Keteladanan Sebagai Jati Diri Guru

(Terbit di Kabar Banten edisi 25 AAgustus 2018)

Rabu malam (15/8)  saya bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kehadiran saya bersama 34 peserta lain sebagai juara lomba Menulis artikel,  jurnalistik  dan fotografi yang diadakan oleh Kemendikbud. Bagi banyak orang  bertemu dengan seorang tokoh adalah hal yang membanggakan. Apalagi seorang menteri.

Sayangnya, harapan kami bisa bertemu  jarak dekat dengan beliau tidak kesampaian. Memang, di acara itu bersamaan dengan pemilihan guru berprestasi tingkat nasional. Jadi lumayan padat.  Waktu pun diatur sedemikian rupa sehingga benar-benar rapat.

Sebelum pengumuman, para guru yang berasal dari seluruh penjuru provinsi unjuk kebolehan menampilkan tari daerah kebudayaan daerahnya masing-masing. Saya kebagian penampilan dari Papua,  Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Barat, Jakarta, dan Sumatera Barat. Bangga sekali melihat bapak/ibu guru yang meski sudah berumur tetap semangat menampilkan penampilan terbaiknya.  Peserta di ruangan itu sangat menikmati sajian tari daerah.
Mendikbud datang sesudah waktu Maghrib. Setelah tidak berapa lama Mendikbud duduk, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.  Namun pada acara itu,  Indonesia Raya dinyanyikan dengan tiga stanza.  Jadi lebih panjang dan lebih lama.  Tapi tidak mengapa.  Aslinya Indonesia Raya yang digubah WR Soepratman juga tiga stanza.  Entah kemana, populernya satu stanza saja.
Maka, malam itu banyak guru yang mendapatkan pengalaman baru. Dan memang, terasa lebih kuat semangat nasionalisme saat itu.  Ternyata, lebih banyak muatan semangat di tiga stanza lagu Indonesia Raya itu. Bertambah tebal pula nasionalisme kita.  Terbawa suasana yang khidmat juga.

Kuncinya Keteladanan Guru

Dalam sambutannya, Mendikbud Muhadjir Effendy menyinggung pentingnya keteladanan dari seorang guru.

"Keteladanan guru adalah jati diri.  Pengaruh guru sangat besar bagi peserta didik.  Bahkan dalam beberapa kasus, pengaruh guru mengalahkan pengaruh orang tua" katanya.

Tidak jarang, anak mengacu pada perkataan dan perbuatan gurunya. Seperti,  "Kata Bu Guru sebelum makan kita harus cuci tangan",  "Kata Pak Guru,  kita tidak bokeh merokok",  atau "Kata Guru di sekolah,  baca buku itu penting".

Ampuhnya sosok guru dalam mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak-anak.  Maka,  jaga perilaku kita, sebab akan ditiru oleh mereka.

Mendikbud menyebutnya other significant, pada beberapa kasus psngaruh keteladanan dari guru ini bahkan dapat mengalahkan pengaruh dari orang tua sekali pun.

Keteladanan juga menjadi akar rumput pendidikan karakter yang sedang digalakkan oleh pendidikan kita saat ini.  "Ibarat akar rumput,  jika akarnya kuat, menghunjam kuat ke tanah, aktif mencari dan menemukan gizi yang nantinya diberikan untuk rumput" terangnya.
Keteladanan menjadi hal yang paling disorot dalam dunia pendidikan kita.

Kondisinya seperti gelombang air laut, permukaannya pasang surut. Ranah pendidikan dihiasi dengan prestasi dan pelanggaran. Silih berganti pemberitaan tentang keteladanan buruk guru yang ditunjukkan oleh guru mulai dari tindak kekerasan, pembunuh karakter siswa,  ketidakdisiplinan, diskriminasi peserta didik,  hingga pelecehan seksual.

Cara yang paling efektif mengajarkan kepada anak adalah dengan memberikan keteladanan,  bukan sekadar nasehat atau kata-kata.  Satu keteladanan lenih berharga dari seribu kata-kata (anonim).

Guru yang berhasil adalah guru yang dapat memberikan inspirasi kepada peserta didik,  dicintai dan menjadi panutan (teladan)  bagi anak.  (Ratna Megawangi : 2004).

Keteladanan adalah barang mahal yang sulit didapat di negeri ini. Berapa banyak figur yang harusnya memberikan keteladanan, justru menjadi pihak yang meruntuhkan pondasi keteladanan itu. Tidak terkecuali para pemimpin kita.

  Padahal, sayyidina Ali berkata, "Siapa yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin orang lain, hendaknya dia mulai dengan mengajar dirinya sendiri sebelum mengajarkan orang lain. Biarlah ia mengajarkan orang lain dengan perilaku sebelum dengan tutur katanya. Orang yang mengajar dirinya sendiri adalah lebih berhak dimuliakan dan dihargai daripada orang yang hanya menasihati orang lain".
Indonesia memang sedang diuji dengan berbagai krisis di berbagai bidang kehidupan baik itu pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lainnya.

Melimpahnya sumber daya alam kita belum mampu menghantarkan pada kemakmuran. Rakyat miskin masih banyak. Kesenjangan si kaya dan si miskin masih kentara. Hukum belum ditegakkan dengan adil. Masih tebang pilih. Koruptor dipenjara, dengan fasilitas sel yang mewah. Pengedar narkoba dihukum ringan,  dapat remisi pula.  Sementara, maling ayam babak belur, terduga atau tercurigai mengambil ampli mati dibakar massa.
Permasalahan itu tidak kunjung terurai.  Beberapa solusinya ditemukan  tapi belum maksimal mengurai benang kusut itu.

Tidak lain hal ini karena minimnya keteladanan. Berbagai program dibuat dan dicanangkan, namun kurang berhasil karena kurangnya keteladanan dari para pemangku kebijakan,  mereka pula yang melanggar.  Masyarakat bawah pun ikut-ikutan melanggar.

Seperti resonansi,  ikut bergetarnya sebuah benda akibat getaran dari sebuah benda yang lain,  kebaikan dan keteladanan berpengaruh dan dapat menggerakkan orang lain untuk berbuat kebaikan pula.

Efek yang ditimbulkan kebaikan adalah pahala berlipat yang akan diterima. Maka, mari berbuat kebaikan sekecil apa pun.  Solusi yang paling tepat menghadirkan perubahan di negeri ini adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjadi teladan yang baik.

No comments for "Keteladanan Sebagai Jati Diri Guru "