Pada suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid bersama para sahabat. Saat itu sedang ada majelis ilmu. Kemudian, tiba-tiba datang seorang Arab Badui ke mesjid, menghampiri salah satu sudutnya, kemudian dengan seenaknya kencing di sana. Para sahabat langsung gaduh dan siap-siap menghalau orang yang tak tahu diri ini. Namun reaksi Rasulullah berbeda. Beliau meminta para sahabatnya menahan diri dan membiarkan si Arab Badui itu menyelesaikan hajatnya. Setelah itu beliau meminta para sahabatnya agar  membersihkan tempat yang dikencingi dengan menyiramkan air ke atasnya. Tidak ada perintah untuk menyeret keluar, menendang atau menghajar Arab Badui yang telah 'kurang ajar' berani-beraninya kencing di masjid.
Begitulah, Rasulullah memiliki sikap yang sangat bagus dalam menyikapi umatnya. Beliau melarang para sahabat untuk menghardik orang ini karena ada bahaya yang ditimbulkan di balik itu. Di antara bahayanya jika dihentikan seketika adalah aurat Arab Badui ini bisa terbuka karena kaget, sehingga berbalik, atau celananya kemungkinan bisa terkena najis. Bahaya lebih besar jika Arab Badui ini berlari kaget yang dapat mengakibatkan air kencingnya terserak kemana-mana. Tindakan Rasulullah sudah tepat dan bijaksana.
Hari-hari ini kita disuguhkan atmosfer interaksi antar sesama yang kian memanas. Sumbernya dari aktivitas politik kita. Baru-baru ini telah terjadi persekusi di Pekan Baru terhadap seorang emak-emak yaitu Neno Warisman. Dia adalah salah satu penggerak gerakan Ganti Presiden 2019 (GP 2019). Neno Warisman dianggap mengadakan gerakan makar melalui GP 2019, sebuah gerakan yang berupa mengganti pemerintah yang sekarang. GP 2019 dan Neno Warisman dianggap berbahaya sehingga sekelompok anak muda yang berkepentingan menjaga stabilitas negara. Kelompok (yang merasa) pancasilais itu merasa berkewajiban melakukan tindakan yang dapat merugikan negara sekecil apapun.
Tujuh jam Neno dikepung di bandara. Tak bisa keluar. Mobilnya dilempari batu yang entah didapat dari mana. Padahal lokasi bandara, dari mana cari batu? Neno hanya diamankan polwan. Entah kemana Bapak polisi. Mungkin bingung juga.  Demi menjaga keamanan, akhirnya Neno dipulangkan. Katanya, boarding pass sudah disiapkan. Berarti kalau begitu, kepulangannya sudah disiapkan pula.
Gerakan yang mencoba membungkam GP 2019 terjadi dimana-mana seiring massifnya GP 2019 itu sendiri. Di tempat lain, ada seorang emak-emak yang dipaksa buka bajunya oleh oknum preman yang mengaku paling Pancasilais, paling NKRI, dan paling lain-lain. Ini adalah tragedi yang tidak lucu. Miris. Padahal kubu mereka mengatakan bahwa kaos tidak akan bisa mengganti presiden. Kaos bisa apa? Tapi hari ini mereka justru panik. Hilang akal sehatnya sehingga menghalalkan kekerasan untuk membendung gerakan GP 2019.
Segawat apa sih GP 2019? Jika dianggap GP 2019 sebagai gerakan makar, coba lakukan sedikit analisa ini. Siapa dibalik gerakan itu? Tokoh utamanya Mardani Ali Sera (Politisi PKS), Neno Warisman, dan Amien Rais (tokoh PAN). Lihat secara fisik mereka. Sepertinya tidak ada wajah pembuat makar disana. Tidak sangat atau menakutkan. Badan mereka kecil. Pun tidak punya sumber daya seperti kekayaan atau kekuatan besar yang mereka miliki. Mereka biasa-biasa saja. Layakkah dengan mereka para penentang GP 2019 takut? Patutkah mereka yang badan gede, wajah sangar, dan bergerombol memperkusi emak-emak yang tidak berdaya? Dan jika dilihat dari partai mereka, partai mereka pun bukan partai yang memiliki banyak sumber daya, kekuatan, dan banyak uang. Lalu apa yang patut dikhawatirkan?
Menggerakkan massa untuk menyerang ibu-ibu yang jualan kaos GP 2019 dan kemudian menyobek jualannya? Akal sehat mana yang membenarkan perbuatan mereka? Itukah mereka yang berani dengan emak-emak yang bangga menyebut dirinya paling pancasilais?
Ayolah, berpolitik dengan dewasa. Santai saja. Pertarungan kita bukan secara fisik. Seperti kata pengamat politik, direktur Voxpol Center, Pangi Syarwi, "Jangan sampai karena pemilu lima tahunan, sesama anak bangsa dihadap-hadapkan, diadu domba. Kita sebangsa dan setanah air. Cukup bertarung narasi dan gagasan saja" katanya. Padahal, ada pula gerakan Jokowi 2 Periode yang juga ada deklarasinya, berjalan aman-aman saja. Tidak ada pendukung GP 2019 yang berusaha menghalang-halangi. Apalagi memperkusi orang-orang itu. Bahkan di suatu daerah terdapat spanduk-spanduk Jokowi 2 Periode yang tetap terpasang selama satu bulan. Tidak dirusak atau diturunkan.
Padahal dari perseteruan itu, kita dapat apa? Bukannya saling bersatu, kita malah saling berseteru. Bisa jadi, dua tokoh sentral Jokowi dan Prabowo tidaklah sefrontal kita dalam bermusuhan. "Politisi, usai mereka bertengkar, mereka akan segera duduk bersama lagi di meja makan. Sementara yang dibawah udah pade ngasah golok" kata da'i sejuta umat, KH Zainuddin MZ.
Seperti yang terjadi pada Rabu (29/8) kemarin, Jokowi dan Prabowo berpelukan. Peristiwa langka ini terjadi saat pesilat Hanifan Yudani Kusumah melakukan selebrasi kemenangan saat berhasil mengalahkan lawannya. Elit kita gampang akur. Kita juga harusnya gampang akur juga.



0 Comments