Di usia 74, tentu bagaimana pun kondisi kemerdekaan kita, jauh lebih baik daripada saat belum merdeka atau masih terjajah. Jadi, kemerdekaan itu wajib kita syukuri. Ada banyak cara merayakan dan mensyukuri kemerdekaan itu.

Di hari peringatan kemerdekaan ke-74, saya mengikuti kegiatan Renungan Ke yang diadakan di masjid Syarifah Izzah atau dikenal masjid Cempa di kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.

Sebagai pemateri adalah Andi Syumaithi, yang lebih dikenal Abu Ridho. Pemateri yang berangkat dari Jakarta itu, jam 5 sore sudah sampai di lokasi masjid. Padahal, acara mabit itu diagendakan mulai dengan salat isya berjamaah. Wah, ustadznya kepagian. Hehe..

Beliau menyampaikan, selain mengenang kisah-kisah heroik perjuangan para pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan, tidak boleh lupa dengan apa yang biasa dilakukan oleh para pahlawan yaitu doa.

Doa itu tercermin dalam kalimat doa yang sering diucapkan para pahlawan:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan duka cita, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan malas."

Doa menjadi kekuatan berkarya, bersegera beramal, dan kekuatan dalam beribadah.

Ada empat sistematika kemenangan yaitu:
Mentalitas yang bagus
Performa yang baik
Jiwa sosial yang teguh
Kepemimpinan yang kuat.

Dengan keempat hal di atas, kehidupan yang baik akan tercapai.

Perlu juga digiatkan doa agar terlepas dari lilitan hutang. Apalagi, bangsa Indonesia ini gemar berhutang. Padahal, gemar berhutang menurunkan karakter kemandirian.

Dalam sesi tanya jawab, saya yang sudah menyiapkan pertanyaan, mendapatkan kesempatan pertama untuk bertanya. Pertanyaan saya,
"Apa ciri kepemimpinan yang kuat, ustadz?"

Maka ustadz memberikan penjelasan, diantaranya adalah:
1. Berdaulat secara utuh. Tidak mau didikte
2. Memiliki manajerial yang baik
3. Berpihak pada rakyat, berbuat sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.

(Dan atas pertanyaan itu, saya dapat hadiah buku Politik Under Capacity. Alhamdulillah. Hehe..)




Membentuk Karakter Sejak Dini

Ada hal penting yang ditanamkan sejak dini, yaitu pembentukan karakter mandiri. Caranya, anak-anak jangan diajarkan untuk meminta-minta, dalam bentuk apapun. Baik itu materi atau uang maupun benda atau barang-barang tertentu.


Rangkasbitung, 17 Agustus 2019
Catatan oleh Supadilah

0 Comments