Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Anak Perempuan Pemberani



Ditemani segelas kopi yang dihidangkan isteri, yang saya aduk dengan 27 adukan berlawanan arah jarum jam, saya menamatkan novel yang sudah dua bulan lalu terparkir di rak buku. Ada 5 buku serial anak mamak. Lupa mana yang sebaiknya dibaca duluan. Namun novel ini bisa dibaca terpisah.

Dia anak sulung. Bukan hanya diharapkan menjadi panutan bagi adik-adiknya, dia juga harus memiliki kemandirian yang lebih.

Eliana namanya. Anak tertua itu bahkan sanggup melawan anak laki-laki. Mulai dari main voli, adu lari, dan gobak sodor. Bahkan tantangan mustahil pun dilakoni. Hasilnya? Satu kampung gempar. Baru kali itu pula semua warga datang beramai-ramai ke musola. Satu hal yang belum pernah terjadi, atau akan terjadi lagi. Namun hasilnya pun sepadan. Dia berhasil membuat anak lelaki musuhnya seharian keliling kampung dengan berpakaian wanita lengkap dengan sanggulnya.

Memang tidak boleh meremehkan perempuan, juga tidak boleh saling meremehkan. Masing-masing punya kelebihan. Seperti halnya Eliana yang bahkan beberapa kali mengalahkan Anton. Namun ada saatnya perempuan harus menerima dengan

Inilah kisah anak-mamak yang inspiratif. Bukan hanya kisah tentang keluarga. Tapi juga kepedulian tentang alam. Sejak dulu, telah ada manusia rakus yang merampok kekayaan alam, bagaimanapun caranya bahkan dengan jalan kekerasan. Eliana sang pemberani itu berusaha menggagalkan tambang pasir di kampungnya. Bersama geng Empat Buntal-nya mereka mereka melakukan perlawanan. Namun mereka harus membayar harganya. Kawanan perampok lingkungan itu bahkan dikawal petugas yang dilengkapi dengan senjata api. Eliana harus kehilangan teman akrabnya, Marhotap, yang sebulan lalu menjadi musuhnya.

Perkara tambang pasir itu bukan perkara mudah. Bukan hanya bilang tidak. Pejabat atau bupati bahkan meneken izin tambang. Bahkan ketika kasus itu sampai di telinga Presiden langsung, tidak berarti apa-apa.

Empat Buntal (Marhotap diganti Damdas), mengumpulkan tandatangan warga sebagai bentuk pernyataan keberatan dengan tambang pasir. Semua warga meneken, kecuali Paman Unus. Si nyentrik yang keren itu menolak mendukung kertas penolakan.

"Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada dua musim di antara musim-musim. Ada saatnya ketika alam memberikan perlawanannya sendiri" (hlm 380).

Membaca karya bang Tere, seakan tiada habisnya menikmati keajaiban. Serial anak mamak ini ada lima buku, tapi hampir tidak ada satu kesamaan dalam ceritanya.

Berlatar pelosok Sumatera, saya sendiri yang juga orang sana, seakan tahu langsung tempat-tempatnya.

Kita pun diajak bernostalgia dengan masa-masa kecil. Misalnya tentang pertakut termakan biji. "Kau harus mengeluarkannya. Atau biji itu tumbuh di perut kau. Keluar lewat pantat. Bayangkan Amel, pohon cempedak tumbuh dari pantat kau" (hlm 209).

Atau dengan geng-geng yang dibuat semasa kecil, seperti Empat Buntal Eliana ini.

Satu keseriusan yang patut kita renungkan tentang ironi azan Eliana. Mengapa kita gerah dengan azan perempuan, padahal seringkali kita abai pada azan?

Hal ini disindir oleh Nek Kiba di hadapan semua warga:
" Itulah hakikat sejati adzan. Membuat terhenti seluruh kegiatan. Azan Eli memancing kita semua datang ke masjid kampung. Ada yang memang hendak shalat Maghrib. Ada yang ingin tahu. Ada yang sekadar menonton. Terserah apa niatannya, tapi adzan Eli lebih kencang dari siapa pun selama puluhan tahun aku tinggal di kampung ini." (hlm 230).

"Hidup ini sudah demikian kodratnya. Ada pekerjaan hebat perempuan yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki paling perkasa, paling berkuasa di dunia. Menjadi seorang ibu." (hlm 232).

Kita bisa juga belajar tentang parenting dari sang Mamak. Meskipun penerapan model pendidikan berbeda dengan teori-teori parenting baru-baru ini, nyatanya membuktikan sebuah kehebatannya. 

Eliana pernah memberontak karena merasa tidak enak jadi sulung yang harus bertanggung jawab atas adik-adiknya. Pada satu kelalaian, Eli minggat dari rumah. Menginap di Wak Yati. Lihatlah kolaborasi ketiganya: Wak Yati yang tidak langsung ikut campur, Bapak yang menunjukkan kepeduliannya, dan Mamak yang 'tidak peduli'.

Sampai kemudian di suatu tengah malam, Eli bersimpuh di hadapan Mamak. "Sungguh, jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta sayangnya kepada kalian." (hlm 305)

Sedikit review ini ibarat memasuki teras, sementara novel  keseluruhan ini sebuah rumah, kalau bisa dibilang begitu. Akan jauh lebih banyak lagi hikmah di novel terbitan Penerbit Republika
ini. Selamat membaca.


Post a Comment for "Kisah Anak Perempuan Pemberani"

Berlangganan via Email