Lunak Gigi Pado Lidah



Setahu saya, kalimat lunak gigi pado lidah ini merupakan pepatah dari Minangkabau. Minangkabau memang terkenal dengan petatah petitihnya yang sarat makna tentang hidup. 

Sebuah ungkapan ringan bisa memiliki makna yang tidak ringan. Membawa pesan tentang hidup yang membawa kebaikan jika dilakukan.

Nah, untuk artinya, lunak gigi pado lidah
adalah Merendahkan diri kepada orang lain; Memiliki sikap lemah lembut kepada orang lain.

Pepatah ini relevan dengan sikap kita saat meminta tolong kepada orang. Selayaknya, orang yang meminta tolong bersikap sebagai orang yang butuh, maka dia haruslah berlembut sikap. Jangan sombong, jangan ongeh, jangan tinggi hati.

Hal ini punya maksud. Dengan sikap lembut kita, diharapkan orang yang kita mintai pertolongan itu akan memberikan sesuai keinginan/hajat kita.

Siapa sih, yang mau ngasih pertolongan jika yang minta tolong itu bersikap tinggi hati/sombong?

Bahkan, jika pun kita sopan dan lemah lembut, belum tentu permintaan kita dipenuhi, belum tentu kita ditolong. Apalagi, jika sikap kita sok-sokan.

Ah, rasanya selain menolak permintaannya, pengen pula nempeleng karena sikapnya itu.

Potret kehidupan kita sering kali menjadi pembuktian bahwa banyak pula orang yang tidak bisa menempatkan posisinya. Di posisi sebagai peminta, malah bersikap sok-sokan dan tidak sopan.

Sebut namanya Awe. Dia sebagai ketua rombongan pengabdian masyarakat. Dia mengetuai sepuluh orang temannya. Mereka ditugaskan di rumah kaca yang mengurusi tentang anggrek. Mereka juga ditemani pendamping yang memberikan penjelasan lengkap dan jelas tentang anggrek.

Dalam titik itu, mereka diberikan waktu 20 menit. Rupanya, karena asyik dan menyenangkan penjelasan dari pendamping, sepuluh orang itu lupa dengan waktu yang sudah habis.

Awe yang merasa bertanggungjawab atas rombongan, secara refleks memotong penjelasan pendamping. Bukan itu saja, dia mengatakan bahwa apa yang dijelaskan pendamping sudah kelewat konteks apa yang harusnya mereka pelajari.

"Pendamping hanya menjawab pertanyaan peserta, Bu."

Mendadak suasana pun berubah. Wajah pendamping menjadi merah. Sepertinya tersinggung.

"Saya juga kan sedang menjawab pertanyaan mereka." Jawabnya tegas.

Namun apa daya. Semuanya terlambat. Ada yang kurang pas dengan cara dan isi penyampaian sang ketua rombongan.
Saya dan teman-teman pun merasakan apa yang disampaikan Awe kurang sopan.

Sudahlah kami dalam posisi yang minta bantuan, minta dijelaskan ini itu, kenapa justru kami yang mengkritik jawaban yang diberikan. Juga caranya yang kurang pas.
Apa salahnya, untuk menghentikan penjelasan yang panjang itu, dengan menyalahkan waktu, dan mengingatkan teman-temannya.

"Waktunya sudah habis lho, teman-teman."
Atau, jika ingin ngomong ke pendamping, bisa dengan cara yang lebih elegan.
Seperti dengan cara,
"Maaf, Bu. Waktunya sudah habis. Kami harus  ke tempat lain".
Saya dan satu teman lain merasa tidak enak. Kemudian saya minta maaf pada sang pendamping. Begitu pula teman saya, bahkan dia minta nomor hape pendamping.

Semoga kejadian ini merupakan sedikit kekhilafan untuk pembelajaran bagi kami. Ketua rombongan kami masih muda. Agaknya pengalaman belum mata g itulah yang membuat kedewasaannya belum maksimal pula.

Jika itu adalah sebuah kesalahan, semoga kesalahan itu memberikan pelajaran. Ketimbang mengelak dan berdalih, lebih baik akui. Sebagai bahan refleksi diri. Sehingga ke depannya menjadi acuan agar tidak terulang peristiwa yang sama.
Anak muda menang semangat. Yang tua memang pengalaman.

No comments for "Lunak Gigi Pado Lidah"