Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liburan Asyik Tanpa Gawai

Liburan Asyik Tanpa Gawai

Liburan sekolah tiba. Aku senang sekali. Liburan kali ini, Ayah mengatakan kami akan berlibur ke rumah Eyang di Jogjakarta. Kata Ayah, disana akan ramai karena keluarga lain pun datang juga. Dari Jambi, Banten, dan Kalimantan.

"Manfaatkan liburan dengan silaturahim bersama saudara. Untuk saling mengenal, mengobrol, dan bermain bersama. Sampai di sana, jangan main hape saja ya..." Begitu pesan Ayah saat masih di rumah.

Pesan itu sepertinya penting sekali. Ayah dan ibu sering mengulang-ulang. Bahkan saat berada di kereta api Jayakarta yang membawa kami dari stasiun Pasar Senen ke stasiun Tugu Yogyakarta. Begitu juga ketika sudah sampai di rumah Eyang, kembali pesan itu diulang lagi.

Benar saja. Di rumah Eyang sana sudah ramai dengan saudara. Ada delapan anak-anak seusiaku.

"Assalamualaikum..." kata Ayah mengucap salam.

"Waalaikumussalam... Eh Mas Padil, mbak Tantri, ini Jundi kan ya?" Eyang menjawab salam. Ada juga Pakde dan Bude serta anak-anak di belakangnya.

"Iya Eyang, ini Jundi. Jundi, salam dulu sama Eyang dan Pakde-Bude," kata Ayah.

Sesudah bersalaman dan ngobrol sebentar, kami kemudian terbagi dua kelompok. Para orang tua duduk di kursi ruang keluarga, kami para anak kecil lesehan di lantai.

Ada satu anak yang sedang asyik bermain gawai. Entah permainan apa. Tapi kelihatannya seru. Suaranya menggodaku. Sebetulnya anak-anak yang lain pun kelihatannya tertarik untuk bermain gawai juga.

Lalu ada anak yang lain, bertanya pada ibunya. Mau meminjam gawai. Ingin main gawai juga. Ternyata diberi. Saat itu aku melihat ke ayah. Ayah segera tahu maksudku. Pikirnya, aku mau pinjam gawai.

"Jundi apa masih ingat pesan Ayah, kalau kita sampai di rumah Eyang, main sama teman ya," Ayah mengingatkan.

Aku tersenyum. Ayah masih ingat. Aku juga ingat betul dengan janjiku. Tak ingin aku melanggar janji.

Gawai sangat menarik perhatianku. Tapi aku bisa berbuat apa? Akhirnya aku bergabung dengan yang lain. Ikut menonton di gawainya.

Tidak berapa lama, para saudaraku dipanggil orang tuanya, ada tiga orang yang tidak dipanggil, termasuk aku.

Rupanya mereka diminta menyerahkan gawai yang sedang dipegang. Ada beberapa yang kebingungan, tapi itu tidak lama. Mereka menyerahkan gawai, sambil tersenyum. Ada yang meminta janji, nanti dibolehkan main lagi.

Akhirnya, kami semuanya tidak ada yang pegang gawai. Andri, anak terbesar dan tertua mengajak lempar botol yang lebih populer disebut flip bottle challenge. Andri tahunya dari internet. Pada permainan ini, kita harus melempar botol  plastik berisi air yang harus mendarat dengan posisi berdiri. Lemparan botol harus rolling di udara.
Kami pun segera mencari botol. Tidak sulit. Kami yang dari bepergian jauh, banyak memiliki botol minuman sebagai bekal di jalan. Tidak berapa lama, terkumpul dua belas botol. Botol yang masih ada airnya kami kosongkan dulu dengan meminumnya. Kemudian diganti dengan air mentah.

Permainan ini gampang-gampang susah. Harus beberapa kali baru berhasil mendaratkan botol dengan posisi berdiri. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kami berhasil. Masing-masing menghitung sendiri. Riuh suara botol beradu dengan lantai. Tidak berirama. Membuat ruangan menjadi ribut. Akhirnya orang tua kami menyarankan pindah ke teras rumah.

Tak mengapa. Kami pun pindah. Malah lebih bebas, lebih ribut. Sudah beberapa kali kami mencetak skor. Sekitar lima belas menit, masing-masing meneriakkan skor. Au sudah dua belas kali, Andri dua puluh empat, Yayan dua puluh, Rani lima, Yadi sembilan kali. Lainnya tetap asyik lempar melempar.

Namun lama kelamaan, kami bosan juga dengan permainan itu. Kami kemudian berganti permainan.

Masih tetap menggunakan botol dan air, kali ini kami mau bowling dengan botol dan air tadi.

Botol kami susun. Ada delapan botol. Satu botol dipakai untuk melempar. Jika botol jatuh, dapat nilai dua. Yang paling banyak dapat nilai, berhak dapat hadiah.

Pertama kali lempar meleset, aku pun begitu. Lembaran Salman baru kena satu botol, Andri bisa tiga botol. Botol yang sudah roboh diberdirikan lagi. Sampai semua mendapatkan giliran belum ada satupun yang berhasil merobohkan semua botol.

Putaran kedua putaran banyak yang bisa lebih tepat lemparannya. Bahkan Umar berhasil merobohkan semua botol.  Maka Umar pun mendapat nilai sempurna.

Lalu terjadilah insiden. Tidak sengaja lemparanku melenceng jauh sehingga terkena gelas kaca yang terkenal tidak jauh dari tumpukan botol.
Prang!

"Waduh, pecah deh gelasnya. Kamu sih kencang banget lemparnya."

"Iya maaf, aku nggak sengaja"

"Nanti hati-hati lagi ya."

"Iya, kurang hati-hati tadi. Nanti aku berusah lebih teliti ya.'

Ayah ibu melihat dari jauh. Tidak memarahi. Hanya tersenyum ketika aku mengambil tissu untuk mengambili pecahan gelas dan membuangnya ke tong sampah. Saat aku membersihkan, saudara yang lain ikut membantu membereskan. Permainan kami terhenti sebentar.

Sejam kemudian kami pun bosan. Lalu ada yang mengusulkan bermain petak umpet. Dengan kemauan kami bersama seharian itu kami asik dengan melakukan berbagai permainan. Berpindah-pindah dari suatu permainan ke permainan yang lain,  sampai kemudian hari sudah sore dan kami dipanggil untuk makan malam.  Hari itu tidak ada bermain gawai. Begitu juga di hari-hari selanjutnya sampai genap empat hari ke depan.

Ternyata asyik juga liburan seperti itu. Tidak sibuk masing-masing dengan gawai. Kami asyik main. Bergerak bersama dengan permainan yang mengakrabkan sehingga terhindar dari individualitas. Bertambah erat persaudaraan kami. Tadinya asing, sekarang karib.

Ibu mengatakan,
"Momen seperti ini jarang terjadi. Mungkin tidak selalu sama tahunnya. Jadi harus dimanfaatkan betul supaya tidak mubasir segala pengorbanan baik itu biaya, waktu, dan tenaga."

Ayah menambahkan,
"Kita jangan mau disetir oleh gawai. Manusialah yang harus menyetir penggunaan gawai. Jadilah manusia yang bijaksana dengan menggunakan gawai sepatutnya dan seperlunya."


Begitu pesan yang disampaikan Ayah dan ibu katakan saat kami berada di kereta menuju pulang.

Cerita Anak
Anak Kreatif
Anak Indonesia

Post a Comment for "Liburan Asyik Tanpa Gawai"

Berlangganan via Email