Dari dulu sampai sekarang. Di mana-mana hampir sama. Mainan anak tidak jauh berubah.
Meski, beberapa anak punya kesukaan mengoleksi mainan yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Seperti dulu, anak sulung saya, hobi mengoleksi bendera, suka nyanyi Indonesia Raya. Tapi sekarang sudah mulai berkurang.

 Anak laki-laki  identik dengan mobil, motor, robot, kereta api, dan sejenisnya.

Sementara, anak perempuan identik dengan mainan boneka, masak-masakan, baju-bajuan dan sejenisnya.

Anak-anak suka mengoleksi mainan. Tidak cukup satu dua, kadang beli mainan yang sama, sebanyak-banyaknya.

Juga, mereka akan nambah koleksi mainannya, padahal belum rusak atau habis mainan yang sama itu. Di mana ada jual mainan, pengennya beli lagi dan lagi. Hingga numpuk banyak koleksi mainannya.

Tapi sebaiknya, koleksi mainan diupayakan yang bisa meningkatkan motorik demi menunjang perkembangan otaknya. Pilih mainan yang membuatnya aktif bergerak, jangan yang membuatnya pasif. Sepertinya, mobil-mobilan yang pakai remot bukan pilihan bijak. Bukan masalahnya mahal harganya, (padahal iya ding... 😃) tapi kelihatannya mainan remote bikin anak kita kurang gerak.


Mainan jaman dulu (jaman old) sangat baik untuk menunjang motorik anak. Mobil-mobilan yang ditarik, anak-anak lari menyeret-nyeret, jadi sehat karena keluar keringat. Tembak-tembak harus mengeluarkan suara, dor...dor..dor..membuat mereka lancar dan cepat bisa ngomong.

Zaman berubah. Hanya bentuk mainan yang menyesuaikan zaman. Sekarang serba plastik dan mesin. Tapi intinya tetap jenis yang sama

Saya dan istri sepakat tidak sering-sering mengizinkan anak main odong-odong, sewa mobil-mobilan di alun-alun, dan sejenisnya karena memang minim gerak.

0 Comments