Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Resensi Buku Patah Hati di Tanah Suci


Dinamika Cinta Tentang Keluarga
Buku ini adalah catatan napak tilas dari novel-novel Tasaro GK sebelumnya yaitu Generasi Penggema Hujan, Sang Pewaris Hujan, Para Pengejaran Hujan, dan Lelaki Penghentian Hujan. Novel tersebut adalah kisah Rasulullah yang disajikan dalam bentuk novel sehingga membuat pembaca tidak merasa ‘berat’ mempelajari sirah (sejarah) R.asulullah. Patah Hati di Tanah Suci (PHTS) adalah surat Tasaro kepada Bapak. Ada sebagian orang yang menjalani hubungan kasih sayang yang kaku dengan keluarganya. Lidah begitu fasih berbicara dengan kerabat jauh bahkan orang asing, namun terasa kelu dan  tak mampu bersuara ketika bersama keluarga dekat. Inilah yang juga dialami oleh Abah. Pada pengakuannya di buku ini, mereka tidak begitu hebat menjalin kasih sayang. Sebagian besar waktunya diwarnai dengan komunikasi yang kurang terjalin. Disadarinya, betapa berjarak hubungan yang mereka jalin selama ini. Tidak banyak percakapan yang mereka lakukan untuk merekatkan hubungan. Namun hal itu tidak melunturkan cinta pada sang Bapak. Bahkan, pergi ke tanah suci adalah pengewajantahan cinta dan takzimnya.
Ke tanah suci bagi sebagian orang tidak bisa digantikan meskipun Dia hadir di tempatNya yang lain. Pun ketika hati sudah berusaha menghadirkan-Nya. Bapak sangat merindukan tanah suci. Cinta pada Rasulullah lebih besar dari itu. Namun warna cinta itu dianggap ‘berbeda’ dengan cinta kebanyakan orang.
Ada rasa nelangsa, ketika mendapati bahwa buku sebagai 'anaknya' justru lebih dulu tiba di tanah suci yang dibawa serta oleh keluarga t(j)inta. Novel-novelnya menggerakkan dan turut mengantarkan orang ke tanah suci, sementara dia belum. "Aku menghardik diriku sendiri.  Mau didoakan berapa kali lagi sampai aku benar-benar mengemas batinku supaya yakin, berangkat ke tanah suci itu hanya perlu cinta yang sungguh-sungguh" (Hal.40)
Dia yang dimampukan menghidupkan kenangan tentang Rasulullah, namun belum digerakkan kakinya kesana. Namun tentunya ada skenario dari Allah yang membuatnya ke tanah suci pada waktu yang tepat. Ke tanah suci tak sekadar bilang rindu, tapi benar-benar mulai mengumpulkan usaha-usaha untuk itu. Setelah menutup semua hitung-hitungan manusia, akhirnya Tasaro mendaftar ke tanah suci. Berkah menyertai niat itu. Keberangkatannya delapan bulan lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bahkan, tidak harus dengan membayar biaya yang lebih dua kali lipat dari yang seharusnya. Ternyata, hikmah dari itu semua adalah supaya Bapak masih ada, ketika Tasaro selesai berkunjung ke tanah suci.
Bapak bahagia dengan berita itu. Bapak yang begitu merindukan ke tanah suci, meskipun belum bisa ke sana, akhirnya anaknya yang ke sanam.  Terkirimlah do'a bahagia itu. Bahkan mengabarkan berita bahagia itu ke banyak orang meskipun tidak ditanya.
Banyak kisah yang diceritakan Tasaro saat berada di tanah suci. Bahwa perjuangan untuk mendekat kepada Allah belum usai ketika sudah berada di sana. Baik itu memperjuangkan diri sendiri, atau membantu orang lain atas pemandangan yang ditemukan. Tak egois, Tasaro membantu supaya jamaah lain yang mengalami kesulitan. Meskipun dia juga ingin fokus ibadah, Setelah kerinduan itu bisa tertunaikan, namun ada panggilan jiwa yang tidak bisa diabaikan; meringankan kesulitan orang lain. Paling sering adalah jamaah yang sudah uzur ketinggalan rombongan. Ada pula jamaah yang penglihatan tinggal 20 % saja. Termasuk membantu Hasan, orang Kashmir yang terlunta-lunta. Awalnya Hasan memiliki kontrak kerja, namun kemudian diputus. Sementara, dia kehabisan ongkos untuk pulang. (Hal. 101).
Lalu ada seorang pemuda, berwajah Pakistan, meminta bantuan untuk sarapan. Meskipun terasa baginya terasa janggal; dilintasan sa'i, dan katanya tinggal di hotel, tetap diberikannya pecahan 50 real terakhirnya, dia keluar lintasan sa'i menuju ke ATM.  Padahal, terakhir ke ATM, dia berjanji tidak akan ada lagi penarikan uang, supaya tidak pusing saat kepulangan. Namun, mengingat kedermawanan sang ibu saat masih ada,  membuatnya tidak bisa menolak setiap permintaan.
Tidak hanya cinta pada sang Ayah, namun Tasaro GK juga mengulas keluarga t(j)inta, sebuah komunitas pembaca karya-karya Tasarilo GK. Dia menyebutnya keluarga, dan menghindari penyebutan fans club. Baginya, mereka itu adalah sebuah keluarga. Beberapa kali mengadakan pertemuan kopdar yang sering disebut Olimpiade T(j)inta.
Kisah-kisahnya dalam perjalanan haji membuat kita terharu. Mengaduk-aduk emosi kita. Sering kali cepat emosi itu berganti. Dari haru menjadi lucu. Lihai betul penulis menyelipkan lelucon alami terjadi. Untuk orang yang akan pergi ke tanah suci, novel ini sangat penting untuk dibaca. Supaya tidak egois, dan menjadikan umroh/haji lebih bermakna. Meskipun sedang beribadah, tidak lantas abai pada yang terjadi di sekitar kita. Untuk yang belum diberikan keinginan ke sana,  novel ini menyentuh kesadaran kita untuk menggelorakan kerinduan berkunjung ke tanah suci.

Judul Novel : Patah Hati di Tanah Suci
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Juli  2018
Tebal Halaman : viii + 176 halaman
ISBN : 978-602-291-411-2
Peresensi : Supadilah


Post a Comment for "Resensi Buku Patah Hati di Tanah Suci"

Berlangganan via Email