Mengakali Zonasi



Peraturan baru diberlakukan pada program Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019 kemarin.

Peraturan ini
tertuang pada Permendikbud No.51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2019/2020 tentang zonasi.

Semangat pemberlakuan sistem zonasi adalah untuk pemerataan kualitas pendidikan dan
menghilangkan kesan sekolah favorit.
Biasanya sekolah favorit akan dibanjiri peminat sementara sekolah bukan favorit sepi peminat. 

Dengan sistem zonasi, nilai raport tidak lagi menjadi prioritas tetapi jarak rumah ke sekolah yang menjadi prioritas.
Kuotanya jarak sebesar 90 persen, siswa berprestasi 5 persen dan 5 persen di luar jarak.

Karena peraturan ini, banyak siswa yang kecewa lantaran tidak bisa sekolah yang menjadi pilihannya. Padahal dia sangat ingin sekolah yang katanya favorit itu.
Namun ternyata sistem zonasi ini bisa diakali, lho.

Sistem zonasi hanya berlaku pada saat PPDB saja. Dan ini tidak berlaku untuk siswa pindahan. Di beberapa tempat terjadi kasus seperti ini. Jadi agar tetap sekolah di seluruh favorit tapi awalnya terkendala zonasi, sekolah dulu di sekolah terdekat, udah dapat satu semester, ajukan pindah. Bisa.
Trust me, its work!

Praktik Baru, Modus Lama

Sebetulnya praktik seperti ini bukanlah hal yang baru dalam ranah pendidikan. Praktik ini biasa dilakukan oleh oknum orang tua yang ingin anaknya diterima di sekolah tertentu tapi gagal lantaran nilainya tidak cukup.

Untuk menyiasatinya, anaknya disuruh sekolah di tempat lain dulu. Di pertengahan semester anaknya disuruh pindah ke sekolah tadi. Diterima. Tentunya dukungan orang dalam yang kuat dan uang yang tebal.

Sebab, masuk si sekolah favorit itu tidak mudah. Nilai akademiknya harus bagus. Lha ini, guru di sekolah 'singgahan' saja geleng-geleng dengan kemampuan akademik anak itu.

Itulah realita dalam praktik pendidikan kita. Pada ranah pendidikan yang sejatinya mengajarkan kejujuran dan integritas pun bisa menjadi sarang praktik penyelewengan nilai-nilai tersebut.

No comments for "Mengakali Zonasi"