Terima segala kondisi yang ada di malam tahun baru. Orang sudah kadung menjodohkannya dengan petasan dan kembang api. Ugal-ugalan menyulutnya. Tak peduli orang lain dalam kondisi apa.  "Setahun sekali" begitu ujarnya.
Meski itu melabrak kenyamanan orang. Orang sakit tak dihormati, anak bayi tak  dihiraukan.

Maka malam itu jadi sebuah malam Kegeraman. Bayiku, Firaz yang berumur 3 bulan itu sensitif benar pendengarannya. Dengar bunyi pintu dibuka dia bangun. Dengar batuk di satu ruangannya, tidurnya terganggu. Apa lagi dengar bunyi petasan.... Nyenyak tidurnya pun buyar.
Terbangun, nangis, dan merengek. Tapi apa daya. Pukul sepuluh malam saja sudah meledak petasan itu. Orang sudah seperti petugas yang sigap melesatkan petasan ke angkasa.

Padahal itu baru pemanasan saja. Sekira pukul 23.00-24.00 WIB tentu lebih menggila lagi. Namun malam itu kecemasan dengan kadar lebih besar memenuhi hati dan pikiran. Si sulung Jundi, malam sebelumnya jatuh sewaktu mau naik sepeda. Yah, baru ngambil sepeda dan mau menaiki. Tidak begitu jelas seperti apa jatuhnya. Tahu-tahu nangis. Mengeluhkan tangannya sakit.
"Sakit... Sakit abi..."
Begitu pula saat sama bundanya, "Sakit tangannya..."

Walaupun belasan menit kemudian sudah reda tangisnya, tetap saja sering mengeluh tentang sakit tangan kanannya. Sebagai bentuk pengobatan, saya mengurutnya. Pakai minyak VCO malam itu. Di pagi hari, belilah saya minyak but-but. Diurut dan dilumuri dengan minyak but-but itu. Minyak diteteskan di sendok, kemudian dipanasi di atas lilin, supaya lebih terasa daya resap dan pengobatannya. Berulang kali. Beberapa waktu kemudian, tetap saja Jundi mengeluhkan sakitnya.

Kebetulan saat itu ada kedua neneknya. Sudah menyarankan untuk dibawa ke tukang urut. Sebab lihat Jundi yang menenteng tangan kanannya saat jalan atau berlari. Dan lebih sering menggunakan tangan kirinya saat memegang benda semisal lego dan mobil-mobilan. Asumsinya, tukang urut lebih tahu mengobati bagian mana yang sakit.

Dulu, Jundi pernah diurut, di Mak Inil. Tapi itu waktu masih kecil. Saat sudah besar ini, Jundi takut diurut. Tidak manut. Berontak saja. Sudah dibawakan susu cokelat kesukaannya, diputarkan robot dari hp, dan dibujuk serta dirayu, tidak juga rela dipijit. Rasa tak tega lihat diurut. Nangis meraung-raung. Berlinang air matanya. "Nggak mau dipijit.. Nggak mau abi...."

Tidak tega juga, tapi dikuat-kuatkan. Demi kesembuhannya. Ini adalah ikhtiar pengobatan. Dipaksa juga untuk ikhlas. Dipijit oleh mak Acah. Parajik di daerah Sentral.

Setelah sekian lama akhirnya selesai juga ritual pijit. Di akhir pijit pun Jundi masih nangis. Tapi semuanya sudah berakhir. Alhamdulillah, bisa selesai juga.

Namun kecemasan itu belum berakhir. Malah semakin khawatir. Paginya, saat mandi pagi, Jundi tidak bisa menyikat gigi sendiri. Tangannya sulit ditekuk. Sampai sebisanya nekuk tangan, sikat gigi lewat dari mulutnya. Tidak bisa ngepas dimulut. Sakit, katanya. Akhirnya saya yang menyikat giginya.

Di hari itu. Tanggal 1 Januari 2018 pun dilewati dengan tangan kanan yang masih sakit serta aktivitas yang dominan dengan tangan kiri. Main lego, ambil tembak, dorong mobil Tayo, atau ngibarkan bendera. Pernah pula pakai tangan kanannya, megang mouse, majan chocolatos, megang hp, atau minum. Untuk sementara, program makan sendiri ditunda.

Semoga lekas sembuh, Nak. Abi dan bunda tentu masih berikhtiar untuk kesembuhanmu. Tentu, tidak ingin berprasangka buruk atas takdir dan ujian Allah dengan memaksa segera. Sebab manusia terus berusaha, Allah yang menentukan.

Rangkasbitung, 1 Januari 2018.

0 Comments