Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merindukan Nabi di Mushala Kami

Margo kecil berlari penuh semangat untuk pergi ke mushala. Dia selalu begitu, walaupun sesampainya di sana tidak selalu untuk shalat. Andai setiap waktu bapaknya ada di rumah, dia pasti meminta diajak ke mushala. Namun, hanya di waktu Maghrib dan Isya bapaknya ada di rumah. Pada Zuhur dan Ashar, bapaknya masih di ladang. (Cerpen ini dimuat di Republika, 2 Februari 2020)




Maghrib ini, bapaknya sudah di rumah. Seperti biasanya, Margo yang mengajak bapaknya mengajak ke mushala.

“Pak, sudah azan. Ayo ke mushala,” ajak anak kelas dua SD itu.

“Ayo. Sebentar, bapak ambil peci,” kata Yanto yang lantas meraih kopiah di atas cantolan paku yang ditancapkan di dinding papan rumah. Suara azan maghrib terdengar semakin lantang dari pengeras suara mushala.

Akhir-akhir ini, sebetulnya Yanto enggan mengajak anaknya ke mushala. Tidak lain, sosok Haji Salim yang menjadi alasannya.

Haji Salim sangat cerewet dengan anak-anak yang gaduh di mushala. Tidak jarang, dia memelototi, menegur, berteriak, hingga membentak anak-anak yang ribut di mushala.

Ia garang terhadap anak yang tidak rapi shafnya. Anak yang tidak pakai peci disuruhnya pulang untuk mengambil peci. Makin marah ia saat ada anak lari-larian di dalam mushala.

Kalau Haji Salim marah, barulah anak-anak itu diam, duduk tenang, tak berani ribut lagi atau bersuara. Meskipun mereka diam, tak lama lagi mereka biasanya gaduh lagi. Lupa lagi dengan tatapan galak, teguran, hingga bentakan Haji Salim.

Haji Salim merupakan orang yang ditokohkan di desa. Dia belum haji. Dia ke Makkah untuk umrah.

Namun, warga menyamaratakan haji dengan umrah. Haji Salim sendiri yang berharap dipanggil “haji.” Di beberapa surat undangan pengajian—dia adalah ketua dewan kemakmuran mushala, DKM—ia meminta sekretaris menambahkan huruf “H” di depan namanya.

Margo sudah sampai di halaman mushala. Selesai melepas alas kaki, dia berlari masuk. Di belakangnya, Yanto menyusul dengan hati berkecamuk. Was-was. Dilihatnya Haji Salim bersila di dekat mimbar. Kelihatannya sedang khusyuk berzikir.

Anak-anak sudah ramai. Mengobrol apa saja. Ada yang pukul-pukulan sarung dan lempar-lemparan peci. Jamaah dewasa hanya sedikit. Tiga orang saja.

Lantas jamaah dewasa itu semakin banyak berdatangan, seiring dengan keriuhan anak-anak. Yanto hatinya makin tak keruan.

Akhirnya, apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Haji Salim buka suara. Membentak anak-anak itu.
“Kalian ke mushala mau shalat apa mau ribut? Kalau mau ribut, di rumah sana!”

Ramai suara anak-anak langsung senyap. Hening. Sepenuhnya takut dengan bentakan Haji Salim. Meskipun begitu, keadaan tidak berlangsung lama. Sebentar saja, anak-anak kembali saling berbisik. Lantas, suara-suara meninggi lagi. Hanya beberapa saja yang tetap duduk bersila.

Margo dan Ayik—temannya— juga bercanda. Saling melempar peci satu sama lain. Lalu, mereka kejar-kejaran. Melewati shaf paling belakang. Hampir menabrak jamaah lainnya.

“Margo! Ayik! Diam. Duduk sana!” seru Haji Salim marah.

Di shaf belakang, Yanto mengeluh. Dalam hatinya, ia menyayangkan sikap Haji Salim yang kurang bijak. Tidak bisa memahami karakter anak. Bagaimana pun juga, dunia anak adalah bermain. Mereka tidak mengenal tempat. Bahkan, jika itu di tempat ibadah. Betapa kerasnya kita melarang, anak-anak akan selalu mengulanginya.

Usia anak-anak adalah masa pembelajaran. Harusnya, mushala menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka. Bukannya menjadi tempat yang angker lantaran ada sosok orang tua yang melarang-larang atau membentak.

Betul bahwa beribadah butuh kekhusyukan. Namun, khusyuk itu didapat bukan hanya dari suasana tenang. Bukankah semakin besar pengorbanan, semakin besar pula pahalanya? Kekhusyukan yang didapat dengan susah-payah pastilah mendapat ganjaran yang lebih besar.

Yang penting, anak-anak dibuat dekat dengan rumah Allah. Mereka betah dan nyaman di sana.

Leluasa bermain di sana. Ajari mereka cinta dengan tempat ibadah. Jika sudah cinta, hati mereka akan terpaut di sana. Apalagi, nama mushala ini Baitul Mustaqim. Terpampang di papan besar pada halamannya yang menghadap jalan. Harusnya, mushala itu benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan bagi orang Muslimin. Anak-anak merupakan orang Muslim juga, kan?

Bukan lantas memarahinya yang berarti mengusir secara halus. Akibatnya, mereka akan menjauh dari tempat ibadah. Kesannya, tempat ibadah erat dengan larangan dan bentakan. Kelihatannya, tempat ibadah dekat dengan kejadian yang tidak menyenangkan.

Harusnya Haji Salim tidak membentak-bentak begitu, pikir Yanto. Mau berapa kali diomongi dan dibentak, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka hanya bisa diam sebentar. Setelah itu, mereka kembali dalam dunia mereka, yaitu dunia bermain.

Apa salahnya menegur dengan lembut? Apa terlalu repot mendiamkan dengan cara yang membuat anak-anak tidak tersakiti hatinya?

Jamaah orang tua juga menyaksikan kejadian itu. Di antara mereka saling pandang. Ada yang peduli. Ada juga yang masa bodoh. Dalam hati, sebenarnya ingin menegur Haji Salim. Namun, tidak berani. Sungkan. Mereka tahu tabiat Haji Salim.

Dilarang, dia tidak mau. Di kritik, akan mendebat. Dicegah, semakin marah. Mereka pun tahu, Haji Salim penyumbang terbesar pembangunan mushala. Sepekan kepulangannya dari Makkah, dia menyumbang berpuluh-puluh sak semen dan bahan bangunan lainnya. Jika diuangkan, lebih dari ratusan juta rupiah. Itu pula yang membuat Haji Salim merasa seakan-akan mushala itu miliknya.
Banyak orang bilang, gelar hajinya itu untuk modal nyalon menjadi kepala desa. Di desa itu, gelar haji sangat berpengaruh. Prestisius. Bisa meraup suara banyak. Makanya, Haji Salim ngotot mendapatkan gelar hajinya.
***
Rapat pada malam itu memutuskan, pelaksanaan pengajian bulanan akan mengundang penceramah dari kota. Haji Salim yang mengusulkan nama seorang pencermah kondang, yang juga terkenal dengan guyonnya sehingga bisa membuat jamaah terpingkal-pingkal. Haji Salim menyanggupi akan memberikan amplop untuk bayaran penceramah itu.

“Itung-itung menyumbang untuk kegiatan keagamaan,” katanya tersenyum simpul.
Jamaah bisa mengartikan senyuman itu.
***
Acara yang dinanti datang juga. Pada malam itu, semua warga kampung mendatangi mushala. Rumah-rumah sepi. Keramaian berpindah ke mushala. Semakin ramai dari biasanya. Didominasi warna putih. Ibu-ibu dari berbagai kelompok pengajian memakai seragam yang berbeda-beda.

Tidak ketinggalan, anak-anak yang sedari tadi meramaikan mushala. Pengajian diadakan bakda shalat isya. Namun, mereka sudah datang sejak azan Maghrib. Sembari menunggu dimulainya pengajian, mereka bermain-main. Ada yang berkejaran. Ada yang lempar-lemparan peci dan main suit: gunting-batu-kertas.

Mendadak, dari arah luar terdengar keramaian. Rupanya, sang penceramah sudah datang. Ia dikawal beberapa barisan keamanan, yang terdiri atas para pemuda. Penceramah itu pun masuk ke mushala, membelah jajaran jamaah pengajian.

Sang penceramah itu bernama Kiai Ending. Ia lulusan pondok pesantren kenamaan di Jawa. Kabarnya, beliau sudah hafal Alquran dan banyak kitab. Selesai mondok, beliau kembali ke desanya, mendirikan pondok yang sekarang santrinya berjumlah ribuan orang dari berbagai daerah.
Kiai Ending menyampaikan intisari pentingnya perayaan maulid Nabi.

“Rasulullah SAW adalah sosok yang sempurna. Dalam hal apa saja, perilakunya mengagumkan. Itulah yang harusnya kita teladani. Hanya, ini untuk mereka yang rindu bertemu dengan beliau. Kalau yang tidak rindu, ya tidak apa-apa tidak meneladani beliau.”

Penuturan Kyai Ending enak didengar. Renyah. Mukadimahnya singkat. Tidak banyak dalil yang beliau ketengahkan. Namun, ceramahnya sarat dengan perum pamaan-perumpamaan.

Guyonnya juga banyak. Bagaimanapun, humor dalam ceramah tetap perlu. Ibaratnya pemanis, untuk penyegaran. Ini supaya jamaah tidak bosan atau mengantuk. Meskipun demikian, kadang humor itu akan lebih diingat jamaah ketimbang isi ceramahnya.

Setelah menguat-nguatkan diri, Yanto memberanikan diri bertanya pada Kiai Ending. Dia berdiri, membuat jamaah lain terheran-heran. Tidak pernah ada sejarahnya dalam pengajian mereka ada jamaah yang bertanya. Biasanya, pengajian mirip komunikasi satu  arah.

Tidak pernah ada kejadiannya diskusi dalam pengajian. Namun, kali ini entah apa yang sedang diperbuat Yanto. Untungnya, Kiai Ending tidak marah.

“Nyuwun sewu, Pak Kiai. Saya mau bertanya. Apa tindakan kita kalau ada anak-anak ribut di mushala?”

Pertanyaan Yanto mengundang perhatian banyak jamaah. Yang sibuk mengobrol atau mengunyah makanan, menghentikan aktivitasnya. Haji Salim mengerut. Ia merasa, pertanyaan ini dimaksudkan kepadanya. Semua juga mafhum tentang itu.

“Kanjeng Nabi itu sangat sayang pada anak-anak. Saking sayangnya, beliau sering membawa cucu-cucunya, Hasan dan Husein shalat. Kedua cucunya suka bermain. Saat Rasulullah sedang shalat, keduanya sering mengganggu Kanjeng Nabi. Misalnya, naik di punggung beliau. Mereka bermain kuda-kudaan, tapi hebatnya Kanjeng Nabi tidak terganggu dengan ulah mereka,” jelas Kiai Ending.



“Kanjeng Nabi malah memperlama sujudnya. Sampai kedua cucu kesayangannya itu puas, barulah Kanjeng Nabi menyudahi sujudnya,” sambung dia, “sekhusyuk-khusyuknya Kanjeng Nabi saja, beliau rela diganggu cucu-cucunya, yang bukan hanya ribut atau kejar-kejaran, tetapi juga nemplok di punggung beliau. Siapa yang lebih khusyuk shalatnya dari beliau?”

Jamaah terdiam. Sang kiai melanjutkan kata-katanya.

“Pernah juga beliau mempercepat bacaan shalatnya karena terdengar suara bayi menangis. Apakah Kanjeng Nabi tidak khusyuk karena hal itu? Lantas, siapa lagi yang kita teladani, selain sosok Kanjeng Nabi? Kalau bukan kepada beliau kita becermin, lalu kepada siapa lagi?”

Panjang lebar Kyai Ending memberi penjelasan atas pertanyaan Yanto. Sementara, di sudut mushala, Haji Salim mengerut. Roman wajahnya seperti tersinggung.

“Kalau mereka ribut di mushala, jangan di usir. Daripada mereka mencari pelarian di luar sana, seperti nongkrong di perempatan, main kartu, gitar-gitaran tidak jelas, atau main game di internet. Mending mereka main di mushala.”

Sementara itu, Yanto berpuas diri. Namun, bukan dalam rangka balas dendam atau memberi pelajaran atas Haji Salim. Yang penting, ini menjadi pelajaran bersama.

Dia ingin di mushala mereka juga bisa menghadirkan keteladanan Kanjeng Nabi. Berupaya mencontoh Rasulullah sebisa yang dilakukan. Mewujudkan cinta mereka kepada Rasulullah. ■

Supadilah, bekerja sebagai guru di SMA Terpadu al-Qudwah, Lebak, Banten. Lelaki kelahiran Lampung Utara, 10 November 1987, itu pernah meraih juara II dalam lomba menulis artikel kategori guru pada 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Karyanya yang berupa buku berjudul Menjadi Guru untuk Indonesia.

Post a Comment for "Merindukan Nabi di Mushala Kami"