Betah Di Sekolah, Di Sekolah Betah

Alhamdulillah. Kalau biasanya, anak nggak mau berangkat ke sekolah,  anak saya malah nggak mau pulang sekolah. Dia betah di sekolah. Jika bel Pulang sudah berbunyi,  masih asyik dia di sekolah. Saat saya jemput, nanti-nanti jawabnya.  Pengen tetap di sekolah.  Walaupun saya juga sudah mau pulang juga.



Sampai-sampai,  pernah dua hingga tiga kali saya datang menjemput, tapi Jundi tak mau pulang juga.  Asyik bermain dengan temannya.  Selain itu  di sekolah tersedia banyak mainan. Itulah pula yang membuatnya betah berlama-lama di sana.

Begitulah, di waktu kecil,  sekolah itu sungguh menyenangkan. Seorang anak betah di sekolah. Sekolah menjadi tempat yang dirindukan.  Ingin segera berangkat sekolah, di waktu malam dia segera tidur,  supaya segera pula pagi datang.  Dan,  mereka betah berlama di sekolah.

Sekolah adalah tempatnya bermain. Seperti kata banyak orang,  bagi anak kecil, bermainnya adalah belajar,  dan belajarnya adalah bermain. Itulah kenapa Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah yang dinamai sebagai taman siswa.  Taman itu identik dengan tempat yang indah dan menyenangkan.

Namun,  hal berbeda jika kita lihat pada siswa sekolah menengah. SMP atau SMA misalnya yang Biasanya ogah-ogahan kalau ke sekolah. Jika tiba hari Senin,  rasanya akan bertemu dengan hari yang menjemukan saja.  Di sekolah pun mereka tidak betah.  Ingin segera pulang. Badan ada di sekolah,  pikiran melayang entah kemana.  Raga ada di kelas, tapi tanpa jiwa.  Hal ini bukan saja dialami anak zaman now.  Kita generasi tua pun, begitu dulunya. Ngaku aja. Hehehe

Ini menjadi sebuah renungan, terutama guru, sekolag, praktisi pendidikan, dan pemerintah yang berkaitan supaya menghadirkan suasana sekolah yang menyenangkan bagi anak.  Entah itu bagaimana caranya. Mengurangi muatan pelajaran bisa menjadi solusi. Supaya tidak terlalu banyak yang menjadi beban anak.  Pendidikan kita sering dikatakan terlalu banyak memuat mata pelajaran. Ini mungkin yang menjadikan sekolah terasa 'menakutkan'. Atau,  perbanyak aktivitas di sekolah. Sehingga mereka terus aktif bergerak,  dapat menyalurkan energinya ke hal yang positif.

Dan kemudian saya menyadari, kecintaan anak saya pun mungkin akan semakin berkurang seiring bertambah tinggi jenjang sekolahnya, sebagai mana itu terjadi pada saya,  dan jutaan pelajar di negeri kita.  Dan jika itu terjadi,  saya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu umumnya terjadi. Meski begitu, saya tidak menyerah begitu saja. Saya yakin,  akan menemukan cara bagaimana membuatnya tetap cinta pada sekolah. InsyaAllah.

No comments for "Betah Di Sekolah, Di Sekolah Betah"