Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Untukmu, wahai istriku....


Saat hendak menikahinya, kukira aku akan memperistri seorang perempuan hebat. tapi ternyata aku salah. Yang aku dapatkan adalah sosok perempuan yang luar biasa. aku tak menyangka akan menemukan istri yang sehebat dia.


Penyayang dan patuh ada orang tuanya. Bahwa dia sangat dimanjakan dan diperhatikn oleh mereka. Begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan mereka padanya. Begitu besar cinta mereka kepadanya.dan dia pun mencintai mereka dengan cinta yang hebat.

Tapi apa kini yang terjadi saat dia telah beranjak dewasa, saat dia pnya kesempatan untuk membalas pengorbanan dan cinta mereka yang telah tercurah padanya. Aku justru merampas kesempatan itu darinya. Aku justru mengambil dari mereka.

Dengan faham, dia meminta maaf pada mereka atas jalan yang dipilihnya. Bahwa cintanya harus dibagi. Kepatuhannya adalah kepatuhan kepadaku dan bukan pada mereka, orang yang selama ini membsarkan, berkorban banyak untuknya. 

Kepatuhannya justru pada orang yang baru dikenalnya. Dan belum pernah memberikan pengorbanan dan cinta secuilpun padanya sebelum ini.

Maka bertambah beratlah beban ini. Dan perasaan bersalah telah merebutnya dari sepasang sayap cinta yang selama ini meneduhinya. Juga perasaan bersalah telah merampas kesempatan berbaktinya kepada mereka.
Ah, sebuah tanggungjawab besar padaku. Untuk tidak mengecewakan pilihannya menikah denganku. Sementara, diri yang tak ada yang harus dibanggakan ini tak punya modal untuk bisa mewujudkannya itu; kemampuan.

Tidak. Aku tidak ingin merebut dia dari mereka. Aku pun tak ingin merampas kesempatan itu. Maka, cintai dan patuhilah mereka. Balaslah pengorbanan dan cinta mereka sebagaimana kehendakmu untuk itu. Berumahtangga, jangan menghalangimu mewujudkan tekad luar biasa itu. 

Ingatlah kisah seorang suami yang tak akan memberikan susu kepada kedua anaknya  kecuali kedua orang tuanya telah meminumnya. Memang dalam konteks ini, dia adalah seorang suami. Tapi tak mengapa, jadilah engkau sepertinya. Tak melupakan kewajibanmu kepada orang tua. Bahwa orang tua mesti didahulukan.

Hanya pada Allah SWT diri ini memohon agar diberikan petunjuk dan bimbingan agar bisa menjadi suami dan kepala rumah tangga yang bisa membawa bahtera rumah tangga ini di jalan yang Allah ridhoi, mampu mencintai dan membahagiakan istri serta keluarga-keluarga kami. Aamiin..

supadilah

Post a Comment for "Untukmu, wahai istriku...."