Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merakus Pahala di Bulan Ramadan

Ibu-ibu itu kalau ada promo diskon bawaannya panik. Yang tadinya nggak mau beli sesuatu, eh jadi ngeborong. Yang awalnya mau beli beberapa aja, jadi banyak bawa pulang belanjaan. Semuanya mau diborong, segalanya mau dibawa pulang. Kalau punya uang banyak, tidak terbatas, mau diambil semuanya.


Sedikit berbeda-dengan ramadan, kita bisa ngeborong banyak pahala tanpa harus keluar uang. Cukup siapkan kemampuan prima untuk mengambil dengan rakus segala pahala yang tersedia. Bisa?


Kita mesti bersyukur dengan kehadiran bulan ramadan. Bulan ramadan merupakan sarana penjagaan diri supaya tetap dalam kondisi religius yang baik. Karena bisa jadi pada sebelas bulan sebelumnya, kehidupan kita berlimpah dosa dan kemaksiatan karena salah, dosa, atau maksiat.


Kehadiran bulan ramadan kita manfaatkan untuk memperbaiki ibadah kita. Kita dimudahkan dengan semangat untuk tilawah, salat malam, sedekah, dan lainnya. Ramadhan merupakan riayah (penjagaan) diri kita.


"Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Maslim)



Tamu agung itu haruslah kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk meraih pahala sebesar-besarnya. Di saat ramadan segala ibadah kita diberikan balasan pahala yang luar biasa. 


Rasulallah SAW Bersabda yang artinya: "Barang siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Ahmad)


Bulan ramadan merupakan sarana tarbiyah (pendidikan) diri. Di bulan itu kita juga berjuang untuk mengendalikan nafsu kita. Mungkin, di bulan lain kita mengumbarnya. Nafsu yang sering diumbar berbahaya. Bisa membuat kita tergelincir. Nafsu harus dikendalikan. Melalui puasa itulah salah satu caranya. Nafsu akan lemah jika kita dalam kondisi berpuasa. Umumnya kita lebih bisa mengendalikan nafsu kita dalam kondisi puasa.


Tidak kalah pentingnya adalah konsistensi ibadah setelah bulan ramadan. Namun, mempertahankan kebiasaan lebih sulit daripada membuat kebiasaan itu. 



Ibadah kita jangan sampai berbeda jauh dari bulan ramadan. Bahkan, jika bisa, harus meningkat. Sehingga kita menjadi manusia rabbaniyah; insan yang menginternalisasikan nilai-nilai ketuhanan dalam aktivitas kita.

Post a Comment for "Merakus Pahala di Bulan Ramadan"

Berlangganan via Email