Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Abu Bakar Yang Memuntahkan Makanan Dari Perutnya




Abu Bakar, selain terkenal dengan kejujurannya, masyhur pula dengan komitmen hanya memakan makanan yang jelas kehalalannya.

Dalam buku kisah-kisah Indah Rasulullah Bersama Asma binti Abu Bakar oleh Syaikh Musthafa Muhammad Abu Al-Ma'athi, diceritakan kehati-hatian Abu Bakar dengan yang dimakannya.

Suatu malam, Abu Bakar menyantap makanan yang dihidangkan budaknya. Karena lapar, saat itu Abu Bakar langsung memakan tanpa bertanya dulu.
Setelah makanan masuk ke perutnya, baru Abu Bakar bertanya, makanan dari mana yang dihidangkan itu.

Budaknya menjawab,
"Saat aku masih jahiliah, aku melintas di sebuah kaum dan menjampi-jampi mereka. Lantas mereka memberikan hadiah untukku. Kemarin, aku melintasi tempat mereka lagi. Mereka memberikan makanan kepadaku. Itulah yang kuberikan kepadamu."

"Engkau hampir membunuhku," kata Abu Bakar.

Abu Bakar bahkan sampai memasukkan tangan ke dalam tenggorokannya agar bisa muntah. Namun, tidak berhasil. Lalu dia meminta segelas air. Lantas meminumnya kemudian memuntahkannya sehingga makanan itu keluar dari perutnya.

Sedemikian hati-hatinya beliau Abu Bakar, sosok yang jika keimanannya ditimbang niscaya (pasti) lebih berat daripada keimanan semua lelaki di muka bumi ini, dalam menjaga kehalalan makanannya.

Yah, untuk urusan makanan, kita memang perlu hati-hati. Sebab dari makanan itu akan menjadi darah dan daging tubuh kita. Dari sana akan kita pakai untuk kerja atau melakukan aktivitas lainnya termasuk ibadah.

Jika sebuah pekerjaan dilakukan didasarkan dari hal yang halal tentu akan berkah pula hasilnya.

Langkah berhati-hati dalam mencari nafkah ini di antaranya dengan menghindari korupsi. Korupsi sama saja dengan mencuri. Mencuri? Itu perbuatan haram. Mengambil yang bukan haknya. Merampas bagian orang lain..


Hati-hati dengan uang haram. Tidak berkah menafkahi keluarga dengan sumber yang haram. Itu akan berpengaruh pada keluarga.

Pesan pendahulu kita:
“Jauhi olehmu penghasilan yang haram, karena kami mampu bersabar atas rasa lapar tapi kami tak mampu bersabar atas neraka.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin)

Maka lebih baik sedikit tapi halal daripada banyak tapi haram. Carilah nafkah yang halal serta jauhilah nafkah yang haram juga meragukan atau syubhat.

Banyak. Amat banyak malah, nafkah yang halal.

Binatang yang tanpa akal saja bisa mendapatkan rezekinya. Apalah lagi kita seorang manusia yang dibekali akal pikiran. Tentu jangan sampai kalah dengan hewan.

Buang jauh ungkapan "Jangankan yang halal, yang haram saja susah." Astagfirullah
.. Tentunya ini ungkapan yang salah keliru. Ungkapan yang muncul dari sosok-sosok yang sudah putus asa mencari kerja.

Sebab, nyatanya pekerjaan di dunia ini bejibun banyaknya.

Cobalah lihat di sekeliling kita, ada banyak orang yang bekerja dengan rezeki masing-masing. Ada yang jadi pemilu, tukang parkir, satpam, pedagang, buruh pabrik, petani, pekerja kantoran, pegawai bank, polisi, guru, dan lainnya.

Yang penting tetap bekerja, meskipun bukan pekerjaan tetap.

Selalu ada rezeki bagi yang berusaha. Kata orang rezeki kita tidak akan tertukar dengan yang lainnya. Hanya kita tinggal mau atau tidak menjemputnya.



Post a Comment for "Kisah Abu Bakar Yang Memuntahkan Makanan Dari Perutnya"

Berlangganan via Email