"Ketika Anakku Bilang, "Jangan Apalagi, Ayah?"


Seperti biasa, mengantisipasi anak minta jajan atau yang lainnya,saat pergi ke warung saya sudah mewanti-wanti. Hal ini berlaku saat mau ke pasar dan lainnya. Karena terlalu seringnya, bahkan anak saya sudah hafal dengan isi 'perjanjian' antara kami.

"Jangan rewel ya"
"Jangan minta robot ya"
"nggak minta mainan ya..."
"nggak minta tembakan ya..."

Hingga si sulung bisa mendaftar apa saja yang tidak boleh dilakukannya.

"Nggak boleh rewel...nggak boleh minta mainan... nggak boleh minta robot..." Ucapnya saat di atas motor ketika dalam perjalanan ke warung.

"Nggak boleh apa lagi, Ayah?"

Deg. Ketika itu saya langsung terasa sesuatu. Para orang tua tentu pernah dengar atau mungkin baca tentang ilmu parenting larangan berkata 'jangan' yang tak lama kemudian ada bantahannya lagi.

Menurut saya,tentu semua lebih baik jika dalam kondisi pertengahan. tidak terlalu banyak larangan, juga tidak semua serba boleh.

Ada beberapa hal yang memang perlu dikatakan jangan. Utamanya hal yang sangat prinsip. Misalnya kesopanan dan ketidaksopanan.

Dan kemudian,jika banyak hal yang menjadi larangan, kok terasa memberatkan dan membatasi geraknya. seolah-olah itu menjadikan hal yang sangat perlu diperhatikan dulu.

Seperti,
Jangan lari-lari ya
Jangan lama ya mainnya
Jangan main disana
Jangan bawa mainan itu

Kalimat larangan itu identik dengan kalimat negatif atau pasif. Mungkin kalimat di atas bisa diubah menjadi kalimat yang positif atau aktif.

Jalan pelan-pelan ya
Mainnya sebentar aja ya
Mainnya disini aja
Bawa mainan yang ini aja ya...

Sedikit renungan, hanya pendapat pribadi.

No comments for ""Ketika Anakku Bilang, "Jangan Apalagi, Ayah?""