Perjalanan Liburan 48 Jam Tanpa Gadget



Saya sekadar ingin berbagi cara menjauhkan anak dari gadget. Jika ayah dan bunda kebetulan merupakan orang tua yang ingin mengurangi interaksi anak dengan gadget, kiranya tulisan saya ini bisa menjadi tambahan ilmu.

Sekali lagi, jika ayah dan bunda ingin mengurangi atau menganggap penting anak dijauhkan dari gadget, lho. Sebab mungkin ada orangtua yang tidak mengkhawatirkan intensitas anaknya dengan gadget. Mungkin, kedekatan anaknya dengan gadget sudah tidak mengkhawatirkan.

Pengalaman kami liburan ke Pasuruan selama tiga hari pergi-pulang, anak-anak tak main gadget.

Pertama, sebelum berangkat, lakukan
pengondisikan. Sebelum berangkat anak-anak sudah diwanti-wanti agar tidak ada maen hape selama di jalan atau di rumah saudara. Dijelaskan pula kenapa tidak boleh. Salah satunya bilang kalau main hape di jalan bisa bikin pusing.

"Main hape itu kan nggak bagus ya mas. Apalagi main hape-nya di mobil bisa pusing, lho. Jadi nggak usah main hape di perjalanan nanti ya."

Alhamdulillah, si sulung mengerti. Dan ini penting sekali untuk mengindikasikan adiknya. Biasanya adiknya nurutin sang kakak. Kakak main hape, dia ikut. Kakak rewel, dia tertular.

"Mas Jundi masih ingat, kan kalau masih kecil  sering main hape bisa bikin mata merah?"

"Iya. Masih ingat."

Untungnya, nasihat di beberapa waktu lalu masih terekam baik. Belum lupa. Jadi tinggal menguatkan.

Pengondisian ini dimulai sekitar dua hingga tiga hari sebelum perjalanan. Bisa juga sepekan sebelumnya hari H. Memang sih sedikit efek sampingnya anak akan jadi sering bertanya kapan berangkatnya. Bisa jadi amat sering, tiga atau lima kali bertanya dalam sehari itu.

Kedua, di perjalanan, ajak anak-anak melakukan permainan dan keseruan lainnya. Seperti membaca buku. Jangan yang berat-berat. Komik atau buku bergambar boleh.

Kemarin, kami bawakan buku Rahasia Makanan yang ditulis oleh Tasaro GK, penerbit Dar! Mizan.


beli langsung ke penulisnya. Si sulung senang banget dengan buku ini. Isinya mirip yang disampaikan di video Nusa Rara. Jadinya nyambung. Saat baca buku itu ingat dengan video favorit kakak beradik dan seekor kucing itu.

Keseruan lainnya, kami main tebak koin. Menebak letak koin di tangan kanan atau kiri. Perjanjiannya, kalau mas Jundi benar, dia boleh mencoret tangan saya. Kalau dia salah, nggak diapa-apain. Hehe...

Keseruan lainnya misal main gelitikan, gelut-gelutan, atau makanan. Yah, makanan termasuk  yang punya andil mengusir kebosanan. Bawa yang banyak sebagai cadangan. Karena perjalanan bisa saja membosankan.


Capek main, bisa ngemil sambil duduk. Saat ngantuk datang, lantas tidur nyenyak. Tahu-tahu udah sampai mana. Tahu-tahu sampai tujuan.
Ketiga, di tempat tujuan pahamkan pada anak bahwa kunjungan merupakan momen berkumpul, mengenal, dan bersilaturahmi dengan saudara yang akan jarang ditemui. Karena itu, manfaatkan waktu sebaik mungkin. 

Mereka harus main bareng saudaranya. Mobilan, berenang, tembak-tembakan, ngasih makan ikan, dan lainnya. Ciptakan keakraban dengan saudara. Meski di sana ada salah paham bertengkar hingga nangis itu tak mengapa. Semacam pemanis dalam interaksi bersaudara.

Hal yang terberat adalah kalau ada temannya main hape, bakal minta maen hape juga. Nah di sini perlu adanya kekompakan antar orangtua untuk mengurangi izin anaknya main hape. Syukur-syukur bisa meniadakan.

Apalagi jika anak masih kecil. Dalam buku Didiklah Anakmu Sesuai Zamannya yang ditulis Nyi Mas Diane Wulandari, keluarga Bill Gates, bosnya Microsoft (dulu) dan langganan orang terkaya di dunia, belum mengizinkan anaknya punya hape hingga umur empat belas tahun. Ya, 14 tahun.
American Academy Pediatric (AAP) mengatakan gadget tak boleh diberikan untuk anak di bawah usia 13 tahun.

Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua, namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua (James Baldwin).

Dengan kata lain, perlu ada keteladanan dari orangtua. Kalau mau anak tidak kecanduan, orangtua juga perlu membatasi penggunaan hape. Kan aneh, kalau orangtua melarang anaknya maen hape, sementara dia lebih sering melihat hape daripada anak.

Apakah mengurangi bahkan menghindarkan anak dari gadget sebuah prestasi? Jikalau dikatakan prestasi, mungkin ini prestasi kecil. Dan belum tentu ke depannya anak-anak tetap terhindar dari (kecanduan) gadget. Namun
setidaknya upaya kecil ini merupakan perhatian dan kesadaran tentang memberikan yang terbaik untuk buah cinta.

Dalam kesehariannya, anak kami pun tidak terbebas sepenuhnya dari gadget. Tidak. Tetap pakai. Namun biasanya 5 (lima) menit per hari. Dan bisa sedikit lebih lama kalau kami meleng atau lalai. Hehe... 
Biasanya, hape isteri yang sering dipinjam. Sebab hape saya sering penuh memorinya. Tak bisa sekadar mutar YouTube atau download permainan.

Untungnya isteri saya lebih disiplin dalam urusan ini.

Sebagi penutup, Alhamdulillah selama perjalanan dan silaturahmi di sana anak kami tidak main hape. Eh, ada ding. Hehe... Dalam perjalanan pulang isteri saya memberikan si sulung hape untuk memperdengarkan surat At-Thoriq. Sekitar sepuluh menit dengan beberapa kali ulangan akhirnya selesai pula kegiatan memperdengarkan. Hanya itu.

No comments for "Perjalanan Liburan 48 Jam Tanpa Gadget"