Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Let’s Read Membikin Serunya Berpetualangan Dengan Membaca

"Padahal Mas Jundi mau ke Jambi lho, Abi." celetuk  sulungku tiba-tiba. Saat itu kami sedang duduk-duduk di sofa. Dia dan adiknya sedang main kereta api dan pemadam kebakaran. Eh iya, kenalkan. Sulungku namanya Jundi. Adiknya, si bungsu, namanya Firaz.

"Oh iya? Emang mau ngapain ke Jambi?"

"Mau maem kelapa."

Sontak aku ketawa. Apa? Jauh-jauh ke Jambi hanya mau makan eh minum air kelapa? Lha kalau mau kelapa nggak usah jauh-jauh. Di dekat rumah juga ada. Kami tinggal di Banten. Di sini pun banyak orang jual es kelapa. Hampir tiap pengkolan atau perempatan ada es kelapa.

 Tentu bukan sembarang kelapa yang dia maksud. Ya kali cuma itu.

"Seru di Jambi. Banyak mainan, banyak teman. Bisa ketemu eyang."

 


 Nih kelapanya

Sejak menikah pada 2013 lalu, saya dan isteri memutuskan merantau dari pulau Andalas ke tanah Jawara. Dari Jambi ke Banten. Sementara itu, orang tua masih di Jambi. Tak terasa sudah 7 tahun di Banten. Kami berdua lahir di Sumatra. Sementara, dua jagoan kami lahir di Banten. 

Untuk urusan mudik, kami menyepakati setiap dua tahun sekali. Dengan catatan ada biayanya. Hehe.. Terakhir pulang itu di tahun 2018. Lebaran tahun 2020 ini harusnya kami mudik. Tapi batal karena korona. Demi menjaga kesehatan dan sayang pada nyawa kami lebih pilih memendam kangen pada keluarga. Kami kuat menahan rindu dengan kampung halaman. Tapi tidak dengan si sulung.

Rupanya dia pengen ke Jambi selain jenuh di sini juga karena di Jambi bisa banyak kegiatan dilakukan. Mulai main di kolam rumah, ke sawah, off-road ke ladang, manjat-manjat pohon, makan buah-buahan, panen sayuran, maen robot sama saudaranya, dan lainnya. 


Serunya main bareng temen

Hm, sayangnya kondisi tidak memungkinkan. Korona menghalanginya. Tak usah cari penyakit dengan musuh yang tak terlihat ini. Sebab di jalan tidak bisa dipastikan akan kena virus ini atau tidak. Akhirnya, dengan berbagai cara dijelaskan. Tak perlu berbohong. Jelaskan yang sebenarnya. Termasuk karena hati-hati dengan korona. Untunglah tidak susah menjelaskannya. 

Yah, selain memang korona ini sudah terkenal. Dia nggak sekolah pun karena korona ini. Jadi sudah familiar, lah. Selain itu, dia juga sudah baca tentang korona dari aplikasi Let's Read. Ya, beberapa waktu lalu di sela-sela belajar daring sulung saya dikenalkan dengan aplikasi keren ini. Untungnya, dia sangat suka baca juga dibacakan. Syukurlah, di usia 5 tahun ini dia sudah bisa lancar baca. Untungnya, klop dengan hobi kami yang suka baca juga.

Beruntung istri saya ikut sebuah komunitas ibu-ibu yang semakin memupuk suka baca. Jadinya sering kami baca buku bersama anak. Eh ingat ya. Membaca bersama anak, bukan membaca dengan anak. 

Beda lho antara membaca bersama anak dan membaca dengan anak. Benar, kalau membaca bersama anak artinya ada interaksi atau pelibatan anak dengan bacaan atau dengan kita membacanya.

Sementara kalau membaca dengan anak itu si pembaca membaca buku, anak berada disamping kita, terserah dia sedang melakukan apa. Bisa jadi dia tidak mendengarkan apa yang dibacakan.

Agar anak merasa dilibatkan dengan bacaan itu, caranya kita bisa bertanya tentang bacaan. Bisa dengan bertanya siapa tokoh atau kesimpulan dari bacaan.

Misalnya pada cerita Teman Yang Baik, menceritakan persahabatan antara kacang panjang dengan tomat. Awalnya,  tomat merasa cemburu dengan kacang panjang karena diberikan terali atau lanjaran untuk rambatan.

Di akhir bacaan kita bisa bertanya kepada anak, “Kenapa tomat cemburu kepada kacang panjang?” atau “Apa yang dilakukan kacang panjang sehingga tomat tidak cemburu lagi?”.

 Atau pada bacaan Keajaiban Api yang menceritakan jenis-jenis warna api hingga yang paling tinggi suhunya, maka kita bisa bertanya kepada anak, “Warna api yang paling panas adalah?”

 



Berpetualang Semakin Menyenangkan Bersama Let’s Read

Seorang teman yang mengelola bimbingan belajar usia dini terkejut. Dia lihat ada seorang anak umur 4 tahun yang belum mengenal warna. Belum bisa menyebutkan itu warna apa. Memang sih tidak ada kewajiban mengajarkan aspek-aspek kognitif seperti hafalan. Tapi ini kan mengenal warna. Sesuatu yang rasanya dasar banget. Terus, selidik demi sedikit, ternyata orangtuanya jarang sekali mengajak ngobrol. Termasuk jarang banget mengajak anaknya membaca. Orangtuanya sibuk sendiri. Anaknya jadi pendiam. Bahkan tidak tahu sekadar warna. 

Untungnya anak saya tidak begitu. Dua-duanya nyenengi hati kalau masalah membaca atau yang berhubungan dengan buku. Termasuk si bungsu yang saat ini umurnya 3 tahun sudah bisa mengenal warna, minta macem-macem seperti ngomong minta susu, main sepeda, atau menyebut nama-nama benda. Ya karena sering diajak ngobrol atau dibacakan buku. Si bungsu juga sering dibacakan buku. Walaupun, dia belum tentu ngerti semua yang dibacakan. Tapi satu dua ada yang tahu.

Nah, banyak kan manfaatnya membiasakan membaca. Anak berkembang kognitif dan imajinasinya. Imajinasi ini sangat penting untuk perkembangan otak anak. Imajinasi anak bisa dikuatkan dengan cerita-cerita daerah. 

Salah satu cerita daerah Jambi yang disenangi Jundi adalah hantu pirau. Entah kenapa dia suka. Mungkin ada kata hantu-nya. Jadi semakin menantang begitu. Lain waktu, saya ceritakan dia legenda Malin Kundang. Legenda dari Sumatra Barat. Kebetulan legenda ini sudah terkenal. Eh, kebetulan pula saya kuliah di sana. Jadinya cukup pahamlah bagaimana ceritanya. Maka, berpindah-pindahlah anak-anak dari cerita Jambi, Banten, dan....Jawa. Ya, isteri saya besar di Jogjakarta. Tentunya dia punya banyak cerita Jawa. Meskipun masih didominasi cerita masa lampau.

Tapi tentu saja tidak selalu saya bisa memuaskan dahaga imajinasinya. Sementara, yang namanya anak-anak itu punya banyak energi. Orang tua sudah capek, mereka masih kuat. Nah, untungnya ada aplikasi Let's Read.  Let’s Read ini merupakan perpustakaan digital gratis untuk anak.

Ayo dapatkan pengalaman membaca menyenangkan dengan kehadiran Let’s Read.  Berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Let’s Read ini diprakarsai oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation.

Aplikasi Let’s Read bisa diakses dengan gawai. Hal ini menjadikan anak semakin senang baca. Dengan memanfaatkan teknologi, aktivitas memang menjadi lebih seru. Dijamin, anak senang berlama-lama.

Anak saya suka sekali dengan cerita yang ada di aplikasi Let’s Read. Tentu saja, ada favoritnya. Apa cerita favoritnya? Ada dua bacaan.

Pertama, judulnya Semut dan Roti. Ceritanya, ada seekor semut yang menemukan roti. Roti itu ukurannya besar sekali. Si semut ini tidak bisa membawanya pulang ke sarang. Meskipun ia menarik dengan sekuat tenaga, roti itu tidak bergerak. Dia tidak menyerah. Lalu, dia memanggil teman-temannya. Dengan semangat kerja sama dan gotong royong, akhirnya roti tadi berhasil dibawa ke sarang mereka.


 

Kedua, cerita tentang virus Corona. Tentu saja, ini adalah tema yang sedang ramai dibicarakan. Mas Jundi pun tertarik dengan apa sih Corona itu. Dia baca berulang kami. Rupanya penasaran juga dia dengan virus Corona. Tingkat kesulitan bacaan di angka 2 membuatnya tidak sulit memahami bacaan.

Ada level-level kesulitan pada bacaan-bacaannya. Urutannya tingkat kesulitan 1, 2, 3, 4, dan 5. Paling sulit di angka 5. Maka sesuaikan dengan umur anak untuk memilih bacaannya. Kita juga bisa atur atau pilih jenis bahasa, level bacaan, tema, dan hurufnya.

 Untuk menggunakan Let’s Read, kita tinggal mengunduhnya di alamat berikut. Unduh Let’s Read di sini ya : (https://bit.ly/downloadLR)

 


Terdapat pengaturan untuk pilih bahasa, ukuran teks, dan gaya teks. Tinggal pilih sesuai yang nyamannya.

Let’s Read ini diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017.

 Momen-momen Mengejutkan

 “Abi, lihat ini Mas Jundi punya eksperimen” katanya sambil memamerkan mainan dari kado yang didapatnya dari hadiah gurunya. Oh iya, anak saya saat ini TK A.

Kekagetan saya bukan pada kadonya. Tapi kata ‘eksperimen’-nya itu. Dari mana anak kecil itu dapat istilah eksperimen ya? Hehe.. 

Saya meyakini bahwa ini tidak lain karena rajin baca atau dengar cerita dari buku pula. Lain kali, dia mengejutkan dengan pertanyaannya.

 “Abi, emang kalau batu digosok-gosok bisa keluar apinya?” tanya si sulung sewaktu kami ngabuburit, bakar-bakar koran bekas di depan rumah. 

Di sela-sela menunggu datangnya waktu berbuka, kami ngabuburit di depan rumah saja. Sebab masih dalam rangka isolasi mandiri untuk pencegahan Covid-19.

Untungnya saya lekas ingat. Mungkin si sulung nanya begini, karena ingat buku Rahasia Keajaiban Api. Rupanya masih ingat juga dia dengan isi buku. Namun, untuk mengetes ingatannya, saya uji dengan judul bukunya.

 “Oh, kayak yang dibuku Asal-Asul Api ya, Mas?”

 “Bukan..”, katanya bersemangat, “bukunya Rahasia Keajaiban Api. Kan ada orang yang tidak pakai baju gosok-gosok kayu di batu terus ada apinya.”

Maksudnya tidak pakai baju adalah manusia purba yang kala itu belum mengenal dan mengenakan baju. Syukurlah dia masih ingat.

Memberikan pengalaman langsung yang berkaitan dengan bacaan akan memberikan ingatan yang kuat pada bacaan. Kesimpulan saya, manfaat dari minat membaca adalah bertambahnya pengetahuan, dan bertambahnya kosa kata. Maka, jangan ragu-ragu untuk senantiasa membimbing dan mengupayakan buah hati agar memiliki minat membaca.

Yuk Segera Pakai Let's Read









3 comments for "Let’s Read Membikin Serunya Berpetualangan Dengan Membaca "

  1. Keren ya anak-anak suka baca, buku-buku Lets Read memang mengajak anak bertualang..

    ReplyDelete
  2. iya mbak. eh makasih sudah mampir. wah. seneng banget disinggahi penulis keren...

    ReplyDelete
  3. bang saya mau beli template ini hrg 50rb?

    ReplyDelete

Berlangganan via Email