Makin Soleh, (Sedekah) Makin Akeh


Saya sering menemukan ustadz/kyai yang sedekahnya kenceng. Ringan ngasih hadiah. Gampang beri apa saja.

Malam tadi, saya temukan satu. Beliau pimpinan pondok pesantren La Tanda Cipanas, Lebak. Adakah tau dimana tempatnya? Gampangnya, pondok pesantren (ponpes) itu cikal Wali Band. Nah, udah tau kan ya?

Pak kyai Adrian Mafatihullah, namanya. Selain pimpinan ponpes, beliau merupakan penulis. Dua bukunya saya tahu dan punya. Lepas Dari Lapas Hidup, dan Surabi Pesantren. Satu novelnya bakal muncul di Syawal mendatang.

Malam itu beliau mengisi kegiatan iktikaf di masjid agung Al Araf Rangkasbitung. Penyelenggaranya komunitas One Day One Juz Lebak.

Disela-sela materinya, beliau ngasih yel-yel. Beberapa anak-anak yang hadir diminta maju. Jika lancar yel-yel, dikasih uang, kata beliau. Sontak mereka semangat. Namun agak tidak fokus. Fokusnya dompet yang dikeluarkan dari kantong sang kyai.

Yel-yelnya, Komunitas ODOJ:
Dipaksa, terpaksa, terbiasa, bisa, luar biasa!

Karena sebelumnya latihan, maka anak-anak itu lancar. Alhamdulillah, kontan dikasih sama pak kyai. Sepertinya, dua puluh ribuan. Semua anak putera dikasih.

Ah, mengundang beliau, belum tentu dikasih akomodasi. Malahan beliau yang keluar uang.

Dan sebetulnya tidak sekali ini saja. Tahun sebelumnya, beliau bagi-bagi secara gratis buku baru beliau terbitan Republika yang tentu bisa dikira harganya. Seluruh peserta yang hadir, saya taksir 60-an orang dapat buku gratis. Tak hitung-hitungan.

Sosok kedua, kyai dari ponpes kami, namanya KH Samson Rahman. Penerjemah buku best Seller La Tahan karya Aidh Al Qarni. Beliau ringan tangan juga. Tangan di atasnya lebih sering.

Pada beberapa kesempatan mengisi materi, sering pula beliau menanyakan berapa jumlah hafalan atau berapa banyak tilawah peserta. Yang terbaik diberi uang. Juga sering memberikan hadiah buku.

Misalnya di hari ketiga ramadan beliau tanya, ada yang sudah sampai 25 juz? 20 juz ada? 15 juz ada?

Beberapa orang yang memenuhi kriteria pun diberikan hadiah. Ada 200 rb, 100 rb, atau 50 rb.

Sosok ketiga, bukan kyai/ustadz, tapi seorang anggota dewan. Beberapa kali melihat beliau memberikan sejumlah uang kepada anak-anak kecil yang ditemui. Berkunjung ke rumah warga, lalu menitipkan uang untuk madrasah, musola, atau ponpes.

Beberapa orang mengaku, anggota dewan ini sering juga memanggil tanpa satu keperluan khusus, eh hanya sekadar ngasih uang. Habis itu sudah. Mungkin itu momennya bersedekah. Memberi siapa saja yang ditemui.

**
Namun saya tak melihat dari mereka yang rajin sedekah atau memberi jadi miskin atau berkurang hartanya. Mereka masih terlihat kaya. Bahkan, malah semakin kaya.

Pas dengan lagu Opick Tombo Ati:
Takkan berkurang harta yang disedekah/Akan bertambah, akan bertambah.

Dalam matematika sedekah, harta yang disedekahkan akan dibalas Allah dengan berlipat ganda bahkan hingga sepuluh kali lipat, bahkan lebih. Sehingga tidak heran, orang yang rutin sedekah semakin kaya.

Seperti halnya para orang terkaya, baik di Indonesia maupun dunia, pasti kencang menyumbang/donasi. Seperti Bill Gatra yang mendonasikan ratusan triliun untuk yayasan. Atau pemain sepakbola yang menyumbang miliaran dolar untuk daerah miskin atau terkena bencana.

Ibaratnya, sedekah adalah 'pinjaman' Allah. Kalau Allah meminjam, masak iya nggak dikembalikan? Masak iya kita ragu meminjami Allah? Sedangkan kepada manusia kita tidak ragu.

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS.Al-Hadid:18).

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan meperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak, dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Baqarah: 245)

Semoga kita diberikan kelapangan dan kelancaran untuk bersedekah dalam berbagai kondisi, baik kondisi sempit maupun kondisi lapang. Kata orang, justru saat sulit itulah akan semakin besar balasannya.

Saya teringat pula sebuah ceramah, sedekah memang bisa dengan banyak hal. Uang, benda, barang, atau senyum. Namun kita akan mendapat balasan sesuai dengan sedekah kita. Sedekah senyum dibalas senyum. Sedekah harta dibalas harta. Mau sedekah kita 'hanya' dibalas senyum? Hehe...


No comments for "Makin Soleh, (Sedekah) Makin Akeh"