Kiat Berinovasi di Era Milenial



(Resensi Buku)Era sekarang dipahami dengan kondisi VUCA (Volatily/ penuh gejolak uncertainty/tidak pasti, complexity/rumit, and ambiguity/serba kabur). Di era itu semua hal harus menyesuaikan. Jika tidak, maka akan tertinggal. Semua hal harus kreatif dan inovatif. Bisnis yang tidak melakukannya akan mundur atau bangkrut. Bukan hanya konsep offline menjadi online tapi mendirikan dan mengelola usaha harus bisa kreatif dan inovatif.

Hal ini dimaklumi karena dunia berubah, bisnis berubah, dan pelanggan berubah.  Setiap usaha pasti mengalami hal ini dan tidak bisa mencegahnya. Berinovasi merupakan sebuah keharusan. Nokia yang tidak mengikuti arus akhirnya bangkrut. Kodak yang tetap bertahan dengan konsep lama juga akhirnya punah. Termasuk ojek pangkalan (opang) yang kian terancam dengan kehadiran ojek online (ojol).

Buku ini menghadirkan kiat-kiat usaha menghadapi era milenial supaya bisa tetap bertahan bahkan menjadi yang terdepan. Asyiknya buku ini dibaca karena disajikan dalam bentuk fiksi sehingga ringan dibaca, mudah diterima, tidak menggurui, tapi aplikatif. Penulisnya adalah Pambudi Sunarsihanto, seorang master coach lulusan Perancis. Telah bekerja di 7 negara dan mengelilingi 45 negara.

Pambudi mengatakan, sehebat apapun produk suatu saat pasti akan mengalami penurunan. Seperti halnya manusia yang lahir, tumbuh menjadi balita, kemudian dewasa, menua, dan akhirnya meninggal. Demikian juga sebuah produk yang dimulai dengan dirintis dahulu, kemudian berkembang pesat,  lalu berkembang,  untung banyak dan pada akhirnya menurun.

Bagi seorang milenial yang hendak memimpin sebuah perusahaan memang biasanya ada perasaan minder atau ragu. Apalagi jika didalamnya ada orang yang lebih senior. Kuncinya adalah percaya diri tetapi tetap mau belajar dari yang lain (hal 24). Seorang pemimpin penting untuk menunjukkan bahwa kita memiliki kompetensi pada yang kita kerjakan.  Selain itu kita juga perlu terbuka, jujur, dan dapat dipercaya serta peduli kepada mereka tidak hanya dalam bisnis tapi juga secara pribadi.

Pambudi mengatakan, sebelum sebuah produk dalam usaha kita menurun ada baiknya disiapkan dulu produk yang baru. Untuk itu, ada lima fase inovasi yaitu  discovery yaitu mengenal kembali organisasi, customer kita, dan relevansi masa depan; ideation atau melahirkan ide-ide untuk produk baru yang akan dijadikan andalan di masa depan;  eksperimen yaitu membuat produk baru;  commercialisation atau pengujian produk baru di pasar; dan execution yaitu meluncurkan produk baru tersebut di semua cabang.

Dalam melakukan inovasi itu kita tidak bisa melakukannya sendiri. Kita butuh tim yang mampu menerjemahkan inovasi itu. Ciri-ciri tim yang terbaik adalah lebih banyak saling belajar, saling mendengarkan, bukan hanya memerintah yang lain dan menghargai kerja tim.

Lalu apa saja karakter inovator itu?  Pertama, curious, selalu ingin tahu dan penasaran. Kedua, creatif, mencari cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah dan menggunakan cara yang belum pernah dilakukan. Ketiga, courageous, tidak takut menghadapi segala halangan baik dalam diri sendiri maupun orang lain. Keempat,  committed, bekerja keras dengan stamina yang tinggi untuk merealisasikan perjuangan. Kelima, clever, menggunakan sejumlah cara yang tepat dengan keterbatasan sumber daya yang ada.

Buku ini juga menghadirkan konsep kepemimpinan baru, mengubah paradigma konsep kepemimpinan yang sebelumnya ada, sehingga bukan hanya tepat dipraktikkan dalam lingkungan wirausaha tetapi juga di tempat lain seperti sekolah, kantor, dan juga lembaga lainnya. Sangat penting untuk para pengambil kebijakan sebagai referensi mereka menjalankan roda organisasi di tempatnya.

(Resensi ini terbit di harian Singgalang edisi Minggu, 10 Maret 2019)

Judul  : Lead The Innovation Game, Menjadi Pemenang Di Era Milenial
Penulis  : Pambudi Sunarsihanto
Penerbit            : Kaifa
Cetakan         : 1, Oktober 2018
Tebal : 173 halaman
ISBN : 978-602-587-001-0
Peresensi : Supadilah

No comments for "Kiat Berinovasi di Era Milenial"