Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mantan yang Menyenangkan


Sejelek apa pun mantan, dia pernah menjadi bagian dari kehidupan kita. Dan pula pernah ada ada romantisme. Jika kemudian berpisah, tentu ada perpisahan baik-baik dan ada pula perpisahan yang tidak mengenakkan.

Adakalanya hubungan dengan mantan masih terjaga. Sang mantan masih baik, hormat, dan tidak menjelekkan mantannya. Masih respek.

Tapi adakalanya juga mantan seperti kacang lupa kulitnya. Melihat mantan yang dicintainya dulu seakan mau muntah. Yang terlihat hanyalah keburukan, kekurangan, dan kejelekannya.

Malam tadi adalah malam yang indah bagi Madridista. Dalam laga Derbi Real Madrid kontra Atletico Madrid, anak asuhan Solari berhasil menang dengan skor meyakinkan 3-1 meskipun bermain tandang.

Pada laga yang diwarnai dengan 10 kartu kuning dan satu kartu merah, dua sosok yang disorot.

Mereka adalah mantan pada masing-masing klub. Dua pemain yang saling silang itu adalah Thibaut Courtois dan Alvaro Morata.

Courtois merupakan  mantan ikon penjaga gawang Atletico. Sementara Moratta merupakan mantan striker Real Madrid. Masing-masing punya kenangan prestasi dengan mantan klubnya. Dalam arti bukan sekadar pemain penggembira yang menghangatkan bangku cadangan.

Kedua pemain tadi malam beda nasib. Yang paling ngenes adalah Courtois.
Sepanjang laga dia mendapat siulan dari publik tuan rumah. Siulan itu identik dengan ejekan. Tentunya ada harapan dengan siulan itu konsentrasi Courtois jadi pecah, groginya muncul,  kemudian bermain buruk. Syukur-syukur membuat blunder.

Bahkan ada satu spanduk yang sangat memprovokasi kiper timnas Belgia ini. Sebuah spanduk Thibu Rata membentang tepat di belakang gawangnya. Bukan tidak mungkin beberapa kali terbaca olehnya.

Jadikan ejekan sebagai cambuk pelecut untuk menunjukkan kemampuan dan berprestasi.

Siulan dan ejekan itu malah menjadi motivasi bagi Courtois. Meskipun  bobol juga gawang Courtois, namun dia mampu membuat beberapa penyelamatan krusial.

Dalam sepakbola, pemain pindah-pindah klub merupakan hal lumrah. Transfer sana transfer sini. Selain kebijakan manajemen, juga karena kemauan sang agen/pemain. Tidak jarang, mereka menjadi penantang bagi mantan klub yang dulu dibela dan membesarkannya.

Ada kalanya mantan mendapatkan sambutan bagus dari suporter mantan klubnya. meskipun pada laga tersebut dia mengecewakan mereka. Dengan membuat gol ke gawang mantan klubnya.

Contohnya Ronaldo yang cetak gol ke gawang Manchester United pada ajang liga Champions 2013.



"Saya tidak merayakan gol ketika mencetak gol ke gawang Manchester United pada empat tahun lalu. Hal itu akan tetap sama pada laga esok," ujar Ronaldo.

CR7 mengatakan tidak akan melakukan
Selebrasi karena dia merasa masih memiliki ikatan dengan Setan Merah yang telah membesarkannya. CR7 mengangkat kedua tangannya. Maaf, maaf.. mulutnya pun terkunci. Namun dia profesional. Tetap harus cetak gol ke gawang mantan. Seusai laga, CR7 mendapat standing applaus dari publik Old Trafford.

Namun ada juga reuni yang buruk. Sang mantan dijamu dengan ejekan. Ingat dengan pelemparan kepala babi ke Luis Figo saat laga El Classico di Camp Nou? Kepindahan Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid tidak bisa diterima oleh Ninas. Sehingga kekesalan itu dilampiaskan dengan insiden tersebut.




Lalu, bagaimana dengan mantanmu?

Post a Comment for "Mantan yang Menyenangkan"

Berlangganan via Email