Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ini yang Membuat Kasus Covid-19 Terus Meninggi


 

 Zona Merah Meluas. KasusCovid-19 di Indonesia pada Agustus-September semakin meningkat. Jumlah terpapar per Selasa (8/9) mencapai 200.035 orang. Sepekan ini, kasus positif selalu di angka 3000-an.

Sebuah angka yang fantastis. Padahal sebelumnya berbagai prediksi mengatakan Juli-Agustus merupakan puncak kasus korona. Tapi rupanya Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda pengurangan atau hilang.

Padahal telah banyak berbagai pemberitaan tentang korban meninggal atau positif.

Sementara, berbagai imbauan telah dilakukan. Lewat televisi, koran, media sosial, dan lainnya. Bahkan banyak instansi yang mengadakan lomba-lomba bertema korona dengan tujuan massifnya edukasi tentang virus yang belum ditemukan vaksinnya ini.

Sebagai catatan, vaksin yang sedang digunakan saat ini masih pada tahap uji coba.

Rupanya berbagai upaya di atas kurang mempan mengurangi kasus korona. Kenapa ya kok tidak berkurang juga kasus korona ini?

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lama. Kita sudah enam bulan lebih merasakan dampak Covid-19. Salah satu pencegahannya adalah dengan membatasi aktivitas di luar rumah.

Namun kebijakan ini ada dampaknya. Dampak yang paling terasa di bidang ekonomi. Usaha-usaha turun omzetnya. Banyak perusahaan yang merumahkan pegawainya.

Negara pun diambang resesi. Akibat aktivitas ekonomi yang lesu. Inilah alasan kenapa tidak diberlakukan lock down sebagai cara memutuskan rantai penyebaran Covid-19.

Kalau lock down, pemerintah harus memikirkan biaya hidup warganya. Kalau kondisinya berlangsung lama, berapa biaya yang harus ditanggung pemerintah?

Padahal, bantuan pemerintah lewat BLT, di masa pandemi ini belum tentu cukup lho untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Misalnya ya, BLT sebesar Rp. 600 ribu per bulan untuk satu KK. Nah, Rp. 600 ribu ini tidak cukup lho untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga. Kebutuhannya lebih dari itu. Pengeluaran keluargaku misalnya ya berkisar Rp 2 juta - Rp. 3 juta per bulan. Kan tidak bisa mengandalkan BLT saja.

Maka, lock down merupakan opsi yang sangat sulit dilakukan. Kecuali, negara kota benar-benar kaya yang dapat memenuhi kebutuhan hidup warganya.

New Normal, Abai Protokol Kesehatan

Lalu pemerintah pun mensosialisasikan new normal. Sebuah kondisi baru yang harus dihadapi sebab sebuah kondisi yang tidak kunjung berubah. Masih pada situasi pandemi, tapi dengan menggunakan berbagai tindakan pencegahan.

Namun, tidak mudah memberlakukan new normal, tidak mudah bagi warga +62 untuk menaati peraturan. Di berbagai tempat bisa dilihat betapa longgarnya protokol kesehatan dijalankan.

Tempat umum ramai tanpa adanya pembatasan sosial. Iven-iven yang menyedot banyak orang mulai marak. Banyak sih yang sudah menaati peraturan, tapi tidak sedikit yang abai dengan anjuran pemerintah.

Car free day memang belum dibuka, tapi lokasinya sudah ramai pengunjung. Arena main di berbagai tempat umum juga ramai pengunjung. Di jalanan sudah mulai macet-macet.

Memang banyak yang memakai masker, tapi yang tidak pakai masker pun tak bisa dihitung pakai jari. Pemerintah daerah tak cekatan mengantisipasi kondisi ini. Mungkin dalam dilema.

Di sisi lain keramaian menghidupkan ekonomi masyarakat. Orang-orang juga butuh makan. Maka antara terpaksa dan tidak peduli sudah tidak bisa dibedakan.

Bosan. Apatis. Mungkin itu yang dirasa oleh mereka yang sudah berkorban menjadi diri agar tercegah penyebaran Covid-19. Namun, melihat betapa mudahnya sebagian orang melanggar ketentuan, bisa jadi makin banyak yang tak acuh lagi. Ini ancaman bagi kondisi masyarakat kita. Kalau sudah tak peduli, bisa jadi loncatan penderita Covid-19 ini semakin banyak dan zona merah semakin meluas.

Post a Comment for "Ini yang Membuat Kasus Covid-19 Terus Meninggi"

Berlangganan via Email