Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Momen Meng-input Nilai dan Kerumitan Serta Dilemanya


Tahap terakhir bagi guru dalam proses pembelajaran satu semester adalah memberikan nilai rapor. Yang sekarang ini dilakukan dengan memasukkan nilai di aplikasi dapodik. Dilakukan menggunakan komputer.

Guru memilihkan sejumlah nilai karakter dengan pilihan sangat baik, baik, cukup, dan kurang. Lalu memasukkan sejumlah deskripsi kompetisi dasar. Sebetulnya sudah tersedia. 

aplikasi mengizinkan maksimal 60 karakter. Sedikit sekali. Biasanya guru harus menghapus banyak kata atau kalimat sampai kalimat dalam kolom berwarna hitam. Bagi yang pertama mengisi, akan jengkel karena sudah menghapus beberapa kata atau huruf tetap saja kolom itu berwarna merah.
Setelah itu, guru menginput nilai berupa angka-angka. Ada dua nilai yaitu nilai pengetahuan dan nilai keterampilan. Unduh dulu format pengisian. Nanti bisa diisi secara offline. Setelah diunduh, kita mengisi nilai diaplikasi excel.

Di nilai pengetahuan, ada lima kompetensi dasar (KD). Operator mengajarkan trik yang juga digunakan di sekolah lain. Setiap KD minimal dua kali penilaian. Ada lima KD. Nilainya disamakan. Jika dalam satu kelas ada 30 siswa, dalam satu mata pelajaran ada 30 siswa x 2 penilaian x 5 KD = 300 angka.

Itu kalau satu kelas. Kalikan dengan jumlah kelas yang diampu jika lebih dari satu kelas. Semester ini, saya menginput 4 kelas. Dengan jumlah siswa yang berbeda tentunya. Matematika wajib kelas X IPA dan IPS, Matematika peminatan kelas X, Fisika kelas XI IPA, dan lintas minat Fisika kelas XI IPS.

Banyak bukan? Tapi tidak berat juga. Toh, kata saya tadi, bisa copy paste.
Setelah itu, guru mengecek apakah nilai sudah masuk atau belum. Jika sudah, lanjut ke tahap berikutnya yaitu mengirimkan ke aplikasi dapodik.

Tahap terakhir, kita cek apakah penginputan nilainya sudah tidak ada masalah. Caranya pilih menu cek status nilai. Jika nilai mata pelajaran kota terceklis warna hijau, berarti penginputan kita sukses. Kita bisa menarik nafas lega. Ucapkan Alhamdulillah.

Sebetulnya tidak rumit. Hanya membutuhkan ketelitian. Sebab langkahnya cukup banyak. Saya memerlukan waktu dua hari untuk menginput, dengan catatan hanya sampai setengah hari lantaran harus antar jemput anak.

Tiap hari selalu ditemani kopi. Supaya tidak spaneng. Juga sedikit camilan supaya tidak tegang. Jika tidak, pasti menyerah dengan kantuk.

Capek sih iya. Tapi saya dan teman-teman guru lebih dipusingkan dengan memberikan nilai yang tepat untuk siswa. Di sana banyak dilema. Apalagi jika ketemu masalah anaknya rajin, sopan, dan patuh tapi nilainya rendah sementara ada anak yang songong, rajin tidak masuk tapi nilainya tinggi. Hendak dikasih berapa mereka?
Itulah sejumput kisah guru dari berbagai kerumitan lain yang bisa jadi lebih rumit lagi. Menjadi guru merupakan pilihan. Kepala sekolah kami sudah mewanti-wanti jika memang profesi guru bukanlah passion kita, tidak mengapa jika hendak ganti profesi.

Setiap pekerjaan pasti ada punya kesulitannya masing-masing. Jamaknya sesuai dengan imbalannya (gaji/upah). Biasanya semakin berat pekerjaan semakin besar pula gajinya. Jarang ada yang kerjanya enak tapi gajinya besar. Ada sih, pekerjaan yang kipas-kipas lalu dapat uang; tukang sate.

Post a Comment for "Momen Meng-input Nilai dan Kerumitan Serta Dilemanya"

Berlangganan via Email