LWB5LWNbNWFbMqp6NaZ4NGRcN7csynIkynwbzD1c

Tak Sekadar Hal Makanan, Inilah Beberapa Makna Membawakan Oleh-oleh

BLANTERLANDINGv101
8688320526973091213

Tak Sekadar Hal Makanan, Inilah Beberapa Makna Membawakan Oleh-oleh

25 June 2020

Inilah Beberapa Makna Membawakan Oleh-olehHari itu saya ke sekolah untuk pembagian raport. Meskipun saya bukan wali kelas, saya harus hadir. Guru lain pun begitu. Untuk solidaritas dan menunjukkan kekompakan pada orangtua.



Hari beranjak siang saya kemudian ngantuk. Sedang ngantuk berat, hape saya bergetar. Layar menunjukkan isteri menelpon. Ada apa ya? Apa mau nitip dibelikan sesuatu?

Eh ternyata, si sulung yang nelpon. Pastinya meminta cepat pulang.
"Abi kapan pulang?"
"Sebentar lagi, insyaallah."
"Mm... Mas Jundi mau ketemu Abi."

Sejenak saya tidak langsung pede. Bahwa saya dirindukan sama anak.

"Mau ketemu Abi apa mau sesuatu?"

"Mm..mau sesuatu ding."

Oalah. Benar dugaan saya. Si bocah nunggu sesuatu. Oh iya, sesuatu yang dimaksud itu adalah oleh-oleh atau jajanan.

Seperti biasa, kalau saya pergi-pergi, anak selalu minta dibawakan oleh-oleh. Tapi dia nyebutnya sesuatu.

Setiap kali saya baru sampai di rumah saya disambut anak kemudian bertanya apa bahwa sesuatu atau tidak.

Biasanya tidak menyebutkan minta dibawain oleh-oleh apa tetapi selalu menagih ketika saya datang. Satu dua kali saja menyebutkan oleh-oleh apa yang diinginkan.

Yang penting di bawakan oleh-oleh. Baik pergi ke sekolah, atau ke tempat kuliah atau urusan lainnya.

"Mas, Abi besok ke sekolah ya. Mas Jundi di rumah, ya."

"Ya, Abi. Kalau pulang, bawakan sesuatu ya."

"Sesuatu apa, Mas?"

Kami suku Jawa. Berhubung Mas Jundi anak sulung, kami mengajari adiknya, supaya kelak terbiasa manggil kakaknya dengan sapaan mas. Sapaan hormat.

Sekaligus, kami hendak menanamkan pada mas Jundi, bahwa dia sebagai 'mas' punya tanggung jawab sebagai seorang kakak yang mengayomi adiknya.

* *

Ayah bunda,  pastilah pernah kan mengalami perasan seperti yang saya rasakan? sebuah perasaan bahagia ketika anak bersorak riang saat dibawakan oleh-oleh?

Ayah bunda juga pasti sepakat bahwa oleh-oleh bukan sekadar memberikan jajan kepada anak tetapi memiliki banyak makna.

Makna Kasih Kayang


Membawakan oleh-oleh berarti menunjukkan kedekatan antara orangtua. Kedekatan menjadi sebuah faktor yang penting dalam hubungan parenting. Dalam hal ini komunikasi yang dimaksud dalam kedekatan.

Berkomunikasi betapa banyak hubungan orang tua dan anak ditentukan lancar atau tidaknya komunikasi.

Anak yang bermasalah cenderung punya masalah komunikasi dengan orang tuanya.
Itulah mengapa penting membuat dekat dengan anak. Baik secara fisik maupun interaksi.

Manfaat lainnya, lancarnya komunikasi dapat memperlancar penyelesaian masalah. Sebab, komunikasi memang kuncinya penyelesaian masalah. Masalah sebesar apapun jika bisa dikomunikasikan, akan bisa terurai dan terselesaikan.

Sebaliknya, jika komunikasi terhambat, masalah kecil pun bisa membesar dan melebar.

Makna Perjuangan

Saya ke Jakarta membawa bekal uang seadanya. Bahkan di sana cari makan yang terjangkau. Setelah membeli tiket kereta, tinggallah beberapa puluh ribu di dompet.

Saya turun dari kereta saat azan Maghrib berkumandang. Selain berpikir di mana akan shalat, saya juga berpikir akan malam malam di jalan atau di rumah.

Dinginnya kereta, membuat cepat lapar. Itu yang saya rasakan.

Namun, pilihan kedua akhirnya yang saya ambil. Sebab saya ingat harus membayar penitipan motor. Setelah membayar, akan sisa uang dua puluh ribu.

Waktu itu di ATM pun sudah tidak ada lagi uang simpanan. Akhirnya saya pulang setelah shalat di dekat penitipan motor tadi.

Oleh-oleh apa yang bisa saya beli dengan dua puluh ribu? Anak saya suka dengan susu UHT kotak. Maka itulah yang saya beli. Dan saat saya membuka pagar rumah yang berbunyi khas itu, anak-anak segera buka pintu. Menghambur keluar dan memanggil saya. Duh, senengnya. Sekaligus perih di perut dan di dada.

Begitulah,  membawa oleh-oleh merupakan bentuk perjuangan seorang ayah. Dia harus bisa menahan diri dari keinginan lain. Tak selalu ayah punya uang lebih. Sering pula mepet uang di dompet. Namun, demi anak, ditahan pula haus atau lapar.

Melihat mereka bahagia dengan kedatangan ayahnya, luruhlah semua letih. Saat mendengar panggilan senang mereka, menguaplah segala lapar.

Tapi sebaiknya kita pun harus selektif dalam memilih oleh-oleh. Ya, jangan mentang-mentang anak yang minta lantas kita kasih.

Yang terpenting adalah memerhatikan faktor kesehatan. Pilih makanan yang bersih dan bergizi serta mengenyangkan. Hehe...

Biasanya, makanan/minuman yang sering saya bawa adalah yogurt, Yakult, martabak, donat, ayam goreng, susu UHT, agar-agar, dan lainnya.



Makanan mahal belum tentu baik. Maka pilih makanan yang baik untuk anak. Kalau itu, untuk orangtua pastilah sepakat. Dan bisa memahaminya. Tapi yang agak sulitnya, memahamkan anak. Sebab anak biasanya minta yang enak dan menggiurkan.

Nah, pengalaman saya, biasanya saya komunikasikan dulu dengan anak, tentang makanan yang baik, bergizi, dan halal. Awalnya tidak gampang sih. Sebab anak belum bisa mencerna dengan yang disampaikan.

Untungnya, istri juga sangat support.  Justru isteri yang sangat aktif melakukan hal ini. Pendekatan dengan komunikasi yang efektif, tak kenal henti, akhirnya cukup berpengaruh pada anak. Dia bisa paham.

Akhirnya, si sulung justru aktif dengan selalu membaca dan mencari label halal di setiap makanan atau Snack yang saya bawa pulang.  Bersyukur sekali, bahwa apa yang kami tanamkan bisa diingat oleh anak. (*)




BLANTERLANDINGv101
Kata Pengunjung:

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang