Sore ini saya mengajak jalan-jalan si bungsu. Kali ini saya menghindari keramaian jalan raya atau alun-alun kebangsaan daerah saya, yang sedang molek, menyambut ulang tahunnya yang hampir dua abad itu.

Di salah satu sudut desa itu, ada pemandangan yang menarik perhatian saya. Takjub saya melihat tumpukan sampah yang elok kelihatannya. Sepertinya sebuah blumbangan atau lobang besar yang disediakan memang untuk penampungan sampah.

Di sekitar sana ada perumahan baru yang hanya siap belasan unit saja. Ada rumah warga tapi agak jauhan dari lokasi blumbangan itu. 



Di pinggir blumbangan itu ada selokan. Meskipun tidak dialiri air tapi mungkin sebagai persiapkan jika memang saluran air sudah dibutuhkan.

Yang menarik, sampah di sana kelihatannya tidak diurus. Kesannya dibuang sembarangan. Tidak ada bak sampah di perumahan itu. Kebetulan saya sempat masuk ke perumahan itu juga. Namun tidak lama, saya keluar perumpamaan itu, dengan sempat menghirup kuat aroma sampah yang menyengat. Sore itu, langit bersemangat menumpahkan muatannya.

Di jalan menuju pulang, saya berpikir, sebetulnya ada bagusnya membuang sampah sembarang. Banyak. Tidak hanya satu dua tapi banyak. Mungkin itu pula yang membuat budaya ini -membuang sampah sembarang- lestari di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Pertama, tidak perlu keluar uang untuk menggaji petugas sampah atau petugas kebersihan. Cukup kita sendiri yang mengambil sampah di rumah lantas menuju pembuangan sampah yang tersedia di alam.

Memang sih, biaya untuk iuran petugas sampah nggak mahal-mahal amat. Di komplek sama misalnya hanya Rp. 30.000. Tapi kan lumayan. Uang segitu bisa buat beli kuota yang dapat 10 Giga tapi 5 giga internet dan 5 giga akses YouTube yang bisa digunakan pada pukul 01.00 - 06.00 itu.

Uang segitu juga bisa buat beli jus, snack, atau ngopi. Memang, kalau ngopi di kafe mungkin cekak atau mepet, tapi kalau buat ngopoli di warung kopi bisa dapat 2-3 gelas. Sisanya bisa buat beli gorengan. Kopi dan gorengan sering menjadi teman yang pas dan melengkapi.

Kedua, rumah jadi bersih.  Sampah tentu membuat pemandangan tidak indah. tentu tidak mau kan rumah kita jadi tidak sedap dipandang? Makanya, buang saja sampah itu di mana saja, yang penting bukan di kita atau rumah kita. Rumah harus bersih dari sampah yang dihasilkan sendiri. Meskipun sampah itu kita yang produksi, jangan lagi sampah itu ada di rumah dan sekitar kita.

Biar saja lingkungan orang jadi tidak sedap dipandang atau aromanya busuk tercium. Yang penting bukan lingkungan kita.

Ketiga, menghemat energi. Ada tempat sampah, tapi jauh. Jaraknya bisa dua atau tiga kali lipat dari pembuangan sampah tadi. Wah, tentunya repot. Kalau ada yang dekat, kenapa mesti pilih yang jauh? Ah ribet.

Tinggal ambil sampah, jalan bentar, atau sekalian bermotor ke mana gitu, lempar sampah kita. Biarin numpuk. Biarin berantakan. Ntar bisa rapi sendiri, kok. Mungkin.

Empat, melestarikan jati diri. Membuang sampah sembarang itu jati diri kita, lho. Cukup dengan fakta bahwa seluruh tempat di Nusantara ini yang juga orang-orangnya buang sampah sembarangan. Dari Sabang sampai Merauke, 34 provinsi, dari dulu hingga sekarang. Apa namanya itu kalau bukan jati diri. 

Di darat, di laut, bahkan mungkin di udara kita buang sampah sembarangan. Pernah, kan, ada paus sperma yang mati pada November 2018 lalu, di dalamnya berisi banyak sampah. Sekitar 5,9 kilogram berbagai jenis sampah. Itu bukti laut kita sudah menjadi tempat sampah maha luas.

Jati diri ini harus dilestarikan. Toh, kita mewarisi dari pendahulu kita, kan? Apakah kita mau memutus rantai warisan jati diri ini, tidak mewariskan ke anak cucu kita? Ah, janganlah. Ini harus diturun temurunkan hingga tujuh turunan dan tujuh tanjakan.

Jati diri ini pula yang membuat kita terkenal hingga di manca negara. Mosok mau menghilangkan kehebatan kita ini. Ntar kita terkenalnya sebagai apa jika salah satu kehebatan kita ini tidak ada lagi.

Lima, memberikan lapangan pekerjaan. Misalnya kepada pemulung. Sampah kita bermanfaat kok. Dari sejumlah sampah itu, pasti ada yang bisa diambil lagi. Yah, walaupun sebagian besarnya bakal numpuk di sana, tapi satu atau dua jenis sampah bisa diambil itu sudah cukup sebagai alasan kalau kita sudah ngasih sesuatu buat orang lain.

Begitupun, kita turut menyumbang andil pada pekerjaan dokter, bidan, atau rumah sakit. Sampah yang dibuang sembarangan bisa menjadi sumber penyakit. Kalau ada yang sakit, berarti kita menghidupkan mata pencaharian orang-orang yang disebut di atas tadi. Dokter jadi ada kerjaan. Bidan jadi didatangi pasien. Rumah sakit jadi ramai.



Secara cerdas, kita sudah ngasih pemasukan kepada mereka. Yang dengan itu mereka menghidupi keluarga mereka. Ada anaknya yang butuh biaya sekolah, pengeluaran rutin rumah seperti listrik, air, konsumsi rumah tangga, atau bisa nyicil buat beli mobil atau nambah mobil. Ringkasnya, mereka tidak nganggur karena tidak ada pasien.



Tuh, berapa banyak lagi yang terbantu dan tertolong dengan buang sampah sembarang ini.

Enam, menyediakan habitat bagi hewan-hewan seperti tikus, kecoak, ular, berbagai serangga, cacing tanah, dan lainnya. Seperti kita tahu, habibat mereka kian habis lantaran dibangun berbagai bangunan dan perumahan. Maka mereka kehilangan tempat tinggal. Padahal mereka butuh juga untuk melestarikan jenisnya. Sekaligus menyediakan makanan bagi rakyat mereka.

Mereka tak perlu susah payah cari-cari makanan ke mana-mana. Manusia baik hati sudah menyiapkannya. Itulah yang mereka butuhkan untuk menafkahi keluarga mereka, membesarkan keluarga mereka yang nantinya beranak-cucu sebanyak-banyaknya.

Nah, banyak kan faedah dari membuang sampah sembarang ini? Maka kiranya dapat menjadi pertimbangan untuk mempertahankan jati diri ini. Jangan sampai kehilangan jati diri yang dianggap 'baik' ini. Lestarikan, pertahankan!

0 Comments