Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merantau dan Berkah #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia

Sepuluh hari sesudah menikah, kami memutuskan untuk hijrah. Hijrah dalam makna berusaha menjalani hidup yang lebih baik, juga hijrah dalam arti merantau. Bahkan di daerah yang sangat jauh dan asing. Menyeberang laut, di pulau seberang, di tanah Banten yang baru kali pertama disambangi.

Kami menikah di 25 Agustus 2013. Pada 4 September 2013 kami sudah di Banten. Tepatnya di Rangkasbitung, tempat adanya suku pedalaman Suku Baduy. Merantau menjadi pilihan kami berdua. Jauh dari orang tua memang hal yang sangat berat. Namun itu pilihan yang harus dijalani.

Kami yakin, semua tempat di bumi Allah ini ada rezekinya. Dimulailah petualangan dan perjuangan yang dimulai dari nol.

Satu pekan disana, saya selaku kepala rumah tangga masih belum mendapatkan pekerjaan. Biaya hidup ditutupi dari tabungan kami berdua. Juga sumbangan dari orang tua kami.

Alhamdulillah, pekan kedua saya diterima di sekolah swasta di bawah naungan yayasan islam. Tentang pekerjaan, kami sudah final, menjauhi gaji yang 'abu-abu'. Begitu pula pekerjaan di 'lahan basah' yang kerap dengan sistem riba atau tidak syar'i.

Hanya dua pekan bekerja, tibalah saatnya menerima bisyarah (gaji). Nominal yang sangat mengentak. Saya masih ingat nominalnya di amplop tertera Rp.50.000. Jumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun itulah yang saya terima. Awalnya saya sangat goyah dan memikirkan pindah haluan. Beruntung isteri menguatkan.

"Ini kan masih awalan, Mas. Apalagi Mas pegawai baru. Kita terima dan syukuri rezeki. InsyaAllah akan bertambah" ujar isteri saya menguatkan.

Begitu pula dengan keluarga yang sangat mendukung kami. Tidak memaksa harus menjadi pegawai pemerintah seperti mereka. Syukuri, syukuri, dan syukuri. Itu pesan yang senantiasa terngiang sampai saat ini.

Namun demikian, tentu kami berdiskusi tentang peluang usaha yang dapat menambah pendapatan. Disepakati, kami membuka bimbingan belajar (bimbel).

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq : 3]

Dua pekan kemudian ada delapan siswa mendaftar. Tidak langsung banyak memang. Namun cukup untuk menambah perabot rumah tangga. Prioritas kami membeli kulkas agar sayuran atau bumbu-bumbu dapur tidak lekas layu atau basi yang bisa mubazir.

Perlahan ekonomi kami membaik. Begitulah pula masa bakti di sekolah yang semakin meningkat, membuat gaji bulanan pun berlipat enam kali, dengan jumlah jam mengajar yang sesuai tentunya.

Orang tua kami paham dengan kondisi kami. Dibantulah kami mendapatkan rumah di sebuah perumahan, dimana perumahan tersebut bermitra dengan Bank Muamalat Indonesia.

Sampai di sini betapa kami harus sangat bersyukur tentang kondisi kami. Meskipun dengan kondisi seadanya, setidaknya sudah 'dipinjami' rumah, kondisi kami jauh lebih baik dari banyak orang yang masih mengontrak atau hidup bersama orang tua/mertua.

Menikah bukan menyelesaikan masalah. Namun, menikah merupakan satu langkah menyelesaikan satu masalah untuk beralih menyelesaikan masalah yang lainnya.

Enam bulan kemudian, siswa bimbel menjadi dua belas. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan kami.

Di bulan itu juga, kami sepakat untuk ikut membantu membayar pembiayaan rumah, walaupun jumlahnya tidak seberapa. Sebagai iktikad kami belajar mandiri (karena mandiri sepenuhnya belum bisa). Orang tua awalnya tak membolehkan, tapi karena dijelaskan alasannya, akhirnya memaklumi.

Banyak juga pekerjaan yang 'menggoda' dalam hal nominal gaji. Namun meyakini bahwa mengajar di sekolah itu sangat jelas keberkahannya juga sistem sekolah yang syariah, membuat saya tetap bertahan sampai enam tahun hingga sekarang.

Di tahun keempat, dengan berat hati kami memutuskan menutup bimbel. Saya sudah banyak jam di sekolah, sedangkan isteri sudah disibukkan dengan dua anak kami. Setahun berikutnya, pembiayaan rumah selesai.

Fasilitas pembiayaan rumah yang dijalin dengan kemitraan Bank Muamalat Indonesia cabang Banten di kota Serang berjalan lancar. Nyaris tampa hambatan tanpa tunggakan. Tentu hal ini karena rezeki dari Allah dan kelancaran pelayanan Bank Muamalat Indonesia.

'Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?"

Tekad untuk terus bekerja menjemput rezeki halal menjad motivasi. Menghadirkan asupan yang berkah bagi keluarga yang nantinya menjadi darah dan daging isteri juga kedua anak saya. Untuk itulah saya bertahan, meskipun itu jatuh bangun.

Tentu, kadang gaji bulanan tidak mencukupi. Apalagi anak sudah masuk sekolah, tentu membutuhkan biaya yang tidak bisa dianggap enteng. Namun sebuah keyakinan telah menguat, bahwa Allah pasti memberikan jalan kepada hamba-Nya yang berusaha meniti jalan-Nya.

Lingkungan tempat saya bekerja pun sangat kondusif bagi kehidupan keluarga kami. Di sana, orang-orangnya menjadikan rekan kerja sebagai partner dunia akhirat. Fasilitas  halaqah//kelompok  mengaji pekanan bagi para gurunya, ibarat sebuah sumber daya energi yang menyuplai kebutuhan ruhani. Lewat kajian-kajian keislaman, bimbingan tentang kehidupan kami dapatkan.

Fasilitas seperti ini banyak. Bank Muamalat Indonesia memiliki banyak program untuk membuat hidup kita lebih baik dengan program #AyoHijrah yang telah berlangsung sejak 8 Oktober 2018 yang lalu. Program ini mengajak masyarakat untuk berhijrah dalam hidup, meningkatkan kualitas diri, baik secara individu maupun organisasi, untuk semakin kaffah menjalankan syariat Islam, khususnya dalam konteks layanan perbankan syariah.

Bahkan layanan #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia semakin mudah dengan ketersediaan aplikasi yang dapat kita unduh dengan gampang.



Seperti kata Imam Syafi'i, mereka menjadi pengganti saudara yang ditinggalkan di kampung halaman.

Merantaulah.
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

Hijrah kami sudah memasuki tahun ke enam. Dalam perjalanannya, tidak mulus. Banyak hambatan dan tantangan. Tentu demikian pula perjalanan hidup yang akan kami lewati. Bahkan mungkin akan lebih besar lagi. Namun kami yakin selagi tetap dalam koridor-Nya, niscaya kami bisa melewatinya. Kami yakin itu.

Post a Comment for "Merantau dan Berkah #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia"

Berlangganan via Email