Menghidupkan Perpustakaan Keluarga, Membangun Budaya Membaca



Menumbuhkan budaya membaca  paling efektif dilakukan melalui keteladanan. Sebab, budaya membaca bukan diajarkan, melainkan ditularkan.

Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua (James Baldwin).

Rumah merupakan lingkungan terdekat dengan anak baik secara fisik maupun psikis. Mereka berada di rumah paling lama, jika dibanding keberadaan mereka berada di sekolah atau di tempat lain. Ringkasnya, rumah merupakan tempat yang paling memberikan pengaruh bagi mereka.

Orangtua lebih dulu memberikan keteladanan. Rutinkan membaca buku  dalam dua hari sekali atau sehari sekali. Lakukan itu di tempat mudah terlihat seperti di ruang tamu, ruang keluarga, di kamar, atau perpustakaan keluarga. Jika anak sering melihat orang tuanya membaca buku, secara perlahan akan terbentuk meniru dan terbentuk paradigma anak bahwa membaca itu penting.

Hal ini sudah dilakukan oleh keluarga kecil kami. Secara rutin, saya membaca buku dalam dua hari sekali, dan menamatkan buku rata-rata seminggu sekali. Benar. Seminggu sekali. Selain itu, secara rutin saya membuat resensi buku dari buku yang saya baca. Resensi buku itu lalu saya kirimkan ke surat kabar. Alhamdulillah, beberapa resensi yang saya kirim diterima oleh redaksi.

Karena rutin membaca itu pula, saya seringkali menulis opini atau artikel,  lantas, saya kirim ke surat kabar. Hasilnya beberapa tulisan saya dimuat di surat kabar tersebut.


Sedikit demi sedikit, kebiasaan yang coba saya tularkan itu memperlihatkan dampaknya. Anak-anak saya  sering berinteraksi dengan buku baik melihat-lihat gambar, atau meminta dibacakan buku. Bahkan, kadang saya kewalahan memenuhi permintaan mereka. Untungnya, saya dan isteri bisa saling melengkapi. Saat saya sedang lelah, isteri gantian membacakan buku. Bahkan saat mau tidur pun, anak-anak minta dibacakan buku.

Setiap bulan pula datang kurir ke rumah untuk mengantarkan paket berisi buku. Di rumah kami saat ini sudah semakin banyak buku. Alhamdulillah, isteri saya pun ikut membaca buku-buku. Anak-anak pun demikian halnya. Mereka pun senang dengan buku-buku. 

Di tengah gencarnya era digital seperti saat sekarang ini, membaca lewat buku cetak harus tetap dipertahankan. Meskipun saat ini berbagai kemudahan membaca buku lewat internet, ebook, dan sebagainya, membaca buku cetak punya peran dan rasa yang tak tergantikan. Buku cetak membuat pembaca merasakan ikatan emosional dengan buku tersebut.

Budaya membaca merupakan bagian dari budaya literasi keluarga (BuLiKe). National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Literasi bukan hanya tentang membaca saja. Terdapat enam literasi dasar. Namun, literasi baca tulis menjadi fondasi bagi literasi lainnya. 



Anak-anak belajar secara spontanitas. Karena itu jangan melarang jika anak membaca dengan berbagai cara dan posisi. Baik itu duduk rapi, tiduran, atau sambil berbaring. Namun, kita juga tidak membiarkan mereka membaca dalam posisi yang salah.

Setelah selesai membaca, kita ajak anak untuk membereskan buku-bukunya yang tadi berantakan. Hal ini juga mengajarkan kepada anak untuk bertanggungjawab. Sebuah karakter baik yang sangat penting dibentuk dan ditumbuhkan.

Berikan pemahaman  secara perlahan dan bertahap. Menunggu hingga anak merasa nyaman. Terlebih dahulu buat anak senang berinteraksi dengan buku.

Antusiasme terhadap buku lebih diutamakan daripada kemampuan membaca buku.

Apapun interaksinya, baik untuk mainan, dipegang-pegang, atau dibuat berantakan. Tidak mengapa buku berserakan, kurang rapi, atau tergeletak di mana-mana.



Lebih baik berantakan karena sering dipakai daripada tersimpan rapi karena tidak disentuh atau digunakan. Bahkan risikonya buku bisa rusak atau sobek.

Untuk sebuah misi mulia, tentu ada harga yang harus kita bayar. Seperti yang dilakukan oleh H. Agus Salim yang sengaja meletakkan buku dan koran di sudut-sudut rumahnya agar memiliki kesempatan untuk membacanya.




Perpustakaan keluarga merupakan jantungnya pengetahuan keluarga. Keluarga yang menganggap penting keberadaan perpustakaan keluarga akan menjadi keluarga yang berpengetahuan, maju, unggul dan berkualitas. Oleh karena itu, para keluarga #SahabatKeluarga hendaknya bersemangat untuk memiliki, menghidupkan, dan mengaktifkan perpustakaan keluarga ini sebagai modal menumbuhkan literasi keluarga. #LiterasiKeluarga

Kelebihan perpustakaan keluarga adalah koleksinya bisa kita atur sesuai keinginan kita dan waktu kunjung lebih fleksibel. Kita bisa mengakses kapan saja, tidak terhalang hari libur atau hari efektif.

Memang, dalam mengelola perpustakaan keluarga, kita harus mengeluarkan biaya untuk koleksi buku. Karena itu, keluarga perlu menganggarkan pengeluaran keluarga untuk membeli buku. Minimal sebulan sekali membeli buku. Usahakan pengeluaran keluarga untuk membeli buku tidak kalah jauh dari pengeluaran untuk komunikasi atau internet.

Membeli buku merupakan investasi yang sangat berguna untuk hidup. Orangtua bisa mengajak anak untuk menabung atau menyisihkan uang jajan untuk membeli buku. Ini sekaligus mengajak anak untuk latihan hidup hemat.

Apa saja isi perpustakaan keluarga? Idealnya, isinya memfasilitasi kebutuhan dan minat semua anggota keluarga. Lengkapi koleksi perpustakaan keluarga dengan buku yang disukai anak misalnya kartu huruf, komik, buku bergambar, buku agama, biografi tokoh, kisah-kisah, ensiklopedia, novel, dan sebagainya.


Dalam penataannya, tempatkan buku-buku anak di tempat yang paling mudah terjangkau. Misalnya di bagian bawah rak buku, agar mereka dapat mengambil dengan mudah.



Kehadiran perpustakaan bukan sekadar pelengkap sebuah rumah semata. Oleh karena perpustakaan keluarga sebagai sumber pengetahuan yang mendukung kualitas anggota keluarga (SDM), maka setting perpustakaan harus dilakukan dengan maksimal. Pilih tempat yang tenang, tampilannya indah, warnanya serasi, dan pencahayaannya cukup.

Perpustakaan yang nyaman akan membuat penghuni rumah betah berjam-jam di perpustakaan. Bukan hanya untuk membaca buku, acara diskusi dan kumpul keluarga bisa dilakukan di perpustakaan. Tentu, dengan kondisi perpustakaan yang sudah nyaman. 

Selain menyediakan buku-buku, keluarga hendaknya memiliki program agar ada variasi kegiatan dan menghindari kejenuhan.





Program membaca bersama dapat menciptakan suasana membaca yang interaktif sekaligus menciptakan bounding antara orangtua dengan anak.

Membaca bersama bukan berarti orangtua membaca berdekatan dengan anak, tetapi ada interaksi atau pelibatan. Orangtua membacakan buku untuk anak. Baca pelan-pelan, ajak anak berkomunikasi dan berdiskusi tentang buku yang dibaca.

Ajukan pertanyaan ‘Kok bisa begitu ya?’, Ini kenapa ya?’. Membaca bersama dapat merekatkan relasi orangtua dan anak. Keharmonisan antarkeluarga merupakan faktor penting pembentukan keluarga yang kokoh menuju pembangunan bangsa yang unggul.





Anak-anak sangat suka dibacakan cerita baik itu dongeng maupun cerita nyata. Kebiasaan mendongeng akan dirasakan sampai anak dewasa kelak.


“Ada banyak cara sederhana untuk memperluas dunia anak-anak Anda. Mencintai buku adalah yang paling baik dari cara-cara itu” (Jackie F Kennedy).

Anak yang terbiasa mendengarkan cerita akan kaya kosa kata, pengetahuannya bertambah, tumbuh pesat rasa ingin tahu, imajinasi semakin berkembang, dan  daya eksplorasinya meluas. Maka, biasakan mengantar tidur anak dengan membacakan buku. Bisa buku pilihan anak atau kita yang memilihkan.

Dibutuhkan kemauan dan kesabaran membentuk kebiasaan ini. Setelah kebiasaan itu terbentuk, dengan sendirinya anak yang meminta dibacakan buku. Bisa jadi, orangtua yang malah kewalahan menuruti keinginan mereka.



Pada jam wajib baca, semua anggota keluarga berinteraksi buku. Pilih waktu yang tepat di saat semua anggota keluarga terlibat. Misalnya di sore hari atau di akhir pekan. Adakan setiap dua hari sekali atau saat akhir pekan. Tidak harus semuanya membaca, bisa salah satu anggota membaca, sementara yang lainnya mendengarkan. Kegiatan ini bisa diselingi dengan berdiskusi.

Ada ungkapan, rumah tanpa buku ibarat tubuh tanpa jiwa. Selingi dengan agenda diskusi mengulas buku, sesuai dengan kemampuan usianya dalam menceritakan kembali isi buku. Kegiatan ini sangat efektif untuk menanamkan budaya baca sekaligus menumbuhkan daya kritis. Kebiasaan lekat dan dekat dengan buku dapat mereduksi masalah krusial bangsa seperti merosotnya nasionalisme, menguatnya radikalisme, dan meningkatnya kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan bullying.




Banyak manfaat menghadiri pameran buku. Kita dapat melihat betapa banyaknya buku yang ini berarti juga betapa luasnya ilmu. Banyak acara yang bisa kita manfaatkan seperti Islamic Book Fair, Islamic International Book Fair, dan lainnya. Selain menambah pengetahuan dengan bertambahnya buku, kita bisa mendapatkan berbagai pengalaman di perjalanan menuju pameran buku dan selama di tempat pameran buku tersebut.


Yang penting beli buku dulu, bacanya gampang nanti.



Budaya membaca keluarga mendukung keluarga untuk membangun literasi informasi. Sebuah kemampuan yang sangat diperlukan pada masa sekarang ini.Kemudahan teknologi membawa pengaruh berupa banjir informasi, kadang merupakan hoaks atau berita bohong.

Laporan http://dailysocial.id di Agustus 2018 menyebutkan, dari 2032 responden 44,19 persen mengaku tidak memiliki kebiasaan mendeteksi hoaks. Informasi hoaks paling banyak ditemukan di Facebook  82,25 persen, Whatsapp 56,55 persen dan instagram 29,48 persen.

Saat ini kita dihadapkan pada masalah rendahnya minat baca. Data survei Perpustakaan Nasional 2017 rata-rata durasi orang indonesia membaca buku 30-59 menit per hari, frekuensi membaca buku tiga hingga empat kali per minggu dan buku yang kita makan hanya lima hingga 9 buku per tahun.



Berdasarkan hasil penelitian Central Connecticut State University pada 2016 mengenai 'Most Literate Nations in The World", Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari total 61 negara terkait minat membaca. Minat membaca masyarakat Indonesia berada pada angka yang miris sekali, yaitu 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu.

We Are Social menyebutkan 130 juta pengguna internet adalah pengguna aktif media sosial. Durasi orang Indonesia mengakses internet 8 jam 51 menit, sementara berkecimpung di sosial media dengan berbagai perangkat hingga 3 jam 23 menit.



Sekarang menanam, esok menuai. Bangsa ini optimis maju dengan tumbuhnya budaya literasi bangsa yang dibangun dari kesadaran literasi keluarga. Sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, keluarga merupakan bagian dari Tripusat Pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. 


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Joanna Sikora dalam Scholarly Culture: How Books in Adolescence Enhance Adult Literacy, Numeracy and Technology Skills in 31 Societies dan dipublikasikan dalam Social Science Research, mengatakan bahwa:


”Remaja yang terbiasa melihat, dan membaca buku di rumahnya sejak kecil akan memiliki jiwa kompetensi kognitif jangka panjang yang mencakup kemampuan membaca, berhitung, dan teknologi informasi komunikasi.
 

Pelibatan keluarga telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2017 yang mendasari bahwa keluarga harus serta terlibat dalam proses pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah.

Pada akhirnya, budaya literasi keluarga (BuLiKe) mendorong dan menyokong terciptanya Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang mendukung majunya pendidikan bangsa.

* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog apresiasi
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Sumber bacaan: 





https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900563



Buku Saatnya Bercerita karya Sofie Dewayani dan Roosie Setiawan


Buku Didiklah Anakmu Sesuai Zamannya karya Nyi Mas Diane Wulansari.
 

No comments for "Menghidupkan Perpustakaan Keluarga, Membangun Budaya Membaca"