Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Haruskah Impor Sampah?

Di tengah hiruk-pikuk politik dan zonasi sekolah, ada satu hal yang penting untuk kita ketahui yaitu tentang impor sampah. Setelah berbagai barang kita impor, bahkan sampah juga harus kita impor. Apakah Indonesia merupakan bangsa yang gemar mengimpor? Kita yang katanya negara agraris harus pula mengimpor garam, beras atau bawang putih,  sekarang harus pula mengimpor barang sisa yang di negara kita pun terlalu banyak tersedia.



Mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31  tahun 2016, tentang ketentuan Impor Limbah Nonbahan Berbahaya dan Beracun, impor sampah  memang dibolehkan dengan  tujuan bisa didaur ulang untuk memproduksi barang-barang lainnya.

Uni Eropa merupakan pengekspor sampah terbesar. Sampah didominasi oleh barang-barang elektronik dan plastik itu diimpor oleh negara-negara berkembang sebagai bahan baku industri.

Sebetulnya impor sampah telah lama dilakukan. Ini menjadi sebuah kebijakan pemerintah yang menganggap perlu mengimpor sampah untuk dijadikan bahan baku industri. Tentunya sampah tersebut tersebut harus bisa didaur ulang dan bukan termasuk. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Menurut Wikipedia, B3 adalah zat atau bahan-bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia, makhluk lain, dan atau lingkungan hidup pada umumnya. Karena sifat-sifatnya itu, bahan berbahaya dan beracun serta limbahnya memerlukan penanganan yang khusus.

Yang menjadi masalah ternyata tidak semua sampah impor itu tidak semuanya yang bisa didaur ulang. Pada beberapa temuan, sampah yang diimpor bukanlah barang yang bisa didaur ulang seperti sampai botol plastik dan popok. Tentu saja ini menjadi kerugian kita. Bukan hanya masalah biaya yang dikeluarkan tapi juga sampah tersebut menjadi masalah bagi pencemaran lingkungan. Sampah tersebut berakhir dengan dibakar atau dibuang kembali ke lingkungan.

Sebagai masyarakat umum, tentulah impor sampah ini menjadi hal ganjil dan mengherankan. Jika hanya sampah, tentunya kita tidak kekurangan sampah.
Justru negara kita tengah dipusingkan dengan masalah sampah, impor sampah menjadi hal yang membingungkan. Bahkan, volume sampah yang diimpor tidak sedikit. Indonesia dipastikan mengimpor ratusan ton sampah.

Dengan dalih mendapatkan bahan baku industri yang lebih murah, tidak lantas kita memasok sampah dengan sembrono.

Tentu saja masalah impor sampah ini jangan hanya ditinjau dari masalah ekonomi saja. Perlu dipertimbangkan pula aspek lingkungan yang semakin tercemar. Perlu diingat hukum sebab akibat pencemaran lingkungan dengan bencana. Jangan sampai kita mengundang bencana yang lebih banyak lagi dengan aktivitas kita yang keliru.

Pemerintah hendaknya mengkaji kembali kebijakan impor sampah ini. Terhadap kepentingan industri yang tidak bisa dihindarkan atau kebijakan yang telah diteken, semestinya pemerintah lebih selektif lagi dalam mengimpor sampah dengan memastikan sampah yang diimpor tersebut sesuai dengan kriteria yang dimaksud. Banyak negara yang mengembalikan lagi impor sampah mereka. Bahkan, Cina telah menghentikan impor sampah mereka untuk mengatasi masalah pencemaran.

Menjadi keuntungan bagi negara maju dengan dalih mengeskpor padahal membuang sampah mereka ke negara lain.

Indonesia Lautan Sampah

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebutkan, berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan BPS, setiap tahunnya sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton dan sebanyak 3,2 juta ton sampah plastik. Indonesia sendiri berada pada peringkat kedua penghasil sampah plastik setelah Cina.
Indonesia juga merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.
Sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik di buang ke lingkungan. Menteri Susi juga mengatakan, bisa jadi di tahun 2030, lautan Indonesia tak lagi menjadi lautan ikan tetapi lautan sampah.

Pada November 2018 lalu kita digemparkan dengan matinya paus sperma di Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kematiannya diduga karena banyak memakan sampah plastik.  Dalam perut paus sperma tersebut didapati ribuan sampah plastik. Dari laman Republika, Balai Taman Nasional (BTN) Wakatobi menyebutkan sampah plastik yang ditemukan di dalam perut paus tersebut berupa 115 gelas plastik (750 gr), 19 plastik keras (140 gr), 4 botol plastik (150 gr), dan 25 kantong plastik (260 gr). Ada juga 2 sandal jepit (270 gr), 1 karung nilon (200 gr), 1000 lebih tali rafia (3.260 gr), dan lain-lain.

Dikutip dari Republika, menurut BPS, Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dengan 3,2 juta ton yang mengalir ke laut. Jumlah yang sangat fantastis. Dapat dibayangkan betapa banyaknya sampah itu. Jika dikumpulkan, bisa membikin gunung sampah. Sampah itulah yang kemudian membunuh biota di laut. Data World Wide Fund (WWF) Indonesia, tahun ini sejumlah 25 biota laut yang mati karena sampah.

Tidak hanya di laut, sampah menjadi permasalahan di berbagai tempat. Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK, Tuti Hendrawati Mintarsih, menyebut total jumlah sampah Indonesia pada 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada (sumber: cnnindonesia).

Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, permasalahan sampah pun menjadi masalah utamanya. Namun hal ini berkorelasi dengan karakter orang Indonesia. Ya, orang Indonesia memang payah dalam berperilaku hidup bersih, terutama memperlakukan sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi 'penyakit' akut.  Kalau bangsa kita yang kurang menghargai kebersihan. Terbiasa membuang sampah sembarangan.

Jalan menjadi tempat sampah terpanjang. Seenaknya  orang buang sampah plastik, pembungkus atau tissu dari jendela mobil atau. Sungai menjadi tempat sampah milik umum, siapa saja dengan bebas membuang sampah di sana.

Pentingnya Pelibatan Keluarga
Faktor keluarga merupakan lingkungan terpenting dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang memperlakukan sampah. Anak-anak perlu ditanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Bila perlu disepakati sanksi mendidik jika kelepasan tangan atau melanggar kesepakatan. Anak yang sudah tertanam karakter seperti itu akan senantiasa terjaga meskipun dimana tempatnya.

Orang tua pun perlu memiliki kebiasaan yang mendukung hal-hal di atas. Seperti menyediakan tempat sampah di mobil, 'mengharamkan diri' membuang sampah dari jendela mobil, atau membuang sampah ke sungai. Menjaga kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. 

Biasakan menyimpan dulu, baru dibuang saat ketemu tempat sampah.
DK Wardhani dalam buku Mengurangi Sampah Dari Rumah mengatakan permasalahan sampah tidak selesai meskipun kita sudah membuang sampah. Selesai masalah di rumah, muncul masalah sampah di tempat lain. Rumah atau keluarga perlu memiliki program mengurangi sampah diantaranya mengurangi pemakaian plastik, mengolah sampah menjadi kompos, dan mengubah sampah menjadi barang daur ulang.

 Ada beberapa langkah dalam menuju zero waste oleh Bea Johnson yaitu refuse (menolak), reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali) melalui repair (memperbaiki) dan replace (mengganti) dan terakhir recycle (mendaur ulang).

Langkah kecil yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan plastik. Tidak ada salahnya saat belanja kita membawa dan menggunakan plastik bekas atau plastik yang sudah ada. Juga menolak plastik pembungkus jika memungkinkan. Lebih memilih wadah sendiri saat membeli makanan. Mungkin langkah ini tidak bisa menghilangkan sampah (plastik) secara keseluruhan, namun setidaknya bisa mengurangi. Jika kesadaran sudah terbangun pada lingkup keluarga, terbangun pula kesadaran lingkup masyarakat dan negara. 

Post a Comment for "Haruskah Impor Sampah?"

Berlangganan via Email