Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mimpi Kususun Dari Rumah Susun

 Ada pepatah lama yang saat ini mulai berubah. Dulu berlaku pepatah 'mangan orang mangan asal ngumpul'. Artinya 'makan tidak makan asal kumpul'. Tapi sekarang pepatah itu berubah jadi 'ngumpul ora ngumpul asal mangan'.

 

 Di depan rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) Rangkasbitung, Lebak, Banten

Ya, tempo dulu, kalau bisa satu keluarga besar itu berkumpul. Makan seadanya. Makan apa yang ada. Yang penting satu keluarga bisa berkumpul. Agar setiap saat bisa tahu kabar dan kondisi keluarga serta sanak saudara. Kalau cari pekerjaan atau jodoh,  usahakan yang dekat saja. Jangan jauh-jauhlah.

Tapi sekarang ini, ungkapan ini tak lagi jadi pegangan. Orang menyadari bahwa masing-masing punya rezekinya. Kalaupun rezekinya di tempat nun jauh di sana, tak apa-apa. Yang penting dapat pekerjaan dan bisa makan.

Termasuk mengenai jodoh. Memang, kalau bisa kan dapat jodoh dekat-dekat saja supaya bisa berkumpul dengan keluarga. Tapi namanya jodoh, siapa yang tahu? Biarpun jauh, kalau memang jodoh, ya harus dijalani. Ringkasnya, jodoh dan rezeki merupakan takdir yang harus dijalani.

Ini pula yang saya alami. Saya dan istri sebetulnya bertetangga desa. Saya di Desa Lantak Seribu dan istri di Desa Tanjung Emas. Keduanya desa di kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Keduanya juga merupakan daerah transmigrasi sewaktu dulu.

"Kalau tempat tinggal, gampang saja. Mau tinggal di rumah orang tua sendiri atau mertua gak masalah," kata saya pada istri sebelum menikah. Saat itu saya belum tahu bagaimana rasanya tinggal di rumah mertua.

Dua pekan kemudian, kami berpindah-pindah tidurnya. Tiga hari di rumah istri, tiga hari di rumah saya. Eh maksud saya di rumah mertua dan di rumah orangtua. Saya kira persoalannya semudah itu. Tapi...

Ternyata saya dan istri sama-sama merasa kurang nyaman di rumah mertua. Serba kaku dan tidak enakan. Kami merasa ada wilayah privasi yang harusnya tetap terjaga meskipun di rumah mertua yang dianggap sebagai orang tua sendiri.

Ringkasnya, satu bulan kemudian kami memutuskan berpisah dari orang tua. Kebetulan orangtua punya investasi rumah di tempat lain. Walaupun, jaraknya terhitung sangat jauh. Rumahn itu ada di Banten. Tepatnya di daerah Rangkasbitung, kabupaten Lebak, Banten. Maka menyeberanglah kami dari Jambi (Sumatra) ke Banten (Jawa).

Meskipun orang tua kami berat melepaskan. Tapi orangtua bersikap demokratis. Membebaskan anaknya memilih jalan hidupnya sendiri.

"Supaya lebih mandiri, tak bergantung sama bapak ibu. Biarlah kami merasakan perjuangan membentuk keluarga, menegakkan rumah tangga,"

Orangtua kami pun menyepakati. Akhirnya kami pun berpisah. Dan kehidupan dimulai dari nol.

Rumah Orang Tua, Tapi Kami Mengontrak

Rumah di Banten saat itu masih belum lunas. Masih kredit. Hehe.. sekitar empat tahun lagi lah. Sebenarnya rumah itu tadinya punya orang tua yang mau dikontakkan. Tapi nggak jadi. Akhirnya kami yang mengontrak.

Awalnya orang tua bilang, "Nggak usah ngontrak. Lha wong sama anaknya sendiri kok ngontrak sih?"

Kami menjawab dengan alasan yang sama, "Ya nggak papa Pak. Supaya bisa merasakan perjuangan membayar rumah, merasakan perjuangan berkeluarga."

Lalu kami pun ikut membayar cicilan rumah itu. Meskipun kadang-kadang tidak penuh cicilannya. Masih dibantu orang tua terutama saat pemasukan kurang bersahabat. Hehe..

Meskipun kami sudah membayangkan bakal merih saat hidup mandiri, tapi sangat terasa juga beratnya hidup mandiri.

Kami pun berpikir keras bagaimana mendapatkan pemasukan, mengatur keuangan, menghemat pengeluaran, memilih pembelian barang-barang yang prioritas, investasi untuk anak, hingga mengirimi orangtua.

Di awal nikah kami berpikir keras bagaimana supaya mendapatkan pemasukan. Istri saya jadi dosen di kampus swasta, saya ngajar di sekolah swasta. Untuk menambah pemasukan, istri berjualan susu kedelai, dan jualan online. Sementara, saya nyambi buka les dan percetakan kecil-kecilan.

Dari pemasukan itulah kami mencicil rumah. Bulan-bulan awal terasa berat. Pemasukan setelah dikurangi berbagai pengeluaran, hanya menyisakan beberapa puluh ribuan. Bahkan kadang minus.

Kami semakin mengencangkan ikat pinggang. Istri jadi bendahara yang mengatur keseimbangan keuangan. Mana pos-pos yang perlu ditekankan mana yang perlu dibesarkan.

Waktu bersifat relatif. Kadang berjalan cepat lama, kadang terasa lama. Kalau diingat-ingat di awal emang lama banget lunas itu rumah. Tapi kalau tidak terlalu dipikirkan, dicicil terus eh lama-lama lunas juga. Setelah lima tahun kemudian, akhirnya lunas juga rumah. Kami tak lagi mencicil kredit rumah. Alhamdulillah.

Ilham. Menyusun Mimpi dari Rumah Susun

Hal yang sama saya dapatkan dari pengalaman Ilham, rekan kerja saya. Sempat tinggal beberapa tahun dengan orangtua, pasca dua bulan kelahiran anak pertamanya, dia pindah rumah.

Namun, untuk membeli rumah, dia masih belum punya modal yang memadai. Maka, mengontrak rumah menjadi pilihannya.

Tak mau sembarangan, urusan tempat tinggal, dia ingin memilih yang terbaik untuk keluarga. Ilham telah mencapai informasi ke sana kemari. Harga sewa rumah yang bersahabat, memang menjadi bidikan utamanya. Tapi,  tetap saja kenyamanan menjadi prioritas.

Sampai kemudian, dia mendapatkan informasi adanya rumah susun Rangkasbitung.

"Memang, di awal aku kira namanya rumah susun bakalan sempit dan rame. Pastinya padat. Tapi nggak ada salahnya aku coba. Akhirnya aku datangi kantor pemasaranya," terang Ilham di siang itu.

Ternyata, perkiraannya salah. Rumah susun sangatlah nyaman. Bukan hanya kondisinya yang bersih dan rapi tapi fasilitasnya sangat keren.

"Bayangkan. Ada ruang tamu atau ruang keluarga, dua kamar tidur pula. Satu buat orangtua, satu buat anak-anak dengan kasur bertingkat," katanya lagi.

 

Dapur, kamar mandi, tempat menjemur pakaian, dan rak sepatu pun ada. Barang-barang seperti meja tamu, kasur, lemari, dan lainnya sudah tersedia. Semuanya merupakan kelengkapan yang disediakan untuk fasilitas rusunawa.

Lokasinya pun tak jauh dari tempatnya bekerja. Bisa ditempuh dalam 10 menit saja. Sementara, jarak ke pusat kota sekitar 10 km yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama 15 hingga 30 menit. Tidak jauh pula terdapat stasiun kereta api Rangkasbitung. Benar-benar tempat yang ideal untuknya.

Biaya sewanya pun tidak mahal. Sekitar Rp. 400 ribu hingga Rp. 520 ribu per bulan. Sementara, biaya listrik dan air tergantung pemakaian. Totalnya berkisar antara Rp. 750 ribu hingga Rp. 900 ribu. Dengan pengeluaran sejumlah itu, Ilham yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta masih bisa menabung untuk kehidupan keluarga dan pendidikan anaknya. Dia bermimpi, anaknya bisa menjadi kyai atau tokoh agama. Semoga tercapai. Aamiin.

Dengan menemukan tempat tinggal yang nyaman, Ilham mengaku dapat lebih konsentrasi lagi dalam bekerja. Memberikan kenyamanan bagi keluarga, merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

 

Kehadiran Pemerintah Mewujudkan Sejuta Rumah

 

Rumah susun sewa (Rusunawa) Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) atau Sekolah Menengah Teologi Kristen (STMK) Lahai Roi di Manokwari, Papua Barat.

 

Rumah susun sewa sederhana (rusunawa) merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk masyarakat Indonesia. Pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo menggulirkan program satu juta rumah yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

Sasarannya adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dengan pembangunan rumah yang layak dan terjangkau, diharapkan program ini mampu memperbaiki taraf kehidupan dalam hal pemukiman dan mampu mendekatkan masyarakat dengan pusat aktivitas kesehariannya.

Laju urbanisasi mencapai 4,4 % per tahun. Kebutuhan perumahan di perkotaan semakin meningkat. Sedangkan, ketersediaan lahan semakin langka. Hal yang menyebabkan semakin mahalnya harga lahan, sehingga mendorong MBR tinggal di pinggiran kota yang jauh dari tempat kerja. Maka, program rusunawa ini bisa menjadi salah satu solusinya.

 

    Peresmian Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) di Malang, Jawa Timur

Tak hanya untuk masyarakat umum, rusunawa juga dibangun di kawasan pendidikan atau lingkungan kesehatan seperti kampus, pondok pesantren, atau rumah sakit. Seperti rusunawa untuk para pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hanafie Jambi, rusunawa untuk mahasiswa dan dosen muda serta para karyawan di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor, rusunawa untuk Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) di Malang Jawa Timur, rusunawa Mahasiswa Rintisan Politeknik Teknologi Negeri Bone Sulawesi Selatan, rusunawa Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) atau Sekolah Menengah Teologi Kristen (STMK) Lahai Roi di Manokwari Papua Barat, dan lainnya.

Pembangunan Rusunawa bagi masyarakat berpenghasilan rendah tersebut juga sebagai jawaban atas tantangan besar dalam menghadapi VISIUM Kementerian PUPR 2030, yang salah satunya, adalah pemenuhan Hunian Cerdas (Smart Living).(*)

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Meraih Mimpi Rumah #1 (pertama) yang diadakan oleh Kementerian PUPR. Sumber foto dari dokumen pribadi dan website https://perumahan.pu.go.id

#Hapernas2020
#PUPRSigapMembangunRumah
#Program1JutaRumah
#SigapMembangunNegeri
#DBLFotoHapernas2020

 

 

Post a Comment for "Mimpi Kususun Dari Rumah Susun"

Berlangganan via Email