, maka bagi yang kalah dia harus keluar lapangan, diganti dengan pemain yang baru. Tim kami menang terus, jadi tidak ada pergantian di tim kami. Mulanya merasa bangga karena pertanda kami hebat, tak terkalahkan. Usai main futsal, barulah kelelahan ditambah jam makan pagi diundur, menjadikan migraine berani untuk datang.
Migraine ini telah lama bersemayam. Sejak SMP dan aku kini kuliah pada semester sepuluh. Itu artinya, sudah tiga belas tahun aku dan migraine menjalin hubungan parasitisme. Satu diuntungkan, satu dirugikan.
Baru satu tahun ini aku agak mengindahkan migraine ini. Dulunya aku nggak peduli dan menganggap pusing kepala biasa. Barulah aku khawatir dengan migraine ini, bahkan baying-bayang kanker otak atau apalah yang mungkin menghinggapi.
Rasanya cenat-cenut. Bergerak sedikit saja seolah nadi di kepala berenyut lebih kencang. Jika mendapat tekanan yang lebih, maka kepala seakan bertambah berat dan mau  meledak. Bahkan seakan bunyi denyut nadi terdengar. Jika demikian, aktivitas apapun terasa tak enak dilakukan. Shalat sunnah biasanya tidak dilakukan. Mengingat, jika sujud dan saat itu kepala dibawah maka tekanan di kepala bertambah, sebanding dengan bertambahnya konsentrasi migraine di kepala.
Pernah ada yang mengusulkan rontgen saja di rumah sakit. Zahra, anak Farmasi 2004.
“Coba diperiksa ke dokter. Mungkin bukan sakit kepala biasa”
“Hm…bolehlah..kapan-kapan”
“Eh, segera saja. Tanda-tanda fisik ada? Coba lihat di jari tengah tangan kananmu. Ada kerutan disana?
“Iya..ada. kenapa tu?”
“Itu tandanya kau kekurangan cairan. Kurang banyak minum ya..”
“Kayaknya iya..aku gak terlalu suka minum. Sekitar 4 gelas ja sehari”
“Hah…? Tu iya lah…setidaknya kita harus minum air dua liter sehari. Setara dengan 8 gelas”
“Ups…hehe…” aku hanya bisa tertawa. Hmm…jadi selama ini…?
“Nah, mulai sekrang rajin-rajin minum air putih ya… Jangan lupa, minimal dua liter per hari”.
“Ok bos..”
Zahra, mahasiswi Farmasi angkatan 2004. Asal dari Padang. Kami se-tim KKN 2009. Kala itu aku kepala Jorongnya. Hingga kini kami masih berkomunikasi antar mahasiswa KKN terutama se-Jorong. Seperti percakapan di atas. Kami ketemu di kafe farmasi saat itu. Aku mendahului curhat tentang migrainku. Barangkali dia ada solusi.
Pernah pula, ada kawan yang mnyarankan agar mencoba berbekam. Pengobatan ala Nabi. Arman, anak Payakumbuh. Antropologi 2006. Sama di kepengurusan BEM.
“Gak ada salahnya coba bekam, kawan.. “
“Hiy..takut darah dihisap kayak gitu..”
“Kalau takut darah, pake akupuntur aja”
“Pake jarum? Nggg…”
“Pijat refleksi aja. Tapi memang gak seefektif bekam. Ayolah kawan…Jangan ngeyel… Jasad punya umat, yang masih dipakai lama. Beta banget sama migraine…setia nih ye..”
“bentar, kalau sakit kepal, bagian mana yang dibekam?”
“Hm…satu ditengkuk, leher bagian belakang dua, di bahu, tulang punggung. Tambah di puncak kepala..dan…”
“Stop ! stop ! habis tubuhku di bekam gitu”
“Yee…mau sehat nggak ? Itu belum lagi, kalau mau dijidat juga gak papa. Biar tambah cespleng”
“Huff… kayak apa jadinya kepalaku nanti.  Ngg…langsung sembuh nanti”
Kawan ku mau njitak kepalaku, yang terbaca olehku dan langsung ku menghindar
“Emang sihir..? langsung sembuh. Tapi insyaAllah, biasanya ada perubahan berangsur lah..”
“Kalau nggak sembuh dan tambah parah migrain-nya, ada garasi-nya?
“Garasi mah untuk nyimpen mobil, kawan. Ada kok garansinya. Bekam lah woi..”
Provokasi untuk bekam terus dilancarkan oleh temanku. Meski dia bukan pembekam. Berarti niat dia tulus. Kecuali ujung-ujungnya harus bekam ke dia, patut aku curiga. Iklan.
Diujung pembicaraan, aku bertanya berapa lama prosesi bekam. Karena aku gak punya banyak waktu, kataku ke dia.
“Banyak gaya kamu mah…sejam aja kok. Coba aja dulu, nggak ada salahnya kan”
Akhirnya “Ok lah..akan aku usahakan. Kemana aku harus berbekam? Minta alamatnya dong”
“Datang ja ke klinik. Ini alamatnya”
Ia mengangsurkan sebuah kartu nama. Alamat klinik berbekam lengkap dengan petugas bekam, eh tukang bekamnya. Ia memang sudah pernah berbekam di sana. Bedanya ia untuk kesehatan, sementara aku untuk mengobati penyakit.


Senin pagi. Masuk kantor pukul 08.00 sudah stand by untuk upacara bendera.jadi teringat waktu SD. Sekitar 30 menit lamanya upacara dilakukan. Pagi ini ada jadwal liputan ke Pariaman. Penyerahan bantuan dana pembangunan SDN 07 Nan Sabaris, Padang Pariaman. SD terparah di Padang Pariaman akibat gempa September 2009. Berangkat pukul 09.00. perjalanan memakan waktu sejam., dengan mengendarai motor. Hari itu aku puasa. Meski ragu, sebab minggu ini migraine kambuh karena telat makan. Telat makan saja bisa migraine, apalagi tidak makan karena puasa. Memang kadang-kadang migrain kambuh. Di bulan ramadhan juga lebih banyak tidak datang migrain. Sekitar empat kali-lah. Meyakin-yakinkan diri, bahwa bukan kali ini saja aku puasa. Dan padanya, ada migraine yang menyapa dan ada yang tidak.
Memasuki bandara Internasional Minangkabau, mendekati plang BIM mendadak tekanan di dalam hidung ingin menyentak keluar. Bersih dengan sekeras-kerasnya. Saking kerasnya, pening kepalaku dibuatnya. Tak cukup sekali bersih, hingga tiga kali bersin. Pada kali ketiganya, terasa ada yang keluar dari hidungku. Aku perlu menepikan GL-Max ku. Kebetulan aku di lajur kiri, jadi bisa segera saja menepi dan berhenti.
Ku buka helm. Agak susah. Bau aneh tercium. Susah payah, helm berhasil ku buka. Ku raba hidungku, mungkin ingus tapi kok baunya aneh. Dan, aku terperanjat. Ternyata darah. Darah keluar dari hidungku pada waktu bersin tadi. Saat aku menunduk, darah kembali keluar. Semakin amis baunya. Mendadak kepala terasa berat. Dan aku limbung. Aku tak kuasa lagi bahkan menopang tubuhku sendiri. Belum sempat standar motor dipasang, dan aku jatuh bersama motor. Sepuluh detik mungkin aku masih bisa melihat helm di atas spion kini bergulingan di aspal lajur kiri BIM. Bumi terasa berputar, enuh bintang. Kemudian gelap. Aku tak sadarkan diri.
Waktu ku sadar, yang kulihat ruangan serba putih dan beraroma obat. Tak jelas aku di M Djamil atau Ibnu Sina. Samar-samar terdengar suara berat laki-laki. Perlahan pandanganku dan suaraitu  makin jelas.
“Mohon segera hubungi keluarganya. Karena sesegera mungkin kita adakan operasi. Kanker otak stadium III. Sudah parah”
Aku tak tahu lelaki itu yang ku kira adalah dokter, berbicara dengan siapa. Yang ku rasakan adalah dompet di saku kanan belakangku sudah tidak ada. Apa tadi…? Kanker otak stadium tiga? Seketika aku teringat migraine. Juga bekam. Oh..tidak.

Post a Comment for "Migrain"