Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Resonansi Kebaikan dari Sang Pahlawan Jamban



Sangat wajar jika orang menginginkan barang yang asli. Tak mau yang palsu. Bahkan mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan barang yang asli.

Namun, tidak demikian dengan Amriatin dan Kiki. Meskipun mendapat yang palsu, cukup membuat mereka terharu. Akhirnya berjalan dengan 'kaki yang lebih bagus lagi' terwujud juga. Walau hanya dengan kaki palsu.

Berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, Amriatin terlahir tanpa telapak kaki. Hingga bertahun-tahun lamanya, Amriatin berjalan dengan sepatu plastik merah yang diberi ganjal dengan kain sebagai alat bantu berjalannya. Hal ini berlangsung hingga Amriatin kelas 4 sekolah dasar.

Tidak jauh berbeda, kondisi ini dialami juga oleh Siti Rizqi Qodariah, panggilannya Kiki. Siswi kelas 5 di SD Negeri di Saruni, Maja-Pandeglang terlahir tidak memiliki kaki. Hingga akhirnya saat dirinya kelas 5 sekolah dasar, datang bantuan berupa kaki palsu untuknya. Sekarang, Kiki tengah belajar berjalan dengan ‘kaki barunya’. Tergambar binar-binar kebahagiaan dari wajahnya kala mencoba berjalan. 


Dalam tulisan ini saya akan menceritakan Kebaikan Berbagi yang dilakukan oleh sang pengantar kaki palsu itu, yaitu Bu Indah Prihanande. Ya, pengantar kaki palsu yang pada akhirnya menjawab impian Amriatin dan Kiki itu adalah Bu Nenda. Sebab, ternyata, tidak hanya kaki palsu saja yang menjadi jalan kebaikan yang dilakukan Bu Nenda, tapi ada banyak lagi. 

Bu Nenda punya dua anak. Anisa Latifadinar (21 tahun) yang saat ini kuliah di kampus di Banten, dan Aisyah Latifadinar (15 tahun) yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah. Saya adalah guru si bungsunya. Nama Bu Nenda sangat terkenal di kalangan guru meskipun bertempat tinggal beda kabupaten. Karena itu, saya tertarik menggali lebih dalam kiprah beliau dalam bidang sosial kemasyarakat di daerahnya. 

Sang Pahlawan Jamban


Bu Nenda mungkin bukan wonder women, tapi bisa menolong banyak orang. Kiprahnya dalam dunia perjambanan membuatnya dikenal sebagai pahlawan jamban. Ya, selain memberikan kebahagiaan lewat kaki palsu, Indah Prihanande juga melakukan proyek kebaikan lainnya dengan membuat ribuan orang bisa buang air besar (BAB) di jamban. Ya, benar. Jamban.

Meskipun bangsa kita telah 74 tahun merdeka, namun masih banyak yang hidup dalam keterbelakangan secara ekonomi dan kesehatan. Bahkan, untuk sekadar memiliki jamban. Zaman now, apa masih ada yang tak punya jamban? Ada. Banyak, malahan. 

Awalnya, Bu Nenda berkunjung ke Desa Parigi di daerah kabupaten Pandeglang, Banten. Untuk membayangkan letak Pandeglang, ingat saja tragedi tsunami Selat Sunda pada penghujung tahun 2018 lalu, yang menewaskan semua personil grup band Seventeen, kecuali sang vokalis. 

Nah, saat berkunjung itu, di perjalanan tercium bau yang tidak sedap. Bau tinja manusia. Sesampainya di sana, ketahuan bahwa masyarakat di sana masih banyak yang masih belum memiliki fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang mamadai. 

Padahal, jamban kan merupakan hal yang urgen. Mereka tak punya jamban. Warga di sana yang buang air besar sembarang (BABS). Di sana dikenal istilah dolbon (modol di kebon).

Padahal, BABS ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sanitasi terburuk setelah India. Sekitar 150 ribu orang Indonesia meninggal akibat buang air besar sembarangan (BABS). 

BABS juga memicu banyak penyakit seperti kolera, muntaber, polio, dan hepatitis A. Belum lagi, sanitasi yang buruk bisa menyebabkan stunting atau kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Jika hal ini dibiarkan, maka kualitas generasi mendatang terancam. 

Inilah kemudian yang menggerakkan hati Bu Nenda untuk totalitas memberikan penyadaran kepada warga tentang bahaya BABS. Dia melepaskan pekerjaannya di Jakarta sebagai direktur di perusahaan keuangan. Dari kerja yang nyaman, ruangan kerja bersih rapi serta gaji besar pindah ke pekerjaan yang penuh risiko, tantangan, dan pengorbanan. Rela berpanas, berpeluh, dan kerepotan lainnya.
Pengorbanan yang tidak remeh. Setelah keluarga bisa diajak kompromi, rekan-rekan kerjanya tidak sedikit yang menyayangkan keputusannya. Namun, tekadnya sudah bulat. 

Meskipun niatnya baik, tidak lantas ajakan Bu Nenda diterima dengan baik pula. Sebabnya, warga sudah terlanjur menganggap hal itu –BABS- merupakan hal biasa, tidak ada yang salah. Mereka telah melakukannya secara turun temurun. 

Ibu Niah, misalnya. Di usianya yang sudah 45 tahun, dia baru merasakan buang air besar (BAB) di jamban. Selama ini, beliau dan hampir semua warga di desanya buang air besar di kebun, sawah, dan ladang. 

Dan kalau malam ingin BAB, mereka harus menggunakan obor atau penerangan lainnya. Harus waspada jika bertemu dengan ular atau binatang berbisa lainnya.

Dia tidak secara sporadis mengatakan bahaya BABS. Untuk bisa mengubah karakter warga, terlebih dahulu masuk ke dunia mereka. Bahkan, Bu Nenda harus mau tinggal bersama mereka, untuk menjalin kedekatan dengan warga.

Kadang, saat tinggal bersama mereka, terpaksa harus ikut kebiasaan mereka. Mau gimana lagi? 

Pendekatan Bu Nenda berprioritas pada ibu-ibu. Mereka diajak arisan jamban. Menyisihkan ribuan demi ribuan untuk arisan. Sampai satu persatu menang arisan yang lantas dibelikan jamban. 

Hal ini dilakukannya kampung demi kampung, desa demi desa. Satu dua orang atau lembaga peduli dengan yang dilakukannya. Ada yang membantu materi atau sekadar dukungan. Satu dua orang relawan anak-anak muda membantunya. Ikut ambil bagian dari kerja sosial itu. Sekarang, Bu Nenda tak sendirian berjuang.



Hari demi hari, bulan pindah ke bulan, tahun berganti tahun. Tak dirasa ternyata sudah 15 tahun lamanya Bu Nenda berjuang dalam perjambanan ini. Masya Allah, sudah sejauh itu Bu Nenda berkiprah.

Sekarang, telah sekitar 10.045 jamban telah terbangun. Sudah 50 ribu jiwa di Banten tidak lagi BABS. 

Kini, warga bisa BAB dengan nyaman di rumah sendiri. Tak lagi buang air besar sembarangan. Jika malam, para ibu tak lagi membangunkan suami untuk mengantar BAB. Desa menjadi semakin bersih, kesehatan pun semakin terjaga.  

Izinkan saya menuliskan satu lagi kisah Berbagi Kebaikan dari Bu Nenda. Kali ini, dari keluarga beliau, tepatnya suaminya. 

Suatu sore, Bu Nenda pulang dari kantornya di Serang, Banten. Sampai di Pandeglang menjelang Maghrib. Di rumah ternyata sedang ada Mbok Kasur. Sang suami bilang, sedari tadi mencari kasur jadul. Supaya Mbok Kasur ada kerjaan. Kasihan, sebab Mbok Kasur ini jauh-jauh dari Serang ke Pandeglang untuk mencari nafkah menjajakan jasa memperbaiki kasur kapuk. Zaman canggih begini, segalanya semakin mewah, maka semakin sedikit yang menerima keahlian Mbok Kasur.





Tapi Bu Nenda dan suami tak sampai hati mengecewakan Mbok Kasur. Dicari segala cara agar Mbok Kasur tak pulang dengan tangan hampa. Pekerjaan selesai, Mbok Kasur ditahan jangan pulang dulu. Selesai Maghrib, akan diantar. Maka, Nenda yang baru saja datang dari Serang, akan balik ke Serang lagi.

Lelah sih lelah. Tapi, membayangkan Mbok Kasur yang mencari nafkah dengan berjalan kaki menelusuri jalan sepanjang terminal Kadu Banen – alun-alun Pandeglang, Cihaseum, Kebun Cau dengan membawa gembolan berat, mengalahkan keletihannya.

Setelah menempuh 90 menit perjalanan, tibalah di rumah Mbok Kasur. Sebuah pemukiman padat.  Rumahnya yang kecil dihuni beberapa orang anak dan cucu.
 
Sambil mengetuk pintu rumah, Mbok kasur setengah berteriak menyampaikan kepada anak-anak nya. "Mbok diantar pake mobil, Mbok diantar pake mobil bagus." Duh...

“Hidup buat apa sih kalau bukan untuk bermanfaat untuk oranglain?” jelasnya dengan semringah. Tak ada beban meskipun jika aktivitasnya sangat padat.

“Sebagai sesama umat memang harus peduli” tambahnya. 

Rupanya, prinsip hidup banyak melakukan kebaikan tidak hanya dimiliki Bu Nenda saja. Sang suami pun mendukungnya. Kerap pula ikut ke lapangan membantu sang isteri. 

Keluarga sudah satu pandangan bahwa berbagi kebaikan menjadi satu hal yang harus ditunaikan. 

“Kadang kasihan lihat ibu banyak kegiatan jadinya sering kecapekan. Tapi terus keinget kalau ibu kerja buat ngebantu banyak orang. Jadinya Ais mendukung banget. Soalnya banyak orang yang kebantu karena kesibukan itu” terang si bungsu. 

Empat Hikmah Berbagi Kebaikan

Setidaknya ada empat hikmah yang bisa kita ambil dari konsistennya Bu Nenda melakukan berbagai kebaikan itu.

Pertama, Kebaikan Itu Beresonansi

Begitulah, kebaikan bisa beresonansi. Dalam fisika resonasi diartikan sebagai ‘ikut bergetarnya suatu benda karena pengaruh benda lain yang memiliki frekuensi yang sama’. 

Singkatnya, kebaikan itu menular. Satu kebaikan bisa menginspirasi kebaikan lainnya. Satu orang melakukan kebaikan bisa diikuti oleh oranglain. Karena itu, saya lebih sepakat kalau kebaikan itu perlu disebar. Bukan dalam rangka pamer atau riya tetapi agar banyak orang yang juga tergerak melakukan kebaikan. 

Berbagi kebaikan adalah hal lain. Pamer dan riya merupakan hal lain lagi. 

Manfaatkan media sosial untuk berbagi kebaikan. Apalagi jika dia punya follower yang cukup banyak. Akan lebih banyak pula orang yang bisa digerakkan untuk melakukan kebaikan. Daripada berisi hal unfaedah di media sosial, lebih baik digunakan untuk kampanye kebaikan. 

Nah, mulai sekarang, jangan ragu-ragu berkampanye kebaikan di media sosial ya. Apalagi action di dunia nyata tentunya. Jangan sampai berhenti menebarkan Kebaikan Berbagi. Agar Kebaikan Berbagi ini tidak berhenti di tangan kamu.

Kedua, Berbuat Kebaikan Merupakan Ivestasi Berkah


Jika mengamati keluarganya, dapatlah kita menemukan kedamaian, kerukunan, dan berkah pada keluarga Bu Nenda. Suasana keluarganya harmonis dan guyup rukun. Meskipun dalam kesederhanaan, suasana bahagia tetap tercipta.


Melihat kedua anaknya yang bager-bageur, sopan santun, berakhlak, rasanya ini merupakan berkah Kebaikan Berbagi yang dilakukan Bu Nenda. Pastinya, tidak satu dua orang yang pernah merasakan kebaikan Bu Nenda melantunkan doa untuk Bu Nenda dan keluarganya. Begitu juga orang yang hanya melihat kisah perjuangan Bu Nenda, sekiranya tak bisa membalas kebaikannya, paling tidak hanya bisa mendoakan.

Ketiga, Menjadi Pribadi yang Dipercaya

Dengan kiprahnya yang banyak membuat perubahan pada masyarakat, Bu Nenda dianggap sebagai sosok yang bisa dipercaya. Tidak sedikit orang atau lembaga yang kemudian menitipkan amanah padanya.

Pada kegiatan kemanusiaan lainnya, mereka banyak memercayakan bantuan kepada Bu Nenda. Kepercayaan merupakan hal yang tidak mudah didapat. Namun Bu Nenda, berkat integritasnya pula, berhasil mendapatkan kepercayaan itu. Hal ini menjadikan Bu Nenda semakin bertanggungjawab pula dengan kepercayaan itu.

Misalnya pada tsunami Selat Sunda itu, banyak bantuan yang dititipkan padanya, lewat lembaganya, maka dengan penuh tanggungjawab ditunaikan pula amanah itu.

Keempat, Hidupnya Dilingkupi Bahagia

Bu Nenda pun mengamini, bahwa pada pekerjaan ini, dia lebih menemukan kebahagiaan. Setiap selesai memberikan kemanfaatan kepada oranglain, rasa bahagia itu semakin bertambah dan bertambah. Inilah kiranya yang dikatakan sebagai hidup berkah itu.

Belasan tahun menebar kebaikan, apakah dia lelah? Katanya, sih, lelah juga. Tapi apakah bosan? Tidak, katanya lagi. Perjuangan menebar kebaikan menurutnya sebagai bentuk perjuangan. Mengumpulkan bekal.

“Alhamdulillah tak pernah. Kami ingin sama-sama berjuang. Bukan saya saja, pun bukan hanya dia saja. Kami ingin merasakan nikmatnya berbagi dan memperjuangkan sesuatu yang bermanfaat secara bersama-sama, agar kebahagiaannya bukan hanya untuk saya seorang, pun bukan untuk dirinya saja.”

*


Seperti Bu Nenda, yang telah menemukan jalan-jalan kebaikannya, kita pun bisa menemukan jalan-jalan kebaikan pula. Jika kita bersedia lebih jeli melihat sekitar, banyak hal yang menuntut kepedulian kita. Banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. 

Tidak menunggu berbuat hal yang besar-besar, bahkan hal kecilpun bisa menjadi jalan kebaikan.  

Membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, menjadi orangtua asuh, membantu korban bencana, memberi makan yang kelaparan, dan lainnya.

Apalagi pada kondisi mewabahnya Coronavirus disease (Covid-19), yang mengakibatkan dikeluarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), work from home, atau karantina wilayah. Orang diimbau untuk di rumah saja. Banyak aktivitas di luaran menjadi semakin berkurang. 

Hal ini memberikan dampak pada banyak orang yang biasanya menggantungkan penghasilannya dari keramaian orang-orang. Ribuan orang terdampak. 

Mulai dari ojek online, pedagang kaki lima (PKL), penjaga toko, pengusaha wisata, tukang bangunan, pedagang keliling, pemilik warung makan, pedagang di pasar, dan lainnya. Banyak pula di antara mereka yang dirumahkan. Tenaga kerja honorer –termasuk guru honorer- kehilangan pemasukan seperti biasanya. Padahal, dari sanalah mereka mengandalkan untuk menafkahi keluarganya. Ada anak dan isteri yang butuh makan.


Atlet Indonesia Lelang Jersey


Wabah pandemi ini benar-benar mengganggu tatanan kehidupan kita. Karena kebijakan di atas, banyak orang yang secara pengeluaran tetap atau malah bertambah, eh tapi pemasukannya tetap atau berkurang bahkan hilang sama sekali. 

Kondisi ini bisa menjadi peluang untuk berbuat kebaikan. Bahkan bisa dilakukan dari rumah saja. Seperti lelang jersey yang dilakukan Wilda Siti Nurfadhilah, atlet voli nasional, yang melelang jerseynya untuk donasi penanganan Corona. Wilda tak sendirian. Bersama puluhan atlet lainnya termasuk atlet bola voli , futsal dan sepak bola melakukan gerakan #lelangjersey sebagai gerakan solidaritas atlet untuk cegah tangkal Corona. 




Dana hasil lelang jersey itu nantinya sebagai pengadaan sembako untuk masyarakat terdampak Corona. Nah, selain bisa mendapatkan jersey dari atlet idola, kita bisa berdonasi pula untuk masyarakat terdampak Corona. Mudah, bukan? Bahkan donasi ini bisa dilakukan dari rumah saja. 



Ini beberapa dokumentasi Dompet Dhuafa Sebar Sembako pada Masyarakat terdampak

Bayar Zakat Di Awal Ramadhan Saat Pandemi


Di masa pandemi ini, membayar zakat baiknya disegerakan. Bahkan bisa dilakukan sejak awal bulan Ramadhan. Memang, biasanya mengeluarkan zakat menjelang berakhirnya bulan Ramadhan atau mendekati awal bulan Syawwal. Namun, tentu kita menyesuaikan kondisi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada pekan lalu mengeluarkan Fatwa Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.

Terkait pemanfaatan harta zakat untuk penanggulangan wabah Covid-19, MUI menyatakan bahwa pemanfaatan harta zakat boleh bersifat uang tunai, makanan pokok, hingga untuk kegiatan produktif. Kemudian, zakat untuk kemaslahatan umum bisa dimanfaatkan untuk penyediaan alat pelindung diri, disinfektan, hingga kebutuhan relawan.

MUI dalam fatwanya juga memperbolehkan zakat fitrah ditunaikan dan disalurkan sejak awal Ramadhan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri. Begitu pula dengan zakat mal yang boleh ditunaikan dan disalurkan lebih cepat tanpa harus menunggu satu tahun penuh.

Seperti diberitakan laman Republika Online, NU dan Muhammadiyah sepakat mengupayakan percepatan pembayaran zakat. Ketua PP NU Care-LazisNU, Achmad Sudrajat menuturkan, PBNU sudah memerintahkan kepada seluruh masyarakat untuk segera mempercepat pembayaran zakat maal dan zakat fitrah. Dia mengatakan, dalam kondisi pandemi sekarang ini, pembayaran zakat di awal memang lebih diutamakan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu), Hilman Latief setuju dengan percepatan pembayaran zakat di awal Ramadhan. Menurutnya tidak ada yang salah dengan percepatan tersebut. Dia juga telah mengimbau untuk segera mempercepat pembayaran zakat. 


Lantas, saya berusaha mencari penjelasannya dari sumber lain. Kebetulan, di perpustakaan keluarga ada buku Al-Umm, Kitab Induk Fiqih Islam #3 yang dikarang oleh Imam Asy-Syafii. Seperti kita ketahui, kalangan masyarakat Indonesia banyak yang menjadikan Imam Asy-Syafii dalam menentukan sebuah masalah. Ringkasnya, banyak orang Indonesia bermazhab Syafii. 

Rupanya, penyegeraan zakat ini dibahas juga pada buku ini. Tepatnya di halaman 54-59. Imam Asy-Syafii membolehkan penyegeraan zakat. Meskipun, di buku ini, alasan yang membolehkannya adalah karena faktor kemiskinan.

Imam Syafi'i berkata, "Boleh bagi wali jika melihat kemiskinan para penerima zakat untuk meminjam demi mereka, dari zakat pemilik harta, jika mereka mau berbaik hati."




Berzakat lewat Dompet Dhuafa bisa dilakukan dengan mudah, dan aman. Bisa dilakukan dari rumah saja. Tentu tidak mengganggu program isolasi diri yang digulirkan pemerintah sebagai langkah antisipasi mengurangi penyebaran wabah Covid-19. Caranya gampang. Tinggal menuju portal donasi Dompet Dhuafa. Kita akan diarahkan pada pilihan donasi baik itu zakat, infak, sedekah, wakaf, atau program lainnya. Pilihannya jelas. Kita bisa dengan mudah melakukannya. Ingin segera berdonasi? 

https://donasi.dompetdhuafa.org/




Oh iya, jangan lupa, di tahun ini segera saja membayar zakat fitrah. Sebagaimana imbauan MUI di atas, bayarkan segera di awal. Kondisi begini, zakat kita sangat berarti. Nantinya, zakat akan disalurkan kepada mereka yang berhak. Masih ingat, kan siapa saja yang berhak mendapatkan zakat fitrah?




Bersama Dompet Dhuafa, Berdonasi Di Masa Pandemi


Wabah pandemi Covid-19 ini harus kita hadapi bersama. Selain menjadi tugas pemerintah, alangkah baiknya semua elemen masyarakat bahu membahu. Untungnya bangsa kita masih memegang erat budaya tolong menolong.

Berbagai gerakan kerelawanan melakukan program-program membantu masyarakat terdampak sosial-ekonomi. Salah satunya adalah yang dilakukan Dompet Dhuafa.

Melalui progam Cegah Tangkal (Cekal) Covid-19, Dompet Dhuafa memberikan bantuan sembako kepada kelompok rentan. Mereka yang termasuk dalam kelompok rentan ini seperti pekerja harian, kelompok lansia, pekerja serabutan, pedagang asongan, dan lainnya.

Mereka menghadapi dilema. Kalau tak kerja, tak dapat penghasilan. Kalau kerja pun, penghasilan tak mencukupi. Sementara, mereka juga harus mematuhi imbauan pemerintah dalam melakukan isolasi diri. Maka, kepada merekalah prioritas sembako itu diberikan.

Selain itu, di bidang kesehatan, Dompet Dhuafa juga melakukan berbagai kegiatan di antaranya pembagian APD untuk tenaga medis di rumah sakit, memasang 1.000 disinfection chamber di tempat umum, pembagian hygiene kit, sosialisasi etika batuk, dan cuci tangan diberikan kepada kelompok rentan, dan penyemprotan cairan disinfektan di beberapa tempat fasilitas umum.

Mari ikut berbagi kebaikan bersama Dompet Dhuafa. Apalagi, sekarang ini bulan Ramdhan. Berbagai bentuk kebaikan bisa dilakukan. Di bulan Ramadhan, setiap amalan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda pula.

Allah Swt juga menyediakan bonus pahala berlipat ganda bagi yang berbuat baik di bulan Ramadhan, “Setiap amal anak adam dilipatgandakan pahalanya. Tiap satu kebaikan, dilipatkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat.” (HR Bukhari Muslim).

Masa pandemi dan bulan Ramadhan merupakan kolaborasi waktu yang sangat tepat untuk melakukan Kebaikan Berbagi. Sebab, sebuah ibadah, akan semakin besar pahalanya di kala waktu yang tepat. 

Tebar kebaikan raih besarnya pahala bersama Dompet Dhuafa semakin mudah dan terpercaya. Dompet Dhuafa (DD) adalah lembaga filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (welas asih/kasih sayang) dan usaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship).

Dalam kurun 1993-2019, Dompet Dhuafa membentang kebaikan ZISWAF Anda kepada lebih dari 21 juta penerima manfaat. Dengan dompetdhuafa.org, kita berarti menyokong berbagai program kebaikan dari Dompet Dhuafa.


Penutup


Pepatah bangsa kita menyatakan ‘urip iku urup’ yang artinya hidup itu nyala. Kehidupan kita hendaknya memberi banyak manfaat kepada sekitar. Mari kita bantu oranglain yang membutuhkan tanpa memandang suku, agama, dan tingkatan ekonomi. #MenebarKebaikan kepada sesama. 

Mumpung kita diberikan kesempatan untuk bisa berbuat baik. Ayo manfaatkan kesempatan ini. Jadikan hidup kita berkah dengan #MenebarKebaikan. Oh, iya, jangan lupa. Seperti yang sudah ditulis di atas, bahwa kebaikan itu bisa beresonansi atau menular, maka ajaklah orang-orang terdekat. Kebaikan Berbagi Jangan berhenti di tangan Anda.


***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


Sumber tulisan


https://donasi.dompetdhuafa.org/bersamalawancorona/


https://republika.co.id/berita/q9e96w327/nu-dan-muhamamdiyah-upayakan-percepatan-pembayaran-zakat

https://lazharfa.org/

Public-Expose-2020-Laporan-Kinerja-Dompet-Dhuafa-Tahun-2019

Buku Al-Umm Kitab Induk Fiqih Islam #3 karangan Imam Asy-Syafii

Wawancara dengan tokoh dan keluarganya


85 comments for "Resonansi Kebaikan dari Sang Pahlawan Jamban"

  1. Sedih saya sebagai org Pandeglang (meskipun cm pendatang) saya baru tahu kisah ini, apa saya terlalu kudet. Astagfirullah. Tapi Masya Allah luar biasa tulisannya. Semoga kebaikan yg kita lakukan seperti senyuman. Ketika kita tersenyum pada seseorang, maka org itu pun akan tersenyum meskipun tidak saling kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Allahumma Aamiin. Memang agak sulit memercayai ini. Tapi gak papa kita jujur untuk kemajuan. Aamiin

      Delete
  2. Luar biasa Ibu Nenda ini, semoga semua amal Ibu Nenda mendapat ridlo Allah SWT. Juga buat Kiki dan Amriatin, semoga semakin percaya diri menghadapi kehidupan mereka.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah, ternyata masih banyak ya orang yang belum punya kamar mandi buat BAB? Saya langsung merasa bersyukur, bisa menikmati kamar mandi sejak lahir. Salut sangat dengan pahlawan jamban, sebab emang enggak semua orang mau peduli soal hal ini. Top abis lah.

    Semoga dengan adanya dompet duafa, akan semakin banyak orang lagi yang dapat merasakan kebaikan dan kenyamanan, walaupun hanya untuk hal sepele kata orang seperti jamban dan tersenyum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Bu. Kayak nggak percaya aja ya. Pada nggak punya jamban. Tapi itulah kondisi sebenarnya.

      Delete
  4. Semoga semangat bu Nenda berbuat kebaikan ke orang banyak dapat menular kepada kita semua, sangat menginspirasi perempuan Hebat ๐Ÿ‘ salam hormat untuk bu Nenda dari saya :) ๐Ÿ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Ya, Bu. Semoga Bu Nenda mendapatkan kesehatan selalu. Agar semakin banyak kiprahnya untuk masyarakat. Aamiin

      Delete
  5. Waaaah Bu Nenda layak ni didaulat menjadi Tokoh Perubahan Republika. Hehehe. Walaupun Indonesia udah jadi negara G20, tetap loh negara ini kekurangan jamban sehat. Serius. Saya beberapa kali ekspedisi ke luar Jawa, seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, itu beneran urusan kebersihan di beberapa wilayah masih jauh dari kata layak. Semangat terus Bu Nendaaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak. Hehe..sulit dipercaya tapi itulah adanya.

      Delete
  6. Wah Bu Nanda ini tingkat kepeduliannya sangat tinggi ya. Bahkan untuk perkara jamban aja sangat peduli. Bahkan saat ini pun masih banyak yang belum punya fasilitas MCK yang memadai. Semoga inisiatif Bu Nanda bisa menjadi contoh bagi yang lainnya, sehingga muncul Bu Nanda yang lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas. Padahal zaman now, perkara jamban aja banyak yang belum punya y. Hehe.

      Delete
  7. Sama kayak di sini. Meskipun dibilang kota, ternyata masih ada orang yang ngga punya MCK kayak. Mau BAB harus ke Sungai dulu. Ya Allaah.. Rasanya ngilu banget hati ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal itu ibarat kebutuhan pokok y, Mbak. Yah, begitulah.

      Delete
  8. MasyaAlloh kebaikan memang selalu menyejukkan hati ya mas, membuat kita menjadi bahagia setelah melakukannya semoga saat wabah ini pun banyak kebaikan bertambah dari kita semua aamiin. Dompet Dhuafa salah satunya menjadi penyalur kebaikan umat yang ingin berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Betul, Mbak. Insyaallah Dompet dhuafa amanah.

      Delete
  9. Suka malu pada diri sendiri. Adik-adik yang memiliki keterbatasan saja masih punya semangat hidup. Semoga Allah senantiasa memberi berkah-Nya kepada orang-orang yang memiliki keterbatasan , aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dipikir-pikir mendalam emang banyak hal yang harus disyukuri dalam hidup kita ya.

      Delete
  10. Semoga bu nenda selalu sehat, aamiin. Kata-katanya bahwa untuk apa hidup jika tak bermanfaat bagi orang lain ini ringan tetapi dapat menampar banyak pihak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Allahumma Aamiin. Ya, Mbak, semoga banyak lagi yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan.

      Delete
  11. Waah sungguh sosok pahlawan yang sebenarnya Bu Nenda ini. Ternyata diluar sana masih banyak ya warga yang belum memiliki jamban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, padahal zaman now kan ya tapi itulah adanya. Banyak yang masih butuh uluran tangan dari kita.

      Delete
  12. Wah kalau BAB di kebun, tanaman kadi subur dong hehe, bcanda mas
    Ga bayangin gmn tuh, tp kl BAB di kali aku pernah
    Salut buat ibu pahlawan Jamban.
    Kalau dompet dhuafa saya kenal sejak lama. Memang makin bagus dan tentunya terpecaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sih. Kalau dari faktor itunya, bang. Kalau banyak ya mungkin malah menebar penyakit. Wah, langganan kali ya abang sama Dompet Dhuafa. Hehe

      Delete
  13. Baru tau ternyata masih ada yang hidup masih belum berkelayakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, zaman now begini ya, masih ada aja. tapi itulah adanya.

      Delete
  14. Di kampung saya juga masih ada yang BAB di sungai, rata-rata generasi tua. Walau sudah dibuatkan jamban di rumah oleh anaknya, tapi masih memilih untuk BAB di sunga. Susah memang mengubah kebiasaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kenapa ya? apakah pola pikirnya? ah, semoga mereka bisa berubah.

      Delete
  15. ya alloh, berkaca2 baca tulisan ini,, bu nenda luar biasa sekali , tingkat kepeduliannya sangat tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak, begitu banyak pengorbanan beliau. Tidak banyak yang mau seperti beliau.

      Delete
    2. masyaalloh, semoga jadi yang terinspirasi dan meniru kebaikan beliau mas,

      Delete
  16. Ada rasa bahagia ketika melihat orang yang dibantu merasa bahagia begitu. Pastinya yang punya kaki baru senang karena sudah bisa mulai berjalan. Dompet dhuafa ini memang bagus untuk dijadikan wadah kita menyalurkan rezeki apalagi sudah mau hari raya nih. Saatnya untuk memberikan zakat fitrah nya yah mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Rupanya itulah kebahagiaan dari kebaikan yang dilakukan. Ya, Mbak. Dompet dhuafa emang terpercaya.

      Delete
  17. Saya terharu, mbak baca kisah-kisah di atas. Semoga makin banyak orang berbuat kebaikan tanpa pamrih. Panjang umur kebaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga semakin banyak yang juga melakukan kebaikan. Aamiin

      Delete
  18. Urip iku urup...hidup untuk memberi nyala pada sekitarnya termasuk kebaikan di dalamnya. Tulisan ini penuh dnegan inspirasi, terima kasih sudah membgaikannya, Mas. Memang kebaikan itu akan menular seperti dengan membagikan kisah penuh inspirasi begini akan menggerakkan yang lain untuk ikut juga berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggeh, Mbak. Hidup harus memberi nyala. Terima kasih atas kunjungannya, Ya Mbak, Semoga banyak yang tergerak dengan kebaikan yang ada di sekitar.

      Delete
  19. Di antara kita memang ada pahlawan kebaikan yang mau terus menebar kasih sayangnya dengan sesama, sesuai kesanggupan mereka. Jadi belajar banyak dari kisah ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Dunia tidak kehabisan orang baik. Ojo leren dadi wong apik, kata pepatah Jawa.

      Delete
  20. Bu Nenda warbiyasah ya perhatian dan telaten hingga warga sekitar sadar kebersihan dan kesehatan. Akhirnya warga punya jamban. Berbuat kebaikan insha allah balik kepada yg berbuat baik. Akan ada saatnya memanen benih kebaikn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Insya Allah yang ditanam akan dituai. Menanam kebaikan akan menuai kebaikan pula.

      Delete
  21. Bu Nenda warbiyasah ya perhatian dan telaten hingga warga sekitar sadar kebersihan dan kesehatan. Akhirnya warga punya jamban. Berbuat kebaikan insha allah balik kepada yg berbuat baik. Akan ada saatnya memanen benih kebaikn.

    ReplyDelete
  22. Luar biasa ceritanya
    Inspirasi dari orang orang yang terbatas tapi masih berbagi kebaikan itu bikin saya malu
    Kebaikan apa yang sudah saya bagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga banyak yang tergerak dengan kebaikan yang disebarkan ya Bang.

      Delete
  23. Bukankah dari pemerintah ada ya mas. Program buat jamban ini. Kok di banten tidak tersentuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kayaknya. Tapi mungkin SDM atau kemampuan yang terbatas.

      Delete
  24. Hebat sekali Bu Nenda. Meninggalkan zona nyaman untuk berbagi. Sedikit bicara, banyak kerja. 15 tahun perjuangan yg nggak main-main

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jarang sekali yang mau melepaskan kenyamanan buat yang malah lebih berpayah-payah.

      Delete
  25. Sampaikan salam hormat saya dengan bu Nenda ya pak guru,
    Masyaallah sekali tebar kebaikan yang dilakukan beliau.
    benar adanya soal ini,
    Ada juga di salah satu kabupaten di Sumatera Utara, entah warganya punya kamar mandi atau gak di rumahnya,
    Jadi ada kaya kamar mandi umum gitu, dan wc yg cuma kek dibatasi dikit doang setengah badan, jadi masih bisa saling lihat juga.
    Jadi para warga nih pada mandi dan nyuci di kamar mandi umum gitu, emang air nya deras karena dekat sungai gitu,
    Kebetulan kalau lagi pulkam ke sumbar dari medan ak lewat sini, beberapa kali pas shubuh selalu singgah di masjid ini, dan selalu liat kamar mandi umum itu ramai oleh warganya..
    Memang lebih baik daripada tidak ada jamban sama sekali, tapi aku penasaran sebenarnya apa d rumah mereka gak ada, sukanya kok di tempat umum gitu hehe
    Lah jadi cerita hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Mbak. Insya Allah disampaikan. Apa pola pikirnya juga kali ya. Nggak susah bikin kamar mandi gitu. Ya semoga banyak yang tersadarkan lagi.

      Delete
  26. terharu dan salut sama semangat bu nenda. Kiki semangat sekali mencoba kaki barunya, ikutan seneng liatnya. memang bener ya kalo kebaikan itu beresonansi.

    ReplyDelete
  27. YA Allah menginspirasi banget cerita bu Nenda ini. Semoga menular kepada kita. Jika kita mau bergerak kita pasti bisa. Walaupun tidak bisa sendiri. Bersama dompet dhuafa kita tetap bisa bebrbagi kebaikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga menular ke yang lain. Ya, Mbak. Lewat dompet dhuafa kita bisa berikan donasi dengan terpercaya

      Delete
  28. Baru tau sy di Banten ada yg blm pnya Jamban pdhal dkt dng pemerintah pusat ya ...semoga program dompet dhuafa benar2 bermanfaat ya kak untuk masy yg membutuhkan terlebih saat pandemi corona spti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak, lho Mbak. hehe,, semoga banyak lagi kebaikan yang ditebarkan. Aamiin

      Delete
  29. 15 tahun perjuangan bukan waktu yang singkat, saya mencoba membayangkan bagaimana tantangan yang dihadapi oleh Bu Nenda, semoga Allah menyiapkan balasan terbaik baginya baik di dunia maupun di surga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Uda. Sudah istikamahlah beliau ini hehe... Aamiin Allahumma Aamiin

      Delete
  30. Ternyata ada darah yang warganya tidak punya jamban. Mereka tuh nggak punya jamban karena nggak punya uang untuk membangun jamban atau memang belum teredukasi, sih?

    Untungnya ada seseorang seperti bu nenda...
    Bu Nenda, dan keluarganya, mereka adalah pahlawan yang sebenarnya meski tanpa ekspose media...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena keduanya, Mbak. Sisi lain kesadarannya kurang, mereka pun tidak banyak biaya untuk membangun fasilitas MCK-nya.

      Delete
  31. Ya Allah, tulisan ini benar- benar berisi dan bergizi. Kebaikan yang dilakukan seseorang bernama Bu Nenda merupakan awal perubahan bagi anak yang membutuhkan. Semoga anak tersebut bisa beraktivitas dengan lancar layaknya seperti kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Allahumma Aamiin. Ya, semoga mereka bisa lebih bahagia

      Delete
  32. MasyaAllah, kisah pahlawan jamban yang berhasil membuatku menitikkan air mata di pagi buta ini. Sungguh, kebaikan itu bisa kita berikan dalam bentuk apa saja. Nyatanya, masih banyak banget sektor-sektor kehidupan bangsa kita yang masih membutuhkan kepedulian untuk terus diperbaiki.

    Sungguh malu, rasa-rasanya aku belum melakukan upaya maksimal yang bermanfaat bagi banyak orang. Semoga Allah bukakan jalan dan mampukan. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jika begitu. Benar, Mbak. Beliau emang luar biasa

      Delete
  33. Terharu baca artikelnya. Perjuangan bu Nenda, 15 tahun ya untuk mengubah karakter warga. Duh...salut banget. Perjuangan tak kenal lelah...Semangat untuk para pejuang lainnya, penebar kebaikan bersama DD...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Luar biasa ya perjuangan Bu Nenda. Semoga beliau diberikan kesehatan yang baik. aamiin

      Delete
  34. Masya Allah. Ini pahlawan sesungguhnya yg gak muncul di televisi manapun. Semoga dibalas surga. Aku inget, di kampung suamiku dulu juga begini. Klo pas mudik mesti nginep tuh. Nah, pagi2 subuh kami kudu keluar ke kota cari pom bensin cuma buat bab. Hihi..

    ReplyDelete
  35. kadang saya iri dengan mereka yang dapat berbagi kemanfaatan untuk orang lain. bisa ringan membantu orang lain tanpa pamrih apapun. inspiratif!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau iri seperti ini, dibolehkan. hehe.. ternyata semua kebaikan ada manfaat tidak langsungnya

      Delete
  36. subhanallah ya Indonesia masih banyak ternyata sanitasi buruknya huhu. salut buat bu nendah 15 tahun berjuang.

    saya setuuju sekali mas supadillah kebaikan memang beresonansi, jadi kita harus siap menyebarkan resonansinya itu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seakan nggak percaya ya, Mbak. Tapi itulah potretnya. Padahal usia kemerdekaan sudah lama. Hehe

      Delete
  37. Masyaallah Bu Nenda luar biasa sekali ya, apalagi perjuangan bikin arisan jamban itu yang harus melakukan pendekatan hingga tinggal di kampung tersebut dan terpaksa melakukan kebiasaan yang sama selama beberapa waktu. Salut sampai 15 tahun berjuang, suami dan anak-anaknya pun mendukung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Banyak pengorbanan beliau. Lama pula dilakukannya.

      Delete
  38. MasyaaAllah, Bu Nenda keren banget. Jadi merasa belum ngasih apa-apa sama orang lain. Sewaktu kecil saya pernah berada di Kampung yang memang masih BABS. Jadi kami biasanya ke kali atau sawah, hehe. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah banyak yang tidak BABS lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak. Salutlah kita sama Bu Nenda. Semoga banyak lagi yang dientaskan dari kemiskinan. Aamiin.

      Delete
  39. Ya Rabb sangat menginspirasi dan menggugah hati k ceritanya. Semoga kita selalu menebar kebaikan pada sesama ya k. Bersama Dompet Dhuafa kita bisa menebar kebaikan meski dari rumah saja. InsyaAlloh selalu amanah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga semakin banyak relawan kebaikan. Aamiin

      Delete
  40. Sangat menginspirasi. Ternyata ada banyak sekali pahlawan di sekitar kita hanya saja memang berjuang dalam sunyi jadi jarang tersorot kamera.Ngomongin soal jamban,sekitar 5 km dari rumah ibuku di Magetan kota juga masih banyak yang jambannya numpang di sungai. Saya sempat gak peraya, ternyata memang benar adanya. Masalah jamban saja ternyata belum tuntas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada juga ya Mbak, sungai jadi jamban terpanjang Hehe..semoag banyak yang akan sadar dengan pentingnya kebersihan

      Delete
  41. Memang program dari dompet dhuafa sangat bagus-bagus. kita sebagai generasi muda harus mendukungnya apalagi untuk orang yang sangat membutuhkan terlebih saat pandemi corona seperti ini

    (BeHangat.Com)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga banyak lagi yang melakukan kebaikan. Aamiin

      Delete
  42. Tempat di mana kita dapat berjuang untuk menebar manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan

    ReplyDelete
  43. Wah mulia sekali yaaa ibu yng telah mengirimkan alat bantu berjalan itu. Semoga ibu itu berkah hidupnya telah memberikan kebahagiaan pada anak tersebut๐Ÿ˜š

    ReplyDelete
  44. Ngga kebayang sama sekali kalau hari gini masih ada aja orang yang belum memiliki toilet sendiri... Semoga kita yang diberi kelebihan bisa membantu yang membutuhkan ya

    ReplyDelete

Berlangganan via Email