Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilan, Sirine Mobil Polisi dan Kesombongan Akut

Seringkali saat melintas di jalan raya kita dengar sirine mobil polisi (voorrijder). Seperti biasa, jika ada sirine polisi tentulah rombongan itu orang penting. Klo tidak menteri ya setingkat gubernur atau bupati. Pokoknya orang pentinglah. Presiden tentu jelas iya.



Namun kadang setelah lewat iring-iringan itu, kok kita dibuat heran ya. Lihat platnya, bukan merah. Juga bukan kode orang penting seperti RI 1 atau sejenisnya. Plat hitam, dan 3 angka. Lalu siapa dia? Kiranya orang kaya yang sangat mampu untuk mengurus dan membayar biaya pengawalan itu.
Dengan bantuan voorrijder itu, bisa menyibak kepadatan lalu lintas. Pengguna kendaraan lain harus minggir. Bahkan, lampu merah pun bisa dilabrak.
Penasaran, saya searching siapa saja yang boleh memakai voorrijder. Saya dapatkan di internet, hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 1993.
Dalam Pasal 65 ayat 1 disebutkan, pemakai jalan wajib mendahulukan sesuai urutan prioritas sebagai berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit
c. Kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas
d. Kendaraan Kepala Negara (Presiden dan Wakil Presiden) atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara
e. Iring-iringan pengantar jenazah
f. Konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat
g. Kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.
Itulah beberapa rombongan yang boleh menggunakan voorrijder. Karena peraturan, mau tidak mau kita harus mematuhi. Memberi jalan jika ada voorrijder yang menyuruh menepi.
Tapi jika selain itu, tentu sewenang-wenang jika menggunakan voorrijder. Meskipun punya uang untuk membayar pengawalan itu.
Kemudian saya terima novel Dilan, pengarangnya Pidi Baiq. Di waktu meninggalnya papa, jenazah papa dibawa dari rumah sakit menuju pulang. Seharusnya, dengan pangkat papanya yang seorang perwira, Dilan bisa saja menggunakan voorrijder atau mobil ambulan. Namun Dilan lebih memilih mematikan sirine mobil ambulan. Membawa jenazah papa dengan diam.
Orang seperti Dilan sungguh langka. Yang tidak menggunakan fasilitas dan kemudahan atau peraturan negara untuk kepentingan pribadi. Yang ada justru orang biasa tapi berlagak orang kaya atau orang penting. Yang menggunakan voorrijder untuk kepentingan pribadinya.

Post a Comment for "Dilan, Sirine Mobil Polisi dan Kesombongan Akut"

Berlangganan via Email