Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Inspirasi Prestasi Dari Zohri

Di tengah keterbatasannya,  seorang Zohri mampu meraih prestasi yang membanggakan.  Mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.  Lalu Muhammad Zohri,  seorang pemuda asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada usia 18 tahun menjadi juara dunia dalam ajang lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. Tidak tanggung-tanggung,  Zohri pun membuat rekor dengan menjadi manusia tervepat dari Indonesia yang mampu menjuarai lomba dengan 10,18 detik atau 1,2 meter per detik. Prestasi yang sangat besar ini mampu diraihnya  berangkat segala kekurangan.

Melihat kondisi rumah Zohri saat sebelum renovasi,  tahulah kita bahwa Zohri berasal dari keluarga miskin. Rumahnya berdinding anyaman bambu. Perabotan rumah yang kurang layak.  Genteng yang sudah pecah disana-sini. Ayahnya nelayan,  kadang-kadang jadi buruh tani.  Orang tuanya bahkan tidak mampu membelikan sepatu sekolah.  Zohri pun terpaksa berjalan kaki sekitar tiga kilometer, disaat teman-temannya nyaman ke sekolah dengan kendaraan.

Zohri pun kesulitan beli sepatu lari. Saat berangkat lomba ke Finlandia, hanya berbekal uang Rp.  200 ribu pemberian dari kakaknya. Harus kita akui,  sebelum Zohri juara,  kita tidak mengenal siapa dia.  Begitu pula saat bertanding. Tanpa kontingen,  tanpa ada yang menyambutnya,  dan bahkan tanpa persiapan bendera kebangsaan saat merayakan kemenangan. Sangat miris,  ketika kita menyaksikannya berpose diapit atlet USA yang keduanya mengenakan bendera negaranya.

Namun Zohri tidak berkecil hati. Dia tahu,  konsekuensi menjadi atlet di Indonesia. Harus berjuang sendiri.  Dengan penuh keyakinan bahwa dia bakal juara. Itulah targetnya.

Prestasi Zohri ini menginspirasi kita.  Bahwa,  kekurangan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi. Kemiskinan bukan penghadang meraih kemenangan. Sang juara menganggap keterbatasan sebagai tantangan untuk menang.  Seperti kata ungkapan,  pelaut ulung dilahirkan bukan dari lautan yang tenang,  tapi mereka dilahirkan dari lautan yang berombak ganas.  Justru banyak orang besar dan sukses  berasal dari keterbatasan itu. Misalnya sosok Habibie,  yang untuk meneruskan belajar di Jerman,  harus pakai dana sendiri, bukan dari beasiswa seperti mahasiswa lainnya. Atau,  seperti Anis Matta yang pernah menjabat wakil ketua DPR RI, yang ketika mondok di pesantren bahkan makan dengan nasi dan kecap selama enam tahun.  "Nasi  kecap itulah yang membuat kita menjadi orang besar" begitu katanya.

Kesuksesan adalah hak setiap orang. Tidak hanya untuk orang kaya dan mampu saja. Kemiskinan bukan takdir.  Kemiskinan bisa diubah dengan kemampuan dan kerja keras.  Tidak ada yang tidak mungkin.  jika kita mau usaha,   cita-cita pun dapat kita raih.

Seorang Zohri telah menyadarkan kita bahwa perjuangan meraih kesuksesan memang berat.  Senyap dari apresiasi,  sedikit bantuan.  Bahkan harus berjuang sendiri. Mungkin,  banyak yang harus diurus negara. Jadi rakyat harus bersabar.  Kan,  negara kita banyak masalah yang harus diselesaikan.

Namun,  setelah Zohri memenangi lomba,  baru pemerintah peduli. Zohri diganjar bonus ratusan juta rupiah dari pemerinta lewat kementerian pemuda dan olahraga. Bonus itu,  semoga cukup untuk mengganti kerja keras dan perjuangannya selama ini.  Tidak berlebihan jika bonus itu memang wajar sebagai penghargaan,  berkatnya nama Indonesia disebut berkali-kali oleh dunia. Tidak itu saja,  bahkan rumah Zohri direnovasi oleh TNI. Rumah yang penuh kenangan itu sebetulnya tidak mau diubah,  mengingat banyak hal hebat berawal dari sana.  Namun tentu saja Zohri berhak mendapatkan penghargaan yang lebih.

Kehidupan ibarat roda.  Jika sebelumnya kehidupan Zohri berada di bawah,  saat ini takdir berpihak padanya,  Zohri sedang berada di atas.  Selanjutnya,  kita berharap Zohri tetap fokus dan tidak gelap mata tergiur hal-hal yang bisa merusak reputasi dan prestasinya. Mata bangsa ini sedang melihat kepadanya. Bukan tidak mungkin, prestasi Zohri 'dimanfaatkan'.  Dan biasanya itu cikal perusak prestasi. Biasanya,  bintang baru silau dengan glamour harta.  Mendadak populer,  bisa menjadi senjata beracun yang mampu membunuh prestasi seseorang. Banyak contohnya.  Sebut saja anggota brimob  yang jadi artis,  Norman Kamaru, pesepakbola yang jadi artis, namun kemudian meredup karirnya.  Atau menilik seorang pesepakbola bola muda Indonesia, Syamsir Alam yang sempat digadang-gadangkan menjadi rising star timnas Indonesia, sering terlihat mondar mandir di layar televisi, juga menjadi bintang tamu,  akhirnya gagal bersinar pula. Saat ini Syamsir nyaris tidak terpakai. Karir di lapangan hijaunya habis.

Jadi untuk saat ini, biarlah Zohri fokus dengan latihan-latihan dan kompetisi-kompetisi yang akan dihadapi. Tahan dulu tawaran iklan,  kontrak-kontrak,  dan godaan popularitas semu lainnya.  Semoga Zohri terus meraih prestasi-prestasi lain yang lebih tinggi. Aamiin.

Post a Comment for "Inspirasi Prestasi Dari Zohri"

Berlangganan via Email