Tak Mungkin Membeli Waktu


Oleh Supadilah

Salat Subuh telah selesai sejak tadi. Untaian zikir telah disambung doa. Setelah itu para jamaah undur diri meninggalkan masjid. Hanya tertinggal beberapa jamaah usia lanjut yang masih merasa perlu menyambung zikir. Mata mereka terpejam. Berusaha khusyuk pada munajat dan muhasabah mereka. Tapi Satya masih terpekur di sudut masjid, tanpa lisan mengucap zikir atau mata terpejam.

Pak Baka menghampiri Satya. Marbot masjid itu dengan pelan-pelan menepuk punggungnya. Yang ditepuk masih tetap terpekur sementara tatapan matanya kosong. ii

"Satya, hari akan hampir siang. Kau tak hendak pulang?"

Satya cukup hafal dengan suara itu. Satya mengenalnya dengan karib. Dulu dia sering mengundangnya ke rumah. Sekadar makan malam. Atau, kalau tidak, Satya yang mengantarkan makanan untuk Pak Baka. Jika begitu, dia sering berangkat ke masjid lebih awal.

"Pulanglah, anak-anakmu menunggu. Kau pun perlu berkemas-kemas. Kau juga masuk kerja pula, kan?"

Berat mengawali hari ini. Seperti juga hari-hari kemarin. Bahkan hari-hari ke depan. Seberat kesendiriannya. Namun Pak Baka mengingatkannya, bagaimana pun sedihnya dia, ada kewajiban yang harus ditunaikannya hari ini.

Usai mengucap salam, Satya pergi. Diantar tatap kasihan Pak Baka. Satya terlihat kehilangan semangat hidupnya. Meskipun pada setiap lima waktu salat tetap berada di barisan salat di jamaah salat.

Melangkah dengan pelan dan perlahan, Satya menutup pintu dengan hati-hati. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan anak-anaknya. Dari arah dapur ibunya menyambut. Setelah mencium tangan sang ibu, Satya menuju ruang makan.

“Sudah ibu siapkan makanan pagi. Bekal untuk Ilman juga sudah siap. Seragam untuk hari ini sudah rapi di dekat tas.” Ibunya menjawab seperti tahu kerisauan Satya.

Satya menatap sang ibu penuh terima kasih. Kehadiran ibunya banyak membantu kewajiban yang harus di tunaikannya.  Meskipun Satya hendak mengerjakan dan menyiapkan kebutuhannya sendiri namun ibu tetap memaksanya dan membantunya. Seragamnya ke kantor sudah disiapkan dengan rapi. Tapi sudah tiga hari ini dia cuti masuk kantor. Sejak kehilangan isterinya Satya merasa perlu berada di rumah seharian. Diberatkan dengan banyak kewajiban yang harus dikerjakan.

Tidak terbayangkan jika tidak ada ibunya. Selepas kepergian sang istri, dia menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Mengerjakan semua pekerjaan yang selama ini menjadi rutinitas isterinya. Dia merasakan betapa berat menjadi seorang ibu rumah tangga. Mengerjakan pekerjaan rumah yang seakan tiada habis-habisnya.

Saat ada kurang disyukuri. Saat sudah tak ada baru terasa benar dibutuhkan. Meskipun dulu mereka sering terlibat pertengkaran, bahkan kadang terlintas betapa sulitnya menjaga keharmonisan rumah tangga dengan salah paham dalam keluarga, bagaimana pun juga itu masih lebih baik daripada kondisi saat ini. Satya benar-benar kehilangan. Separuh kebahagiaannya hilang bersama dikebumikannya sosok sang isteri.

Satya membayangkan setiap pagi dia harus menyiapkan perlengkapan sekolah sulungnya. Menyiapkan bekal makan, memandikan, memakaikan seragam, dan mengantar ke sekolah. Lalu bagaimana dengan si bungsu? Apa yang terjadi jika saat dia menghadapi si sulung lalu si bungsu rewel dan butuh penanganan saat bersamaan? Bagaimana jika dia harus memandikan si sulung tiba-tiba si bungsu menangis karena haus atau lapar? Bagaimana dengan kebutuhan ASI si bungsu? Pemberian susu formula bisa menjadi alternatif tapi dia tahu pemberian ASI kepada bayi penting menjadi imunitas alami sang bayi.

Semua pekerjaan yang selama jarang disentuhnya tiba-tiba kini harus dilakukannya. Tak ada lagi yang membangunkan untuk segera salat. Tak ada cerewet yang meminta merapikan sandal atau sepatu yang sering asal saja diletakkan. Tak lagi ada pijatan mesra di malam hari menjelang tidur. Dia merindukan telaten isterinya memasang dasi dan merapikan kemeja kerjanya. Siapa  yang akan menyiapkan kopi untuknya? Siapa yang akan menyiapkan air hangat untuknya mandi? Tapi diluar itu semua, terberat yang dirasakannya adalah jika si sulung merengek dan bertanya keberadaan sang bunda.

“Bunda kemana, Yah? Sudah sore begini kok Bunda belum pulang? Kemarin di bawa orang belum pulang, Yah?”

Jika sudah begitu, tak sanggup Satya menjawab. Tak mampu Satya menghadapi. Selalu begitu setiap sang sulung merengek. Lalu ibunya yang datang sebagai malaikat penolong. Beruntung, ibunya selalu berhasil membujuk. Jika si bungsu merengek kehausan, Satya masih tegar membuatkan susu formula dan memberikannya kepada si bungsu. Walaupun dengan hati remuk redam mengingat dia memberikan bukan yang terbaik.  Namun setidaknya si bungsu tidak bertanya yang membuat matanya gerimis.

Tapi Satya bertekad, tidak boleh ada tangis yang terlihat oleh kedua anaknya. Dia harus tegar di hadapan mereka. Dia harus memberikan keteladanan tentang ketegaran.

Disaat itulah dia merasakan begitu berartinya keberadaan sang isteri. Disaat itulah dia mengakui betapa berharga sosok istri. Peran lengkap yang sering kali disepelekannya.
Maka saat itu dia berharap seandainya sang istri masih ada. Seandainya saja isterinya masih hidup. Mau dia memberikan segalanya untuk kehadiran kembali sang isteri. Saat ada tak dirasa, saat tiada baru terasa. Bahkan jika kebersamaan mereka acap kali dibumbui pertengkaran, itu jauh lebih baik daripada ketidaklengkapan mereka.

Satya, untuk apa menyesali hal yang sudah terjadi dan tak akan kembali lagi?

Penyesalan selalu memberikan pelajaran. Dengan begitu kau harus menghargai apa yang kau miliki. 

Keberadaan ibunya sangat membantu. Namun tak mungkin pula akan selamanya di sini.

Ibunya juga masih harus membersamai ayahnya yang di Jambi sana. Waktu itu selesai azan Magrib Satya menyampaikan kabar duka itu. Sang isteri baru saja menghembuskan nafas terakhir mengantarkan buah cintanya yang kedua hadir di dunia. Dalam hitungan jam kabar itu tersiar, ibunya langsung terbang dari bandara Muara Bungo dengan penerbangan yang terdekat. Pada tengah malam, ibunya tiba. Masih sempat ikut memandikan jenazah sang menantu. Tapi tak ikut ke pemakaman karena harus menjagai cucu-cucunya.

Satya telah sering merasakan pahit getirnya kehidupan. Aktivitas organisasi di kampus menempanya menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Kepayahan-kepayahan bertubi-tubi dihadapinya hingga wisuda. Telah tertempa dengan baik menghadapi berbagai permasalahan. Namun kepergian sang istri yang begitu cepat tidak memberikan waktu untuknya mempersiapkan benteng pertahanan.

Dia mengenal isterinya begitu cepat. Sosok yang konsisten menutup aurat itu dikenalnya pada sebuah kegiatan di kampus. Semuanya terjadi begitu cepat. Saat kembali ke kampung keduanya kembali bertemu. Masing-masing sudah menyandang gelar sarjana. Saat Satya yang baru seminggu menjalani pelatihan bagi karyawan baru di bank itu mengajukan lamaran, mantan aktivis kampus yang sudah bekerja sebagai bendahara di sebuah yayasan itu menerimanya. Enam bulan kemudian Satya dipindahtugaskan ke Jakarta. Mendapat promosi. Isterinya resgin. Tiga bulan sesudah itu Satya dipindahkan ke Rangkasbitung. Di sanalah si sulung lahir dengan operasi caesar. Pada kehamilan yang kedua, isterinya berharap bisa melahirkan dengan normal.

“Aku ingin normal, Mas. Alangkah bahagianya jika bisa lahiran normal. Aku ingin bisa merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya”  katanya suatu sore sepulang Satya dari kantor.

Maka dilakukanlah sebuah trik yang akan ‘memaksa’ dokter mengusahakan kelahiran normal meski pun operasi caesar pada kelahiran sebelumnya. Namun mereka tidak memperhitungkan pengecualian kasus dengan trik itu. Saat isterinya menelfon, Satya masih menghadapi rapat perusahaan. Pentingnya laporan membuatnya tak bisa bahkan untuk sekadar menghidupkan ponsel. Beberapa pesan singkat dari isterinya tak sampai. Juga telfon beberapa kali yang juga tak tersambung. Hingga kemudian sebuah telfon dari tetangganya memaksa Satya pulang lebih awal. Di rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Bahkan isterinya belum mengucap pamit.

***

Lagi, malam ini si sulung menanyakan sang Bunda.  Meminta dipijiti punggungnya sebagaimana kebiasaan sebelum tidur ketika sang Bunda masih ada. Satya masih tak mampu memberikan jawaban apapun. Saat neneknya datang, si sulung menampiknya.

"Nggak mau. Jundi nggak mau sama Nenek. Maunya sama Bunda. Mana Bunda? Mana Bundanya?"

Hati Satya kembali remuk redam. Kasihan, iba dan jengkel. Mengapa si sulung tak juga mengerti apa yang berkali-kali dikatakannya. Bundanya tak akan kembali lagi. Bundanya tak akan ada di rumah lagi. Hal seperti ini berulang kali mengetuk pintu kesedihannya. Terbentang beban besar harus ditanggungnya. Terasa seperti sebuah batu besar menggayuti batinnya.

Jika kebahagiaan membuat seseorang berlipat semangat hidupnya, cara kerja kesedihan adalah sebaliknya. Kesedihan bisa membuat seseorang patah semangat hidupnya. Begitu pula yang terjadi pada Satya.

Satya harus membuat keputusan. Untuk masa depan hidupnya, terutama masa depan anak-anaknya. Pagi itu dia menghadap pimpinan perusahaan. Dengan membawa surat pengunduran diri yang sudah disiapkan. Hari itu dia sudah membulatkan tekad untuk mengundurkan diri sebagai wakil pimpinan di perusahaan tersebut.

Satya akan kembali ke tanah tempatnya dilahirkan. Dia akan memboyong semuanya. Mereka akan tinggal bersama ibunya. Sulungnya akan pindah sekolah. Semoga anaknya betah. Hanya butuh waktu untuk membiasakan. Terpenting adalah meninggalkan semua sudut dan suasana yang pernah memberikan ingatan begitu kuat pada kenangannya.

"Besok saya akan terbang ke Jambi. Saya mohon maaf atas tanggung jawab yang tidak tertunaikan.” Setelah sedikit menjawab basa-basi pimpinan perusahaan, Satya mengutarakan maksudnya. Sang pimpinan perusahaan yang menyambutnya terkejut.

"Tidakkah bisa ditunda sehari dua hari, Satya? Pengunduran ini begitu mendadak. Perusahaan ini tentu saja masih membutuhkan sosok sepertimu"

Pimpinan perusahaan berusaha menawar. Namun Satya tetap bergeming. Keputusannya telah bulat. Bahkan jika pengunduran berakhir tanpa pesangon. Satya siap. Namun perusahaan merasa berhutang budi dengan kinerja Satya. Perusahaan menyiapkan yang terbaik untuk Satya.

Sehari kemudian, mereka telah sampai di Jambi. Saat sampai di rumah, tetangga berdatangan. Menyampaikan belasungkawa. Ikut merasakan rasa duka yang mendalam. Paling banyak mengucap kasihan atas kedukaan itu adalah para ibu-ibu. Mereka semakin berlinangan air mata ketika melihat Satya dan si bungsu dalam dekapannya.

"Kasihan sekali. Anaknya masih kecil-kecil.”
“Masih bayi begitu,”

Saat ini yang terfikirkan hanyalah mengurus dan membesarkan anaknya. Terbayang memang akan ada kelelahan dan keletihan yang akan dihadapinya. Dua anak laki-laki semakin rawan terlibat pertengkaran sebagai bumbu-bumbu pengasuhan adalah sesuatu yang lumrah. Kesemuanya itu terbayang dengan pasti. Sepasti keyakinan Satya yang akan mampu melewatinya. Tak mungkin dia membeli waktu untuk mengembalikan sosok isterinya. Bagaimana pun itu adalah suratan takdir yang harus dijalani.

No comments for "Tak Mungkin Membeli Waktu"