Muka Kuburan

Siang ini, saat zuhur tiba, kami sudahi rapat. Kemudian bergegas menuju musola. Tidak jauh. Tidak pula sampai berkeringat untuk jalan ke sana. Adzan zuhur masih berkumandang saat kami berjalan. Saat menunggu di tempat wudhu, tiba-tiba seorang bapak berkoko menyeletuk,


'Dari kuburan ya pak?'

Geli. Mau ketawa. Padahal lokasi musola di daerah perkotaan. Ramai. Sangat ragu jika disana ada kuburan.

'Nggak kok pak..' Jawab teman saya.

Saya kemudian harus berpikir mencari kemungkinan kenapa bapak itu mengira kami dari kuburan. Apa muka kami seperti kuburan ya? 🙂

Pertama, kami berbaju koko. Yah, ke kuburan identik dengan baju religi.

Sebab aktivitas di kuburan identik pula dengan berdoa, mengaji, dan sejenisnya. Aktivitas itu nyaman dan khusyuk dengan memakai pakaian seperti yang kami kenakan.

Kedua, hal yang membenarkan adalah ramadhan saat sudah dekat. Dan biasanya orang ramai pula berziarah menjelang ramadhan. Terutama di hari akhir syakban. Kuburan biasanya lebih ramai dari biasanya dengan segala aktivitas orang.

Di saat itulah orang menyempatkan untuk mengunjungi sanak saudara yang sudah mendahului. Melihat dan merawat makam. Membuang rumput liar yang bertamu ke gundukan tanah yang menyimpan jasad saudara mereka. Ada untungnya momen seperti itu. Membuat yang mereka tidak sempat berziarah menjadi sempat berziarah. Apalagi jika bisa mengambil ibrah/pelajaran tentang mengingat kematian. Niscaya berguna sekali ziarah itu.

No comments for "Muka Kuburan"