NASIB ANAK BANGSA KITA (DIBUANG DI NEGERI SENDIRI, DIPAKAI DI NEGERI ORANG)

Archandra Tahar menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya selama 20 hari. Sesudah itu, Archandra dipecat oleh presiden. Sehingga Archandra menjadi menteri dengan masa jabatan paling cepat pada era Jokowi. Pemecatan Archandra memberikan peringatan penting untuk kita. Bahwa orang pintar di negeri ini belum tentu bernasib baik. Anak bangsa dengan yang berprestasi belum tentu ‘dipakai’ di negeri kita. Salah satu alasan pemilihan Archandra sebagai Menteri ESDM didasarkan pada prestasi dan ilmunya. Archandra dikenal sebagai sosok yang jenius. Memiliki 6 hak paten internasional. Hasil risetnya banyak dipakai dalam bidang pertambangan dan perminyakan. Setelah 20 tahun belajar di Amerika Serikat dan mendapat gaji miliaran rupiah sebulan, Archandra pulang ke tanah kelahirannya untuk mengabdikan ilmunya meskipun dengan gaji yang bakal diterimanya jauh lebih kecil, Rp 40 juta per bulan. Semangat membangun negeri lebih besar mengalahkan iming-iming gaji. Namun impiannya kini kandas. Tersebab aturan administrasi, Archandra harus diberhentikan oleh presiden Jokowi. Impian yang sudah membumbung tinggi, harus membumi lagi.


Sebetulnya banyak kasus yang mirip dengan kejadian ini. Tentang anak bangsa yang lebih dihargai di negeri orang. Banyak anak bangsa yang justru berkiprah di luar negeri karena karyanya lebih dihargai. Baik dari segi pengakuan, penghargaan, dan gaji (kesejahteraan).
Ada beberapa anak bangsa dengan prestasi yang luar biasa berada di luar negeri. Pertama, Eng. Khoirul Anwar (penemu 4G LTE) yang sekarang sudah banyak dikembangkan dan dipakai di berbagai negara di dunia. Kedua, Warsito P Taruno (penemu teknologi terapi kanker) namun tidak mendapat izin pembuatan dan izin edar oleh Lembaga Kesehatan di Indonesia. Ketiga, Randall Hartolaksono (pengubah sampah makanan bahan baju anti api). Karyanya banyak dipakai di beberapa negara. Keempat, Ricky Elson (pakar mesin mobil). Penemuan teknologi mobil sport yang ditolak pemerintah Indonesia karena dianggap tidak lolos uji emisi. Justru pemerintah Malaysia yang tertarik dan meminang produk buatan Ricky. Kelima, Arfi’an Fuadi dan M Arie Kurniawan (desain mesin jet). Pernah ditolak masuk ke jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro karena dianggap tidak sesuai antara ijazahnya dengan jurusan yang diinginkan. Karyanya menjadi juara kompetisi 3 dimensi (3D) Design Enginereeng, untuk kategori Jet Engine Bracket (penggantung mesin untuk pesawat jet) yang diselenggarakan oleh General Electric (GE) di Amerika Serikat dan mengalahkan lebih dari 700 peserta dari 56 negara. Keenam, Muhammad Nurhuda (penemu kompor minyak ramah lingkungan). Hasil karyanya itu laris manis di banyak negara mulai dari India, Meksiko, peru, Timor Leste, Kamboja sampai di benua Afrika. Bahkan produknya diproduksi secara massal di Norwegia. Ketujuh, Yogi Erlangga (penemu rumus pencarian minyak). Rumus terapannya itu banyak dilirik oleh perusahaan-perusahaan minyak terkenal dunia salah satunya perusahaan Sheel. Sayangnya, karyanya jarang dipakai di negeri sendiri. (Sumber www.boombastis.com).
Akibatnya, Indonesia semakin tertinggal dalam hal kemajuan dibanding negara lain. Hasil temuan mereka dipakai oleh perusahaan asing sehingga memberikan kemanfaatan besar dan keuntungan yang dipakai untuk memajukan negara mereka. Negara lain maju pesat bisa jadi karena andil ilmuwan kita.
Masih banyak lagi ilmuwan Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu atau berkarir di luar negeri. Mereka cenderung lebih memilih menjalani kehidupan mereka dengan berbagai alasan. Pertama, peran dan keahlian keilmuwan mereka lebih dihargai disana. Mereka juga harus mempertimbangkan faktor kesejahteraan. Gaji yang lebih besar turut mendukung keterjaminan profesi mereka. Kedua, daya dukung riset yang lebih memadai. Riset membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pemerintah Indonesia belum mampu mengalokasikan dana untuk bidang riset. Padahal riset sangat penting untuk perkembangan inovasi ilmu pengetahuan. Riset mendongkrak ekonomi suatu negara. Walaupun tidak secara langsung manfaatnya. Tapi penemuan-penemuan dalam berbagai bidang memberikan efek peningkatan yang signifikan. Ketiga, apresiasi pemerintah. Banyak anak bangsa di negeri ini yang memiliki kapasitas keilmuwan yang luar biasa. Sayangnya mereka belum diberikan kesempatan untuk berkiprah lebih banyak dalam pemerintahan. Ilmuwan kita belum diberikan porsi untuk ikut andil menentukan program-program pemerintah.

Dalam ranah pendidikan, rendahnya apresiasi pemerintah terhadap ilmuwan merupakan sebuah kekhawatiran. Seorang guru merasa khwatir tidak bisa memotivasi siswa untuk menjadi ilmuwan karena ketakutan masa depan. Bagaimana seorang guru dapat membangkitkan semangat nasionalisme siswa sementara kelak mereka hanya akan dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Semoga nasib Indonesia membaik. Semoga Indonesia bisa menghargai peran ilmuwan yang dimiliki seperti halnya negara lain. Semoga pemerintah Indonesia lebih jeli mengetahui potensi kecerdasan anak bangsanya agar bisa dirawat dan dimanfaatkan untuk membangun negeri sendiri.

No comments for "NASIB ANAK BANGSA KITA (DIBUANG DI NEGERI SENDIRI, DIPAKAI DI NEGERI ORANG)"