Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jalan Cinta Sang Ikhwan



September 2011
Jujur saja, dia belum ada keinginan untuk lakukan taaruf sebagai bagian dari proses menuju walimah. Meski usianya menjelang 24 tahun, tapi dia masih merasa banyak yang harus dilakukannya. Tapi tawaran murabbinya yang menyatakan akhwat itu adalah seorang hafizah hafal 30 juz, hatinya bergeming. Dia tertarik. Karena factor hafizah itu. Amat langka di zaman sekarang ada yang hafal Quran. Maka, saat ada permintaan untuk megirimkan biodatanya kepada murabbi, dia penuhi. Tak detail memang, biodata seperlunya. Bahkan dia lupa mencantumkan visi misi pernikahan sebagaimana proposal pernikahan yang dia lihat dan baca selama ini.

Januari 2012
Murabbinya mengatakan untuk bisa bersabar, menunggu informasi dari murabbiyah sang akhwat. Meski saat itu alat komunikasi bukan barang langka, namun nyatanya jarak juga membuat permasalahan. Kurang lancarnya komunikasi kedua belah pihak, membuat proses taarufnya belum berjalan. Bahkan dia belum menerima proposal sang akhwat.

Maret 2012
Saat itu dia sedang menghadiri acara seminar kesehatan di kampus dekat sekolah dimana dia mengajar. HP nya bordering. Saat dilihatnya itu adalah telfon dari murabbinya, segera dia keluar ruangan. Sesampainya diluar, suara berat murabbinya terdengar jelas.
Mengabarkan bahwa sang akhwat mendapt amanah baru di tempatnya mengajar yaitu diamanahi sebagai kepala asrama akhwat. Dengand emikian dia tidak bisa pergi kemana-mana, hingga batas waktu enam bulan. Murabbinya mengatakan tidak mungkin prosesnya dilanjutkan dengan sang akhwat, dalam waktu enam bulan itu.
Dia pun maklum. Toh dia belum ada niatan untuk walimah. Tak mengapa, katanya saat itu. Lebih-lebih banyak prestasi dan impian yang selama ini belum dicapainya. Dengan begitu, dia kembali bisa memiliki waktu untuk mewujudkannya.



Oktober 2012
Masa bakti sang akhwat hampir selesai. Lagi-lagi, sang ikhwan dalam kondisi sendiri. Tapi kali ini dia sudah ada niatan untuk walimah.
Kabar gembira dari murabbinya. Agar dia menetap di sekolah saat dia mengajar saat ini, sang murabbi mengupayakan dia untuk bisa menetap. Makanya, tawaran taaruf dilayangkan kembali. Lagi pula, pihak sang akhwat pun mengatakan sudah siap.
Pertengahan oktober, data akhwat itu masuk ke emailnya. Dengan perasaan sederhana, dia buka email itu. Dengan teliti dibacanya biodata yang juga sesederhana biodatanya. Satu lembar saja. Dan benar saja, akhwat itu hafal 30 juz.
Selain itu, tertera disana kelahiran sang akhwat tahun 1983. Sementara, dia lahir pada 1987. Artinya, ada jarak 3 tahun. Tapi dia tidak mempermasalahkannya. Baginya, usia tak jadi masalah. “hafiz 30 juz” mengalahkan umur, pendidikan, organisasi, dan harta. Riwayat organisasinya memang sedikit. Kontras dengannya yang cukup banyak. Tapi tetap itu bukan masalah baginya.
Akhir oktober, diinformasikan sang akhwat harus menunggu kedatangan ayahnya yang saat itu menunaikan ibadah haji. Maka, sang ikhwan diminta untuk menunggu lagi.
November 2012
Umur sang ikhwan sudah 25 tahun. Meski begitu, dia belum risau benar. Tapi tetap juga berharap agar jodohnya datang. Maka, kini keinginan adanya progress dari tawaran taaruf dari murabbinya menguat. Kini dia yang menanti-nanti.
Akhir November, sang akhwat pulang kampung ke Jakarta. Ayahnya sudah tiba ke tanah air. Disaat itulah, sang akhwat berencana menyampaikan informasi bahwa dia diajak bertaaruf dengan seseorang.
Baru hitungan 3 hari, Sang ikhwan sudah menanyakan hasilnya kepada murabbi. Diminta untuk bersabar hingga satu minggu sang akhwat berada di rumahnya, memperjuangkan keinginannya untuk bisa bertaaruf dengan sang ikhwan yang berdomisili di Padang.

Desember 2012
Genap satu minggu kemudian, sang ikhwan ditabayun kembali oleh sang murabbi menanyakan keseriusannya untuk bertaaruf. Bahkan dalam hitungan persen. Sang ikhwan dengan mantap menjawab keyakinannya hingga 85 % atau 90 %. Mengetahui kondisi itu, sang murabbi merestui kemantapan sang ikhwan.
Jadwal taaruf di dapat. Di hari Kamis pada pekan ketiga di bulan Desember. Tempat taaruf adalah di rumah sang murabbiyah akhwat, Padang Panjang.
Waktu yang dinanti pun tiba jua. Bakda ashar, sang ikhwan masuk ke lokasi taaruf. Disana sudah menunggu sang akhwat ditemani dengan sang murabbiyahnya berikut suami. Sang akwat mengenakan jlbab, baju, dan rok warna biru, terlihat anggun. Sementara sang ikhwan dominan warna hitam. Mengenakan peci hitam pula.

Setelah mukadimah selesai, keduanya diminta mengenalkan diri. Yang lebih detail dari proposal yang dibuat. Keduanya saling menerangkan mengenai dirinya.

Usai taaruf singkat, keduanya disilahkan untuk saling bertanya.
Ikhwan : tadi ukhti menyebutkan adanya permintaan dari orangtua untuk kembali ke Jakarta. Padahal, maksud dari murabbi saya adalah ingin menambah kader dakwah di daerah kami, sebab disana kekurangan kader. Jadi gimana ini? Ini merupakan hal yang penting.

Akhwat : sebagaimana saya sampaikan diawal tadi, yang namanya jodoh kita tidak tahu. Ini adalah tuntutan dari orang tua, tapi orang tua juga menyerahkan keputusannya kepada ana. Sejak awal pun uni (murabbiyahnya) bilang saya harus ke Pasaman. Kalau ditakdirkan kita adalah jodoh, ana insya Allah siap. Dan ana pribadi pun lebih nyaman tinggal di sini daripada di Jakarta.

Diantara keduanya malah banyak diam. Hingga sang murabiyahnya menawarkan waktu untuk bertanya. Tapi keduanya masih tak banyak tanya. Tapi sang akhwat tetap diam.

Setelah berhasil menguasai diri,sang ikhwan mengajukan pertanyaan kepada akhwat.
Ikhwan                 : Mohon maaf sebelumnya, afwan kalau pertanyaan ana meninggung. Dari usia juga, kita terpaut jauh. Pertanyaan saya, afwan menyinggung sebelumnya, dengan usia yang sudah cukup matang, kenapa ukhti belum menikah, atau, selama ini sudah melangsungkan taaruf?

Akhwat : Sebenarnya kalau tawaran sudah sangat banyak pertanyaan kepada saya. Tapi masalah jodoh, Allah yang mengatur. Kalau tentang taaruf, ana beberapa kali ditawarin tapi, sekedar untuk melanjutkan proses saja, tidak ada keinginan. Lagi-lagi keputusan ada di tangan Allah. Dan terkait dengan umur juga, Apa akhi sebagai… umur kita kan lumayan beda. Secara pribadi ana merasa..., bisa dikatakan minder dengan perbedaan ini. Nah, bagaimana ini menurut akhi?

Ikhwan                 : bagi ana, lebih suka mendapat pasangan yang lebih tua. Ini menandakan kematangan usianya. Dengan begitu, saya mendapatkan pasangan yang bisa menjadi sandaran. Umur tak jadi masalah bagi ana.

Sang murabiyah membantu menyimpulkan:
Artinya bagi antum berdua tidak masalahkan mengenai usia? Khadijah dengan Nabi Muhammad saja bedanya berapa tahun?

Sang akhwat diam saja. Sementara sang ikhwan menangguk mantap.
Ikhwan : afwan, kalau masalah penampilan, saya bukanlah ikhwan yang berpenampilan klimis. Misalnya baju koko, celana gantung, pakaian lengan panjang, atau pakai peci. Justru saya lebih sering berpakaian dengan kemeja lengan pendek. Masih Sering nongkrong dengan pemuda-pemuda amah, misalnya ketika maen bola. Jadi ana ini masih aktif bola.

Akhwat : Mmm, bicara masalah style, ana mungkin lebih suka ikhwan yang kayak gitu,. Maksudnya tidak harus pakai baju koko, harus selalu berpeci. Itu kalau ditanya masalah style. Ini mohon maaf, ana tidak kebayang apa yang harus ana tanyain. Paling ini, mm… (sang akhwat berbisik sebentar dengan sang murabbi). Mmm, Ini mungkin yang ditanya. Afwan kalau menyinggung. Kebetulan yang menyelesaikan nyetor 30 juz ke uni kan ada 2 akhwat. Pertanyaannya apakah ustadz menerima 2 biodata. Atau biodata saya aja. Kalau biodata, apa pertimbangan apa memilih saya.

Ikhwan : kalau dari sini, hanya 1 biodata yang saya terima, yaitu biodata ustadzah. Tapi kalau bukan dari sini, ada 2 biodata yang diberikan ke ana, sebenarnya ana tidak mau nerima tapi kawan ana mendesak. Akhirnya dipaksa menerima biodata itu, sudah dikirim ke email ana. Tapi ana tegaskan ana harus menyelesaikan proses yang dari sini dulu.

Murabiyah : Kemudian pertanyaan tadi, kenapa milih yang disini?

Ikhwan                        : karena lebih dahulu yang disini. Ana maunya selesaikan disini dulu.

Ikhwan : afwan, dari biodata, ana merasa minder. Ustadzah hafal 30 juz. Sementara ana juz 30 juz aja belum selesai. Ini kan tidak imbang. Menurut ustadzah, bagaimana dengan kondisi ini?

Akhwat : seseorang menguasai suatu bidang, di bidang lain bisa jadi dia tidak bisa. Saling melengkapi saja

Sang ikhwan pun lega mendengar jawaban sang akhwat. Sang akhwat cukup bijak dan pengertian.

Murabbiyah : ini kalau tidak ada pertanyaan, uni saja yang nanya… Pandai ndak Fifi ini masak? Nada-nadanya nih…. (dengan tersenyum sang murabiyahnya bertanya)

Ikhwan : Mm, bisa masak, ustadzah?

Akhwat : (dengan tersenyum simpul). Alhamdulillah, tidak…

Ikhwan : Tak apa, ustadza. Ana kan bukan mencari tukang masak. Ana hendak mencari isteri. (seisi ruangan tertawa mendengarnya. Sang akhwat bersemu merah. Wajahnya yang putih bersih Nampak merona). Apalagi saya dulu waktu SMA hingga kuliah kan kos. Jadi pintar masak.

Murabbiyah       : kan bisa  masak?
Ikhwan                 : bisa
Murabiyah          : bisa ngajari tuh…

Perbincangan beralih kepada hal-hal ringan. Tak hanya menanyakan informasi diantara keduanya, tetapi juga diskusi ringan dengan ustadz dan ustadzah yang mempertemukan mereka.

Hari menjelang sore. Setelah ditanya tidak ada lagi pertanyaan, akhirnya prosesi taaruf diakhiri, dengan permintaan sang akhwat tenggat waktu 3 hari untuk memikirkan jawaban, dengan taaruf ini sebagai gambaran tentang calon masing-masing. Kumandang adzan maghrib menggema, saat sang ikhwan keluar dari rumah tempat taaruf itu.

***
Relativitas waktu berlaku disini. Seminggu yang biasanya berlalu dengan cepat, kali ini tiga hari dirasakannya merangkak lambat. Meski aktivitas lain tidak terhambat, tetap saja dia menanti limit waktu dengan penuh harap.

Waktu zuhur sudah lewat beberapa saat lalu. sang ikhwan baru saja menyelesaikan makan siangnya saat Hp-nya bergetar. Ada sebuah pesan masuk disana.        

Assalamualaikum akhi, dari hasil istikarah akhwatnya, dia belum punya ketetapan hati untuk melanjutkan proses ini. Semoga antum bisa bersabar dan tidak mematahkan semangat untuk melangkah kedepannya..
               
Begitu isi sms selesai dibacanya, mendadak tubuh sang ikhwan bergetar. Ditolak. Jelas sekali pesan itu baginya. Tapi dia berusaha memperjelasnya. Dia membalas sms itu.

Jadi, proses ana dengan dia tidak bisa lanjut?
Ya, akhi. Antum masih bersabar untuk melakukan proses taaruf dengan yang lainnya?
Ah, entah kenapa ada perasaan sedih. Mengingat semua yang telah dia lewati. Waktu yang tak sebentar dia habiskan untuk menunggu. Setahun lebih. Dan hasilnya? Kesedihan melanda dirinya. Ada yang terusik disana. Lemas lunglai, dengan jawaban yang diterimanya. Serasa belum siap dengan jawaban penolakan itu.
Momen-momen taaruf berkelebat lagi. Saat taaruf, rasanya tidak ada permasalahan atau hal-hal yang menyiratkan ketidakcocokan. Bahkan dalam beberapa hal mereka ada dalam kecocokan dan saling melengkapi.
Proses dengan akhwat ini kita hentikan akhi, alasan akhwatnya dia tidak menyebutkan kekurangan antum, hanya satu hal saja katanya antum kurang tegas, apa begitu akhi? Tentu antum yang lebih tahu.
Benar ustadz. Tapi, ana rasa kalau sifat2 seperti itu, bisa diubah. Seperti jika seorang ikhwan malas. Maka, begitu dia menikah dia harus merubah kebiasaannya itu. Begitu juga jika ada seorang ikhwan yang tidak tegas. Saat dia menyadari dirinya adalah pemimpin dalam keluarganya, maka mau tidak mau dia harus merubah sikapnya. Begitu ‘kan ustadz..
Sedikit berbincang sang ikhwan dengan murabbinya. Diskusi itu untuk mengoreksi. Benar ada kekurangan yang harus diperbaiki.
Padahal dari pembicaraan kami dengan murabbiyah akhwat, kami yakin sekali kalau sang akhwat itu jodoh antum. Tapi semuanya kita serahkan pada Allah. Kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apalagi.
Sudah ana tanyakan berulangkali kepada murabiyahnya. Karena tidak percaya juga dengan jawaban akhwatnya. Tadi juga ana lemah lunglai mendengarnya. Tidak sanggup menyampaikannya ke antum. Tapi bagaimanapun harus ana sampaikan. Meski berat. Yakinlah dia belum terbaik untuk antum.
Ana juga tidak paham dengan alasan akhwatnya. Pada hakikatnya dia belum serius akhi, dengan umurnya yang sudah cukup tinggi dia masih belum serius. Sebelum jadwal taaruf, ana sudah mewanti kepada murabiyahnya tentang berapa % kemantapan sang akwat. Tapi murabiyahnya menolak untuk menanyakan ke akhwat. Akhirnya murabiyahnya mendapatkan pelajaran dalam proses ini.
Ana fikir antum sudah melakukan I’tikad terbaik, tidak penting alas an akhwatnya semua sdah diatur oleh Yang MahaMengatur. Semoga antum berbaik sangka kepada-Nya.
Mendengar untaian taujih murabbinya, sang ikhwan menunduk dalam-dalam. Ada yang terasa berdenyut dihatinya. Perasaan ikhlas dan tidak akan ketetapan-Nya silih berganti hadir di hatinya.
Saat ini hatinya terluka. Sakit akan penolakan ini. Waktu jua yang akan mengobatinya. Dia tahu dia terluka. Tapi dia tahu, luka itu juga akan sembuh. Dia hanya butuh waktu. Waktu yang akan mengobati lukanya. Kini dia mengucap istiqhfar berkali-kali. Yah, tak cukup menenangkannya meski sudah beratus kalinya dia mengucap dalam hati. Dan dia yakin, tak cukup di hari itu. Dalam diamnya, duduknya, berdirinya, shalatnya, sujudnya..dia perlu menguatkan hatinya untuk menerima ketetapan-Nya.

#fa-pp.18des2012

Post a Comment for "Jalan Cinta Sang Ikhwan"