Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Donor Darah. Mitos atau Medis?

 


Dulu sewaktu donor 1-3 kali saya kena doktrin seorang relawan organisasi kesehatan Mahasiswa. Dia sendiri, walaupun relawan kesehatan, nggak pernah mau pakai kartu donor. "Supaya lebih ikhlas. Ikhlas itu nggak perlu orang tahu".

Sampai pada donor keempat, petugas kesehatan di PMI bilang kartu donor itu buat kontrol, Bang. Supaya kita nggak lupa kapan harus donor lagi.

Sejak itu saya kembali donor dengan membawa kartu donor. Ngulang dari nol. Mirip petugas SPBU.

Saya mulai donor tahun 2008. Nggak rutin sih. Nggak juga tiap tiga bulan sekali.

Hingga sekarang baru 12 kalo donor. Macem-macem pengalaman selama donor. Nggak selamanya orang yang kelihatannya sehat bisa donor. Orang yang badannya kekar belum tentu bisa diambil darahnya. Bisa karena emang nggak memenuhi syarat atau bisa juga karena dia yang takut.

Halangan untuk donor itu kadang kadar hemoglobin nya rendah, tensinya nggak normal. Baik itu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Makanya, pas donor sering ditanya, "Tadi malam begadang nggak Pak?"

Saya juga nggak selalu sukses donor. Meskipun sudah pernah donor. Seingat saya dua kali nggak bisa donor tapi bisa diakali. Meskipun secara medisnya entah tepat atau tidak.

Satu kali tensi saya terlalu tinggi. Penyebabnya saat menuju PMI saya kenceng pakai motornya. Memburu waktu. Sebab sebentar lagi ngajar. Jadi di jalan kebut gitu. Nah, itu penyebab nggak bisa donor. Dikasih waktu sebentar sampai tensinya normal. Nah, caranya begini. Saya beli minuman dingin. Habis itu saya tiduran di mushola rumah sakit. Usahakan sesantai mungkin.  Sekitar sejam kemudian saya kembali ke PMI. Dicek lagi, dan berhasil. Saya donor waktu itu.

Itu kalau tensinya terlalu tinggi. Nah, sebaliknya, ada pengalaman batal donor karena tensi rendah.

Malam itu saya nonton bola. Begadang. Paginya donor. Jadi tensi rendah. Begitu dicek, belum bisa donor.

Saya minta waktu 15 menit.  Trus gimana caranya? Saya lari-lari kecil. Di seputaran rumah sakit. Kebetulan rumah sakitnya sedang sepi. Jadi nggak malu dilihat lari-larian.

Lari, istrihat. Lari, istirahat. Ngos-ngosan lah. Setelah sekitar 20 menit, saya balik ke PMI. Cek lagi, dan alhamdulillah berhasil.

Sebetulnya ini bukan murni saya yang punya ide. Saya dapat juga dari orang..dan ternyata berhasil. Hehe... Ada yang bilang kalau kadar Hb rendah, bisa diakali dengan telur rebus dicampur kecap. Nah. Kalo yang ini saya belum lakukan. Sebab belum pengalaman Hb rendah.

Terima kasih sudah baca. Ini pengalaman saya. Gimana pengalaman Anda? Hehe...

Post a Comment for "Pengalaman Donor Darah. Mitos atau Medis?"

Berlangganan via Email