Nostalgia Kereta Api Ekonomi




Manajemen kereta api sekarang semakin membaik. Naik kereta api pun sudah nyaman. Di Rangkasbitung-Jakarta sekarang ada Commuter Line (CL) yang di resmikan pada Juni 2017.

Begitu juga di daerah lain yang sudah banyak CL beroperasi. Bahkan di Jakarta sudah ada MRT hingga LRT yang pada peluncuran perdananya digratiskan. LRT sendiri bahkan jadi rekreasi sendiri, penumpangnya menjadikan objek berswafoto.

Meskipun jika dalam kondisi penuh penumpang harus rela berdiri hingga maksimal dua jam, tapi itu jauh lebih nyaman dibanding kondisi kereta api tempo dulu. Meskipun bergantung, udara dingin karena ada sistem pendingin yang sangat memadai bahkan terasa sangat dingin. Sehingga, tak akan kita berkeringat.
Maka, cerita tentang pedihnya berkereta api zaman dulu nyaris tak dirasakan lagi. Hanya jadi dongeng saja.

Begitu pula saya sebagai orang Sumatera, yang di sana jarang ada kereta api. Pertama kali saya merasakan kereta api adalah naik kereta wisata Padang-Pariaman yang jalannya roda lebih kencang dari bermotor.
Kabarnya, dulu di Palembang ada juga kereta api, dulu sebagai kereta batu bara.  Menurut anak murid saya, sekarang ada kereta Lampung-Palembang. Tapi saya belum merasakan.

Di penghujung 2013, saya pindah ke tanah Jawara. Di tempat Douwes Dekker dulu pernah berkantor. Maka beruntunglah saya bisa merasakan bagaimana kondisi kereta api saat itu. Cukuplah sebagai bahan untuk lebih bersyukur dengan bagaimana pun kondisi saat ini.

Waktu itu ada tiga kereta api yaitu ekonomi, patas nonAC dan Patas AC (KA Krakatau).

Rute Rangkasbitung-Jakarta yang di tempuh selama dua jam itu, harga tiketnya beragam. Rp. 2000 untuk KA Ekonomi, Rp 8000 untuk patas nonAC dan Rp.  30.000 untuk KA Krakatau.

Bagi saya, harga 2000 itu sangat mengagetkan. Pertama saya beli, saya tanya berapa saya harus bayar.

"Berapa mbak?"

"Dua." Jawab petugasnya.

"Dua apa mbak?" Tanya saya kurang jelas.

"Dua ribu."

Hah? Kaget saya. Perjalanan dua jam lamanya hanya dua ribu. Uang dua ribu mah biasanya tergeletak di rak atau meja kadang dibiarkan saja. Bukan sombong ya...
Di KA ekonomi itulah sebesar pengorbanan kita dapatkan. Berdesakan, tidak dapat tempat duduk, pengap, dan kondisi yang kotor.

Ada orang merokok, pengamen baik banci atau bukan, pedagang, dan barang-barang bukan penumpang manusia.

Ada anak kecil yang menyapu lantai dan bawah bangku-bangku dengan menggunakan tangannya, lalu menengadah tangan meminta uang sekadarnya dari penumpang. Jika diperhatikan, kotoran yang didapuknya itu tidak dibuang, melainkan dioper ke arah sebaliknya, lalu dia bisa minta-minta lagi.

Di kereta juga ada penjual buah-buahan. Macam-macam ada salak, mangga, melon, dan lainnya. Pernah beli, karena murah dan kasihan. Sampai di rumah, justru saya yang harusnya dikasihani. Buahnya masih muda atau mentah.

Beli tahu yang paling berkesan. Harganya semakin dekat stasiun akhir semakin murah. Jika di Parung panjang goceng (5000) dapat sepuluh, di Maja bisa dapat 15, di Citeras bisa dapat 20-25, dan di Rangkas bisa dapat 30-40 biji. Maka, kalau mau dapat murah dan banyak, belilah saat tiba di Rangkas. Hehe...

Pernah berangkat pagi. Jam 04.00. Berharap dapat sepi. Tapi ternyata banyak juga yang berangkat pagi. Mereka berangkat kerja. Jakarta benar menjadi magnet. Semakin lama, kereta semakin padat. Saya yang tadinya duduk, mengalah pada ibu-ibu. Berdiri saya.

Kereta semakin sesak. Tak ada lagi tempat tapi kok masih menaikkan penumpang. Herannya, ada saja yang merokok. Oksigen pun makin darurat. Eh, ada seorang anak muda yang nekat naik ke besi tempat letakkan barang. Dia tiduran di sana.  Benar-benar gila. Edan.

Pulangnya, dengan kereta yang sama, ampun sesaknya. Berjubelan dengan ratusan atau ribuan penumpang lainnya. Udara panas, gerah, dan pengap. Keringat mengalir deras, baju basah. Bayangkan sendiri ya kondisi saya saat itu. Untungnya saya sendiri.

Meskipun begitu, ada di enaknya di kereta ekonomi itu. Jika haus, dengan gampang beli minuman. Banyak pedagang asongan. Tentu dengan sembunyi-sembunyi.
Kita jadi tahu gimana mereka menjual.  Mereka beli tiket juga. Barang dagangan dimasukkan ke plastik hitam. Satu pedagang bisa bawa 3 atau 4 plastik. 

Supaya tidak ketahuan, disembunyikan di bawah bangku. Petugas yang tahu, biasanya cuma ngasih isyarat. Maksudnya, jangan kelihatan banget, kira-kira begitu.
Saya yakin, yang saya rasakan itu sudah jauh lebih baik dari yang dirasakan orang sebelumnya. Sebab memang manajemen kereta api tempo dulu kurang bagus.
Dari cerita saat kami di Jogja liburan kemarin, bahkan kadang wedus, kardus-kardus di bawa ke kereta. Sesaknya lebih dari sesaknya sekarang.

Om juga bilang, kalau turun, anak-anak diturunkan tidak lewat pintu kereta, karena demikian padatnya, tapi dikeluarkan lewat jendela!

Banyak juga yang naik berkejaran dengan kereta yang sudah berjalan pelan.
Pada kereta jarak jauh, bahkan anak-anak digelarkan tikar di lantai kereta, mereka tidur mengampar di sana.

Dari satu cerita itu bisa kita perkirakan bagaimana heroiknya kisah-kisah lainnya.
Dari cerita jamaah iktikaf ramadhan kemarin, bahkan sesekali jika ketinggalan kereta dari tanah Abang, kadang numpang dengan kereta barang, yang kondisinya tentu tidak nyaman sekali. Sampai di stasiun tujuan bisa masuk angin, atau wajah yang kehitaman karena asap dari cerobong lokomotifnya.

Untuk kereta api Krakatau, dulu punya rute terpanjang: Merak-Kediri. Berangkat dari tepi pulau Jawa itu sampai ujung timur pulau Jawa. Beruntung saya pernah tiga kali merasakan. Sekali dengan isteri waktu mau sowan ke Simbah setelah nikahan, waktu kami nikah Simbah tidak datang karena faktor kesehatan. Kali kedua saat isteri wisuda, saya ke Jogja juga dengan Krakatau. Saat itu benar-benar enak. Stasiun tidak jauh pula dari rumah. Hanya sekira 5 menit perjalanan.

Kali ketiga saat menemani siswa belajar di kampung Inggris. Rombongan kami ada 2 kelas. Berangkat dari stasiun Rangkasbitung. Saat sekarang sudah tak ada lagi, sekolah kami berangkat dari stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Sekarang, kereta api sudah memanusiakan manusia, kata jamaah tadi. Mirip sebuah tagline punya sekolah anu. Hehe...yah, kehidupan terus maju. Begitu juga kereta api. Bisa jadi ada beberapa hal yang disayangkan dari kondisi sekarang, tapi tidak sedikit juga yang disyukuri. Hidup terus maju. Seperti caleg di musim pilkada. Walaupun gagal, maju lagi. Selagi modal masih ada. Hehehe..

No comments for "Nostalgia Kereta Api Ekonomi"