Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menulis Menyenangkan dengan Metode Psycowriting

Malam ini saya mengikuti sebuah bincang-bincang kepenulisan yang diadakan secara daring. Kalau judulnya sih jagongan literasi. Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk ikut acara ini. Pertama, karena moderatornya Dr Ngainun Naim. Saya sudah lama kenal, beliau walaupun sebatas di media sosial. Kedua, judulnya unik dan menarik yaitu judulnya psychowriting. Judulnya membikin penasaran. Makhluk apa lagi ini? Hehe..

Akhirnya malam ini saya bisa ikut, di tengah  berbagi waktu dengan dua anak saya yang agak rewel, seperti biasanya.

Pematerinya merupakan praktisi literasi yang sudah dikenal nasional, bahkan mendunia. Ketika dikenalkan, gelarnya itu bahkan lebih panjang daripada namanya.  Beliau adalah Dr Muhsin Kalida M.A.M.Pd.

Rahasia tentang psycowriting dikupas oleh pemateri yang merupakan empunya istilah psycowriting.

Jadi, psycowriting itu adalah upaya mengubah orang yang tadinya tidak suka menulis menjadi suka menulis, mengubah orang yang tadinya tidak mau menulis menjadi mau menulis, dan mengubah orang yang tadinya tidak peduli menjadi peduli menulis.

Sosok yang telah puluhan menulis buku ini mengingatkan bahwa sebelum perintah berhijab perintah membaca lebih ada lebih dulu. Maka, bagi seorang Muslim menulis itu wajib hukumnya.

Acara ini dinamakan jagongan (bahasa Jawa) yang berarti duduk santai sambil ngobrol santai pula. Tentunya dipilih nama ini agar suasananya lebih santai.

Motivasi Dr. Muhsin Kalida menulis tidak lain adalah agar buku itu mudah-mudahan dibaca dan dikaji oleh penerusnya termasuk anak dan cucu. Sebagaimana Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali yang masih dibaca dan dikaji banyak orang padahal beliau telah sekian lama wafat.

Dr. Muhsin Kalida membagi teknik sederhana dalam metode psycowriting. Ini juga beliau lakukan saat memberikan pelatihan menulis.

1. Melakukan game terlebih dahulu.

Tujuannya agar menghilangkan peserta fokus dengan kegiatan yang diikutinya. Peserta dibuat merasa enjoy dengan kegiatan yang sedang diikutinya.

Kemudian melakukan teknik memori. Peserta menuliskan benda-benda yang dilihat dari bangun pagi sampai bertemu dengan trainer.

Tulis mulai dari tempat yang awal dilihat.  Jangan pindah ke tempat lain sebelum benda-benda di tempat tadi selesai ditulis.

Jadi, tulis benda apa saja yang ada di kamar.  Kemudian pergi ke kamar mandi. Tulis benda apa saja di sana. Begitu seterusnya sampai menulis benda-benda yang ada di ruangan tempat pelatihan menulis.

Semakin banyak tentu akan semakin bagus.  Tandanya dia punya memori yang bagus. Fan memori yang bagus ini adalah modal yang bagus untuk menulis.

Pernah beliau mendapati seorang peserta yang mampu menuliskan lebih dari 300 kata.

Kemudian dari 300 kata itu diminta mengambil 3 benda yang paling dekat dengannya. Dari 3 benda itu dipilih satu benda yang paling dekat dengannya. Ketika sudah di dapat satu kata yang paling terdekat dengan kehidupannya itulah ide tercepat dan tertepat dalam membuat bahan tulisan. Jadi ide menulis itu harus dekat dengan kita.

"Kalau bisa ya timbulkan perasaan bahwa kalau tidak menulis berdosa dan masuk neraka. Begitu memunculkan semangat untuk menulis" kata Dr. Muhsin Kalida.

2. Menumbuhkan Mood Menulis

Mood menulis itu tidak ditunggu tetapi diciptakan. Alasan mood itulah yang sering membuat orang menunda untuk menulis.

Cara menumbuhkan mood itu itu bisa dimunculkankan dengan membuat suasana yang bikin santai. Duduklah di tempat atau suasana yang disukai. Kalau suka bunga, menulislah di dekat bunga.

Beliau bercerita bahwa diterasnya disediakan lagu yang dapat membuat santai. Beliau menyediakan wi-fi gratis selama 2 jam. Kemudian 1 jam berikutnya dimatikan untuk menulis. Menulis itulah sebagai bayarannya dari wi-fi gratis.

Jadi di rumahnya ramai dengan anak-anak.  Bahkan ada yang sampai tidur berbantal buku.

Katanya, "Nggak apa-apa mereka pakai buku untuk pasaran atau mainan. Minimal mereka cinta buku dulu. Banyak buku yang hilang juga.  Buku yang hilang itu artinya memberikan manfaat dan menemukan pembacanya."

3. Action Menulis

Menulis merupakan kegiatan learning by doing. Kelemahan kita sering kurang percaya diri dengan tulisan sendiri.

Ada tiga kegiatan dalam menulis yaitu membaca, menulis, dan mengedit. Seringkali kita melakukan ketiga hal tersebut padahal ketiganya merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

Jadi kalau menulis, maka menulis dulu. Jangan disambi ngedit.

Kalau punya target menulis 10 halaman maka jangan dibaca dulu sebelum sampai 10 halaman. Kalau mau menulis 5000 kata jangan dibaca dulu sebelum mencapai 5000 kata.

Nah, untuk editing, biasanya beliau bilang jangan disetor ke beliau atau timnya kalau belum diedit sendiri sebanyak 5 kali.

Untuk mengedit, caranya tulisan diprint atau dicetak, lalu dicoret-coret atau diedit sebanyak 5 kali dengan spidol atau pena yang berbeda warnanya supaya kita tahu progres dari tulisan kita.

Akhirnya terjawab penasaran saya tentang jagongan literasi ini. Banyak juga kalimat motivasi beliau yang layak jadi quote. Salah satunya yang saya ingat adalah "Jangan tidur sebelum membaca. Jangan mati sebelum punya karya."

Peserta literasi ini banyak. Dari berbagai daerah. Host Ahmad Fahrudin, M.Pd.I juga supel menghidupkan suasana diskusi. Tidak jarang dibumbui guyon seperti menulis emosi atau emosi menulis. 

Dari jagong literasi ini banyak modal untuk menulis. Tapi itu saja tidak cukup untuk mengantarkan jadi seorang penulis. Sebab kuncinya adalah mulai menulis.

Resume acara ditulis oleh Supadilah, seorang guru di Banten.


6 comments for "Menulis Menyenangkan dengan Metode Psycowriting"

Berlangganan via Email