Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenang Jejak Tim Underdog



Di sekolah saya beberapa pekan ini mengadakan turnamen futsal. Pelaksanaannya OSIS. Sepertinya sistem bertemu karena lama dan sering sekali mainnya. Saya sendiri jarang menonton. Laga berlangsung sore. Biasanya saya segera pulang jika jam sekolah telah selesai.

Hanya di final saya nonton. Itu pun karena nunggu istri yang sedang acara pembekalan ramadhan. Maksudnya, mencari bekal ruhiyah untuk menyambut ramadhan.

Langsung saja, pemenang turnamen ini adalah kelas yang tidak memiliki skuad utama tim futsal sekolah. Pemain yang membawa piala JSIT Banten Barat 2018 berada di kelas lain. Melihat rata-rata pemain yang berlaga di final, saya tidak yakin mereka akan menang. Namun, ungkapan populer di lapangan bola; bola itu bundar, segala kemungkinan bisa terjadi, hari ini berlaku di lapangan kami.

Seketika saya teringat dengan sebuah tim Underdog. Bukan Ajax yang kiprahnya di liga Champions mengejutkan karena menghajar telak juara bertahan sekaligus pemilik hegemoni trofi liga Champions. Tapi sebuah nostalgia tentang tim sepakbola kelas kami saat SMA dulu.

Di pertengahan tahun 2005, marak tanding olahraga antar kelas. Setidaknya ada dua jenis olahraga yaitu sepakbola dan basket.  Sebetulnya pertandingan ini ilegal. Kami bahkan membuat taruhan uang saat itu. (Bapak ibu guruku yang membaca tulisan ini, maafkan kenakalan kami saat itu ya. Sungkem.)

Kami kelas 2 SMA, bukan tim yang diperhitungkan. Bahkan taruhan itu 'dipoor' atau voor 1/2.

Jika kelas kami kalah, kami harus bayar 100rb. Jika kelas kami menang, kami dapat 200rb.

Saya lupa berapa skuat kami saat itu. Lupakan aturan 11 strarting line up dengan 3 pemain pengganti. Ini semacam tarkam.

Hanya sedikit skuat tim sekolah di kelas kami. Bahkan mungkin tidak ada. Beberapa pemain kunci kami Riyanto kidal, Bambang fotografer, Tres On tarung derajat, Alex Sianturi, Widi B2, Joe Wardi, Izut Kalut, dan lainnya.

Perhitungkan pula skuat kami dengan badan yang subur; Alex Sianturi, Andalas Ateng, atau Bayu Wicaksono. Memang satu pemain diatas rata-rata Syafridhan Pramuka Lubis karena dia atlet sprint. Tapi dia hanya menang lari. Untungnya jika bawa bola, mungkin

Tak disangka, tim kami menang dengan skor 2-1. Saat itu, tim kami yang juga ditonton oleh teman-teman sekelas berikut teman perempuan, bersorak kegirangan di stadion (eh apa pantas disebut stadion ya).

Uang 200 rb pun diterima tangan. Besoknya, kami ramai-ramai ke kantin. Mie ayam dan es sirup. Urusan cukup atau tidak kewajiban bendahara Bayu Wicaksono. Tak dinyana, kelas IPA yang kesannya hanya jago mata pelajaran, berjaya di OSN, bisa juga menang di olahraga. (Catatan: di tahun 2005 itu kelas kami menyumbang banyak juara untuk mengantar sekolah kami jadi juara umum OSN di tingkat kabupaten).

Kemenangan kami membikin gempar. Satu kelas menantang kami. Tapi kali ini, hitung-hitungan di atas sejalan dengan hasil di lapangan. Kami keok. Uang kas terkuras.

Selain kami, kelas-kelas lain pun banyak ngadakan taruhan. Saat berita itu terdengar guru-guru, sejenis tarkam itu pun dilarang. Tak ada lagi.

Oh iya, mungkin ada yang bertanya, saat itu saya main tidak, saya jawab saya main. Cetak gol? Tidak. Saat itu kemampuan sepakbola saya masih minim akibat lebih konsentrasi di tenis meja.

Itulah sekelumit kenangan mewah dan indah dari sekumpulan anak remaja yang bersama selama 3 tahun dalam satu kelas. Yang sekarang, entah pada kemana. Saat itu belum ada smartphone, belum hadir sosial media.

Post a Comment for "Mengenang Jejak Tim Underdog"