Guru Ngobyek

Kehadiran sosial media dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Pada suatu hari, sebuah grup whatsapp guru ramai. Seorang guru menawarkan sebuah barang. Menjual buah duku yang saat itu sedang musimnya. Tidak berapa lama, iklan itu ditanggapi. Malahan banyak yang memesan, karena tergiur jaminan duku yang manis, dan harga murah. Lalu terbuatlah daftar pemesanan. Banyak yang pesan lima kilogram, banyak pula yang pesan sepuluh kilogram. Hanya sedikit yang pesan satu kilogram.

Guru ngobyek? Guru jualan? Boleh saja. Asal pandai-pandai. Tahu waktu, sedang mengajar atau tidak. Jangan lupa dengan tugas utamanya yaitu mengajar. Tahu tempat, jangan jualan di dalam kelas.

Alhamdulillah profesi guru saat ini jauh lebih sejahtera. Meskipun ada juga guru yang masih prihatin/merih hidupnya.

Seketika saya teringat nasib guru zaman doeloe. Dimana menjadi guru karena tidak ada pilihan lain. Gaji kecil, jauh dari sejahtera. Jangankan punya mobil, motor pun kredit. Untuk menambah penghasilan, guru terpaksa ngobyek. Ada yang jualan es mambo, bakwan, atau tempe goreng yang dititip di kantin sekolah. Ada pula guru (Bahasa Indonesia-saya) yang cari-cari jengkol saat musim, untuk dijual lagi. Kadang cari pisang juga. Sama, dijual lagi.

Guru yang dulu bukanlah yang sekarang. Paling enak guru PNS yang sudah sertifikasi. Gajinya berkali-kali naiknya. Ada gaji 13, malah sampai 14. Sayang, ada beberapa oknum guru yang nambah gaji, nambah pula hutangnya karena gaya konsumtifnya. Ke sekolah tak lagi kena debu Saat ada angin, tak basah saat kena hujan. Dan tak kepanasan kena garangnya matahari. Sudah beroda empat ke sekolah yang dekat. Atau pergi rapat. Juga kondangan ke tempat kerabat.


Eh iya, guru honorer juga punya gaji 13 kok. Gajian tanggal 1, habis tanggal 3. Lumayan lah. Syukuri saja. Biar rezki bertambah. ↻ Aamiin.

Berkat kemajuan teknologi, saat ini orang bisa jualan dengan mudah. Tidak perlu sedia dulu toko/warung/tempat. Bisa memanfaatkan handphone/smartphone. Promosi pun bisa dilakukan lebih massif/gencar. Apalagi, jaman Now semuanya serba online.

Semerihnya guru jaman now, tidaklah semerih guru jaman old. Paling banter, guru jual pakaian. Malah ada yang jua kosmetik. Itu pun pakai Facebook. Lebih mewah lagi, pakai instagram. Beuh... Itu konsumsi sekunder. Tapi bagi pribadi konsumtif, itu jadi konsumsi primer.

Saya melihat beberapa teman guru yang jualan, bukan semata-mata cari untung atau nambh penghasilan. Karena menurut mereka, semua orang harus wiraswasta, kudu jadi enterpreneur. Sebab, berdagang adalah profesi nabi dulu. Berdagang adalah membuka pintu rezeki. 9 dari 10 pintu rezeki dari berdagang.

Namun ada juga guru yang jualan murni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak malah. Terutama guru honorer yang memang gajinya cukup memprihatinkan. satu contohnya guru di Sumenep yang jualan tahu untuk menambah penghasilannya. Gajinya dari sekolah Rp. 250 rb.



Sekolah juga tidak bisa melarang guru untuk usaha/jualan. Kecuali sekolah/negara bisa menjamin kesejahteraan guru. Sekolah belum bisa memberikan gaji guru tinggi.

Tidak banyak sekolah yang seperti Sekolah Gagas Ceria yang melarang gurunya berjualan, membuka les/privat di rumahnya, bahkan menerima hadiah/oleh-oleh/pemberian dari siswa sekali pun itu gantungan kunci. Untuk menjaga integritas guru, begitu kata kepseknya. Dan ternyata, biaya masuk ke sekolah itu tergolong tinggi/mahal.

No comments for "Guru Ngobyek"