Pulang dari  sekolah, Ayahku membawa bingkisan. setelah dibuka, ternyata isinya cilok. Aku senang sekali. Cilok adalah makanan khas Bandung. Rasanya pedas-pedas, kenyal jika dikunyah-kunyah.

Ayah bawa dua bungkus cilok. Kata ayah, satu dulu dibuka. "Kalau sudah habis, baru buka satu bungkus lagi. Jangan sekaligus, kalau tidak habis nanti mubazir" pesan Ayah.

Ibu segera bawa mangkuk, garpu dan pisau. Dengan cekatan ibu memotong cilok menjadi beberapa bagian. Cilok yang dibawa Ayah memang besar-besar. Dengan dipotong menjadi kecil-kecil, jadi mudah memakannya.

Setelah selesai ibu memotong, aku disodorkan garpu. Meskipun sudah beberapa kali makan cilok, tetap saja harus hati-hati mencoloknya. Cilok yang kenyal cukup susah diambilnya.

Benar saja, pas pada colokan pertama, cilok yang kenyal itu tiba-tiba terloncat. Sialnya, jatuh di tumpukan jemuran ibu yang baru saja dilipat. Saat itu di ruang tengah ibu sedang melipat jemuran.

"Adik... hati-hati. Pakaian jadi kotor itu, kena sambal cilok,"seru ibu.

"Maaf, Bu..." Segera kuambil cilok yang saat itu nangkring di atas pakaian. Namun kali ini karena gugupnya, aku tak memakai garpu, tapi dengan tangan saja.  Eh, tak disangka, justru semakin sulit mengambil cilok dengan tangan. Licin. Tak mudah diambil. Justru, cilok itu meloncat lagi, ke tumpukan pakaian yang di sebelahnya. Aku terkejut, saat ibu kembali menegurku.

Akhirnya ibu yang mengambil cilok. Dengan cekatan ibu tusuk cilok itu dengan garpu. Ibu tak mau pakaiannya semakin banyak yang terkena cilok.

"Lain kali harus hati-hati kalau makan cilok. Tusuk dengan hati-hati supaya tidak loncat," kata ibu. Ayah mengangguk mengiyakan. Aku menghitung, ada tiga pakaian yang harus dicuci ulang, padahal baru saja kering dari jemuran. Aku menyesali kecerobohanku.

Cerita Anak. Cerpen Anak
#cerpen_anak
#cerita_anak

0 Comments