Pendidikan Anti Korupsi Melalui Novel



Judul : Si Anak Pintar
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Penerbit Republika
Cetakan : I, Desember 2018
Tebal : 349 halaman
ISBN : 978-602-573-450-2

Korupsi menjadi masalah yang paling utama dihadapi oleh bangsa Indonesia. Sejak dulu upaya kasus korupsi seakan tidak ada habis-habisnya. Satu kasus terselesaikan, muncul kasus-kasus lain lagi. Jumlah kasus korupsi yang terungkap jauh lebih kecil dan lebih sedikit dari kasus korupsi yang belum terungkap.

Korupsi terjadi di berbagai bidang kehidupan kita dari pemerintahan pusat hingga daerah. Terjadi di lembaga eksekutif maupun legislatif. Dari ketua lembaga tinggi negara hingga gubernur, bupati, camat, bahkan kepala desa. Terjadi di lembaga pemerintahan ataupun swasta. Bahkan terjadi pada lembaga yang harusnya melakukan pencegahan dan peperangan melawan korupsi. Sebut saja kasus korupsi pengadaan Alquran di kementerian Agama. Atau korupsi yang terjadi di lingkungan kementerian pendidikan/dinas pendidikan/sekolah yang notabene mereka pelaku pendidikan melawan korupsi.

Teranyar, kasus korupsi pengadaan air untuk daerah bencana yang cukup mengagetkan kita. Korupsi seakan tak mengenal kondisi dan tempatnya. Pada masyarakat yang terkena bencana pun terjadi korupsi.  Korupsi juga dilakukan pada hal vital yang menyangkut masalah kemanusiaan.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memberantas praktik korupsi, pemerintah membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di tahun 2004. Sejak itu, sudah 100 orang kepala daerah yang dinyatakan sebagai tersangka korupsi. Diyakini jumlah itu akan semakin bertambah.

Namun begitu, koruptor seakan tidak ada jera. Negara kita memang mengalami akut korupsi. Kekayaan negara dirampok para tikus-tikus itu. Akibatnya, negara kita jadi miskin. Maka perang melawan korupsi harus terus dilakukan.

Demikian pesan novel si Anak Pintar yang beralih judul dari Pukat. Meskipun hidup mereka penuh kekurangan, tapi kejujuran dan anti korupsi harus tertanam dalam diri mereka.

Lewat Kaleng Kejujuran kita mengetahui karakter kejujuran mereka. Ibu Ahmad tidak lagi bisa berjualan. Nayla, anaknya sakit. Bahkan saat sudah sembuh pun Ibu Ahmad tidak bisa berjualan lagi karena Nayla tidak bisa ditinggal. Padahal warung itu satu-satunya penopang hidup mereka. Pukat, si Anak Pintar punya ide membuat kaleng kejujuran. Ibu Ahmad bertugas menyiapkan jualan dan daftar harga. Warung tidak ada yang menunggu.

Pembeli hanya tinggal memasukkan uang di kaleng yang disiapkan.  Pukatlah yang mengatur penjualan dan menghitung pendapatan. Beberapa pekan berjalan lancar.

 Sampai kemudian terjadi kehilangan buku gambar. Guru mengaji mereka, Nek Kiba sampai harus turun tangan memberikan wejangan melalu cerita, sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Dari cerita itu kita dapatkan pendidikan pentingnya kejujuran.

 “orang yang bersungguh-sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka meski hidupnya sederhana dan terlihat biasa-biasa saja, maka dia sejatinya telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia (hal 164).

 Kalian jangan pernah mencuri sesulit apapun hidup dan langsung dunia merusak kalian kejujuran adalah segalanya (hal 169).

 Tengok pula bagaimana reaksi Pak Guru Bin yang mendengar laporan Pukat tentang kehilangan itu. Pak Bin tidak berniat menghukum si pelanggar itu. Katanya,

“Bukankah bapak bertugas mendidik kalian? Ada yang lebih penting dibandingkan sebuah hukuman. Apalagi hukuman tidak selalu menjamin perangnya seseorang berubah (hal 154). 

Pendidikan antikorupsi sebagai pencegahan korupsi yang ditanamkan sejak dini. Penanaman nilai-nilai pendidikan antikorupsi diyakini sangat efektif dilakukan. Sebab jika nilai tersebut sudah tertanam dalam diri seseorang, nilai tersebut menjadi sebuah karakter. Kelak jika dewasa, dia akan tetap memegang teguh nilai luhur itu.



No comments for "Pendidikan Anti Korupsi Melalui Novel"