Percaya Pada Siswa. Sebuah Tanggung Jawab Guru




Tugas guru adalah percaya pada siswa kata Araki Gouta, seorang guru yang ditugaskan di sebuah sekolah yang terkenal dengan kenakalannya. Bahkan, Araki ditempatkan sebagai wali kelas 2C sebagai pusat siswa yang nakal. Padahal, kenakalan dapat dihindari dengan perbanyak aktivitas di sekolah, lho. 

Di hari pendidikan nasional 2 Mei 2020, ada baiknya kita mengupgrade diri kita agar semakin menjiwai peran sebagi guru. Agar kita, sebagai guru, semakin mengenal peran kita dalam mencetak pelajar agar menjadi generasi penerus yang siap memimpin bangsa.

Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan nonton film.

Film ini saya tonton sudah lama. Empat tahun lalu saat jadi pembimbing siswa belajar di kampung Inggris, Pare, Kediri. Tapi sering saya lihat lagi. Ada 11 episode.

Film ini menceritakan, pada sebuah zaman di Jepang, kenakalan siswa sangat besar. Guru tidak diperkenankan memiliki kewenangan untuk mengatur siswa sehingga kenakalan siswa semakin menjadi-jadi.

Tenang saja, Kamen Teacher bukan seperti Kamen Rider atau Satria Baja Hitam yang punya kekuatan super. Hanya, dia sosok yang kuat secara fisik. Dia hanya memakai topeng (Kamen) untuk menutupi identitasnya kala menjalankan tugasnya.

Dinas pendidikan memberikan kebijakan dengan menjadikan sekolah sebagai wilayah bebas hukum. Untuk mengontrol kenakalan siswa dibuatlah project Kamen Rider yang berhak melakukan kekerasan.

Kekerasan untuk menciptakan ketakutan pada siswa, sehingga mereka menjadi penurut.
Araki menjadi di proyek percobaan untuk menemukan format Kamen Teacher yang akan diterapkan menjadi sebuah kebijakan.

Kondisi kelas 2 C sangat brutal. Bukan hanya tidak memperhatikan guru, abai pada guru, bahkan melakukan kekerasan pada wali kelas. Wali kelas sebelum Araki bahkan menjadi gila, tidak tahan dibully oleh siswanya.

Di hari pertama Araki mengajar, dia bahkan menerima lima pukulan dari Kotaro dan satu pukulan dari Kinzo, siswa terkuat di sekolah yang menyebabkannya terlempar lewat jendela kelas.

Namun, Araki tak menyerah dan terus melakukan pendekatan.

Sikap Araki seperti ini tidak lain didasari sebuah kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya seorang siswa pada saat dia akan menyelamatkan siswa tersebut. Sehingga dia bertekad menebus kesalahannya.

Satu persatu Araki menyelesaikan permasalahan yang dialami siswa-siswanya meskipun di antaranya dengan memakai kekerasan karena melibatkan orang luar sekolah.

Araki tak sendiri sebagai Kamen Teacher, tapi ada satu Kamen Teacher lain, justru direkrut dari seorang siswa yaitu Kasunagi.

Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam mendisiplinkan anak. Kasunagi memilih dengan kekerasan sebagai jalannya, dan meyakini ada orang yang memang benar-benar sampah yang yang tidak punya satu kebaikan pun.



Dorama ini sangat cocok buat para guru, untuk menyadarkan bagaimana pendekatan guru kepada siswa. Menurut saya ideal, tapi memang sangat sulit dilakukan.

Bagaimana kekurangajaran siswa dihadapi dengan rasa percaya bahwa mereka memiliki nilai kebaikan.

Untungnya Araki sebagai guru merupakan Kamen Teacher sehingga walaupun mengalami kekerasan dari siswanya dia tetap kuat tetap bertahan. Mungkin kalau bukan di film guru seperti ini sudah pingsan atau babak belur.

Tetap optimis memandang siswa bahwa mereka memiliki kebaikan itulah yang sangat sulit dilakukan oleh guru.

Refleksi Guru


Biasanya guru lekas putus asa dan tak sabaran menghadapi kenakalan anak apalagi anak yang sudah melakukan kekerasan fisik.
Seisi sekolah pun sepakat bahwa anak-anak harus diberikan kekerasan agar mereka nurut. Semua guru Bahkan kepala sekolah pun mengamini akan tetapi Araki berbeda.

Dia bahkan rela babak belur menghadapi siswanya saat melakukan pendekatan dari hati, mengandalkan kekuatan hati untuk mengubah mereka.

Suara guru sepakat tidak mencampuri urusan siswa karena bisa jadi bumerang baginya. Urusan pribadi siswa bukan menjadi urusan guru. Saking takutnya, guru di kelas cuek dengan siswa. Jadi guru di depan hanya membaca buku pelajaran saja seperti bergumam begitu, siswanya sibuk sendiri melakukan entah apa.

Di episode ke-11 sebagai episode terakhir Araki dihajar habis-habisan oleh Misaki, siswa yang telah kembali dari rehabilitasi akibat dulu tak sengaja membunuh siswa lainnya. Misaki melibatkan dua kembar penjahat untuk melenyapkan Kinzo sebagai musuh utamanya.

Berkat tercerahkan sikap Araki yang tak membalas pukulan Misaki, Kinzo pun tak melawan saat dihajar Misaki.
Kekerasan hanya menciptakan rantai kekerasan lainnya.

Pada akhirnya, Araki berhasil diterima oleh semua siswanya, termasuk Kinzo, siswa terkuat di sekolah tadi.  Bahkan cita-cita Kinzo adalah menjadi guru seperti Gouta Araki. Luar biasa.

Meskipun film ini bagus, tapi bukan untuk anak-anak. Jangan ajak menontonnya karena mengandung banyak kekerasan. Banyak adegan pukul-pukulan.

Berlangganan via Email