Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ratih Purwasih di Mata Generasi Zaman Now

Hitam putih fotomu. Dalam album kenangan. Masih kusimpan selalu. Masih kupandang selalu ala rindu


Lagu yang sempat hits di era 80-an ini kembali berkumandang di bus yang membawa kami, rombongan pengabdian masyarakat ke kawasan kebun raya Cibodas. Lagu lawas, semua tahu ini lagu lawas. Maka, sontak saat diputar, seisi bus pun geger. Penuh tawa. Tapi persisnya tidak tahu apa yang ditertawakan.

Mungkin, lagu jadul gini kok masih ada ya? Hehe...

Dalam ilmu pemasaran, apa yang dilakukan supir bus ini sungguh tidak keren. Memutar lagu generasi old dimana pendengarnya mayoritas generasi zaman now, sungguh tidak bijak.

Iya betul, ada dua orang saja yang termasuk generasi old. Tapi betapa tega, dengan keras kepalanya supir itu.

Saya yang kelahiran akhir 80-an sempat tahu juga dengan penyanyi ini, namanya Ratih Purwasih. Sementara, benar saja, teman sebangku saya yang kelahiran 90-an tidak tahu babar blas dengan mbak Ratih ini.

Pas ada teman yang nanya, sudah meninggal apa belum, saya pun cari di Mbah Google.

Begitu pula teman satu bangku yang menanyakan ke Mbah Google, bahkan saya lihat dia lebih lama membaca referensi dibanding saya. Mengobati keingintahuan tentang sang penyanyi.


Lagu Zaman Old vs Zaman Now

Lagu-lagu zaman dulu sebetulnya tidak kalah berkualitas. Bahkan memiliki banyak keunggulan. Liriknya tidak picisan, puitis, dan bermakna. Misalnya jika ingin berkata pergi, tidaklah langsung mengatakannya secara to the point.

Kata pergi bisa diganti dengan 'biarkanlah aku sendiri:, atau 'teruskan langkahmu saja'.

Sangat berbeda dengan lagu sekarang yang cenderung apa adanya. Pergi pun dibilang pergi.

Di lagu Zaman now juga, untuk menjadi laku dan terkenal, seorang penyanyi tidak hanya mengandalkan kualitas suara. Tidak sedikit mereka yang juga 'menawarkan' penampilan bahkan mengumbar tubuh demi terkenalnya lagu.

Penyanyi datang dan pergi. Biasanya bintang yang cepat meroket, juga cepat redupnya.

Tapi biasanya penyanyi itu juga menganut aji mumpung. Kapan lagi bisa terkenal dan meraup banyak materi? Selagi ada kesempatan, manfaatkan betul.

_Yang hujan turun lagi. Di bawah payung hitam kau berteduh. Di jalan ini dulu kita berdua. Basah tubuh ini basah rambut ini. Kau hapus dengan sapu tanganmu_

Post a Comment for "Ratih Purwasih di Mata Generasi Zaman Now"